HAMIL SEBELUM MENIKAH

HAMIL SEBELUM MENIKAH
BAB 55


__ADS_3

Mobil Echa berhenti di depan klinik yang tidak jauh dari butik, mereka berdua keluar dari mobil Adara yang merasakan kepalanya kembali pusing meminta Echa untuk membantunya masuk.


"Kenapa kita tidak ke rumah sakit?" tanya Adara.


"Aku khawatir denganmu, wajahmu terlihat sangat pucat!" jawab Echa seraya memapah Adara masuk ke dalam klinik.


Echa mengantar masuk Adara untuk menemui Dokter yang akan memeriksa kondisi sahabatnya, mereka berdua duduk di depan wanita parubaya dengan jas putih yang dikenakan.


"Ada keluhan apa, Bu?" tanya Dokter Lani.


Adara pun menjelaskan apa yang dia rasakan hari ini, kepalanya tiba-tiba pusing dan juga dia tidak bisa mencium bau makanan tertentu terutama bau daging. Dokter Lani meminta Adara berbaring di atas brankar untuk melakukan USG.


Adara melakukan apa yang di perintahkan oleh Dokter Lani untuk berbaring di atas brankar dan melakukan USG, saat benda menempel di perutnya dia menoleh ke arah monitor walaupun Adara tidak mengerti tapi dia ikut tersenyum saat melihat Dokter Lani tersenyum.


Setelah selesai pemeriksaan mereka bertiga kembali ke meja, Dokter mulai berbicara. "Selamat Bu, anda positif hamil dan memasuki minggu kedua."


Adara dan Echa tampak kaget mendengar ucapan Dokter, mereka berdua seolah tidak percaya apa yang barusan didengarnya.


"Ha-hamil?" ucap Echa yang masih tidak percaya dengan perkataan Dokter Lani.


"Iya. Kandungannya sehat dan kuat," balas Dokter Lani sembari memberikan resep vitamin untuk Adara.


"Apa yang harus aku katakan pada Ayah dan Bunda, mereka akan syok mendengar kehamilan ini!" gumam Adara di dalam hatinya.


"Aku harus memberitahukan Devano soal ini," sambungnya.


Mereka berdua pun meninggalkan klinik dan kembali ke butik, dalam perjalanan Adara tampak melamun Echa yang melihatnya berfikir kalau sahabatnya pasti sedih mendengar ucapan Dokter.


"Ra, jangan sedih. Aku tidak akan bilang dengan siapa-siapa soal kehamilanmu!" ujar Echa seraya menepuk bahu Adara.


Adara menoleh ke arah Echa lalu mengangguk sembari tersenyum, sedih? Ya, Adara sedikit sedih disaat hubungannya tidak direstui oleh orang tua Devano dirinya malah hamil anak dari Devano. Adara berharap adanya bayi di rahimnya Tuan Raka bisa menerimanya dan melupakan permusuhan yang terjadi diantara dua keluarga.


"Echa, antar aku ke Devano!" perintah Adara.


"Serius? Kamu mau memberitahu Devano?" tanya Echa dan di jawab dengan anggukan kepala Adara.


Tanpa basa basi Echa memilih mengantar sahabatnya ke rumah sakit tempat Devano di rawat, sepuluh menit mereka berdua sampai di depan rumah sakit Adara dan Echa pun keluar dari dalam mobil.

__ADS_1


"Adara, aku akan menunggumu disini!" ujar Echa.


Adara pun mengangguk lalu pergi meninggalkan Echa, dia masuk dan menuju ke kamar VIP tempat inap Devano. Dia melihat Arka yang ada di luar kamar dan menghampirinya.


"Arka!" panggil Adara.


Arka yang mendengar namanya di panggil menoleh ke arah Adara, dia tampak terkejut melihat wanita yang cintai Tuan mudanya berdiri tidak jauh darinya.


"Nona!" ucap Arka seraya berdiri dari tempat duduknya.


"Aku mau ketemu ...." Ucapannya terputus saat pintu kamar terbuka dan seorang wanita keluar dari dalam.


Adara menatap gadis yang lumayan cantik dengan balutan kerudung, dia terlihat kebingungan karena baru pertama kali Adara melihat wanita itu.


"Arka, dia ..."


"Halo aku Annisa Ayudia Hermawan calon istri Mas Devano!" ucap wanita itu dengan memotong perkataan Adara.


Deg...! Hati Adara sakit mendengar kata calon istri apalagi calon dari pria yang telah menghamilinya.


Adara melihat Arka mencoba mencari penjelasan maksud dari semuanya tapi yang ditatap malah membuang muka, Arka juga tidak tahu harus menjelaskan apa karena dia tidak ingin ikut campur dengan urusan percintaan majikannya.


"Aku ... Ah, i-iya aku teman Devano," jawab Adara.


"Kamu ingin bertemu dengannya?"


Adara mengangguk.


"Masuklah, aku juga sudah mau pergi."


Annisa pun pamit pada Adara dan Arka lalu pergi meninggalkan keduanya yang masih berdiri di depan kamar, Adara langsung masuk ke dalam kamar Devano ia melihat pria tampan yang tengah duduk di atas tempat tidur, Adara pun menghampirinya.


"Dev!" panggilnya.


Devano menoleh ke arah Adara lalu tersenyum, wanita yang di cintainya kini telah datang, "Aku sudah menunggumu dari tadi," ucap Devano.


Adara hanya tersenyum tipis hatinya masih sakit mengingat jika ayah dari anaknya sudah memiliki calon istri, ingin rasanya Adara berteriak di depan Devano dan memaki-maki laki-laki itu serta memberi tahu bahwa dia tengah hamil anaknya tapi Adara mengurungkan niatnya.

__ADS_1


"Aku tidak bisa hadir di acara pernikahanmu dan Dokter itu," ujar Devano.


"Aku tidak menikah dengan Dokter Syarif, pernikahan kami batal di malam sebelum pernikahan," balas Adara seraya menyentuh tangan Devano.


Devano sangat bahagia mendengar Adara tidak menjadi milik pria lain, itu artinya dirinya memiliki kesempatan untuk mendapatkan Adara kembali.


"Aku bertemu dengan wanita yang bernama Annisa tadi."


"Dia gadis yang dipilih Mommy untuk menjadi istriku!" ucap Devano.


"Di-dia cantik dan cocok untukmu," balas Adara tanpa terasa air matanya menetes.


"Kamu menangis?" tanya Devano.


Tanpa menjawab pertanyaan Devano Adara berlari keluar, Devano berteriak memanggil nama Adara agar berhenti tapi tidak dihiraukan oleh Adara. Arka yang melihat Adara keluar dengan menangis mencoba untuk menghentikan langkah Adara tapi sayangnya Adara juga tidak menghiraukan Arka.


"Adara!" panggil Echa saat melihat sahabatnya keluar dari rumah sakit dengan menangis.


"Antar aku pulang, Cha!" pinta Adara lalu masuk ke dalam mobil.


Tanpa bertanya Echa pun ikut masuk dan melajukan mobilnya. Di dalam kamar Devano mengusap kasar wajahnya, dia tahu saat ini wanita yang di cintainya pasti merasa sakit mendengar dirinya memiliki calon istri.


Saat Evelyn mengenalkan dia dan Annisa tadi pagi dan mengatakan bahwa gadis berkerudung itu adalah calon istrinya, ingin rasanya dia menolak tapi karena dia sangat menghormati Evelyn yang telah menyayanginya dan merawatnya dari kecil hingga besar membuatnya tidak bisa bicara apapun dan menolak perjodohannya.


"Tuan Muda," ucap Arka.


"Apa dia sudah pergi?" tanya Devano dengan wajah sedihnya.


"Iya! Nona Adara sudah pergi," jawabnya.


"Apa ada jalan keluar yang bisa menyatukanku dan dia, disaat dia lepas dari pria lain kini aku yang harus terikat dengan wanita lain!" ujar Devano dengan nada sedih.


Devano mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi Adara tapi nomornya tidak aktif, berkali-kali Devano menghubunginya tapi tetap saja tidak aktif.


"Antar aku ke rumah Tuan Alex!"


"Anda masih belum diperbolehkan untuk turun dari tempat tidur Tuan Muda," Arka mencoba mencegah Devano tapi tatapan tajam Devano membuatnya terpaksa melakukan apa yang diinginkan majikannya.

__ADS_1


Mobil Echa sampai di depan rumah Adara, dia membantu sahabatnya keluar dari mobil dan membantunya masuk ke dalam rumah. Kanaya yang melihat putrinya langsung menghampirinya, "Nak, apa yang terjadi?" tanya Kanaya saat melihat Adara menangis.


Bersambung....


__ADS_2