
Di dalam kamar Adara tengah menangis mengingat Devano yang rela mengorbankan dirinya demi melindunginya dari para penjahat yang sudah menculiknya.
"Aku harus ke rumah sakit," Adara pun keluar dari kamarnya.
Dia pun turun dan mengambil kunci mobilnya, saat ingin keluar dari rumah Alex menghentikan langkahnya.
"Kamu ingin kemana malam begini, kembali ke kamarmu dan istirahat karena besok hari pernikahanmu!" ucap Alex.
"Tidak Ayah, aku harus ke rumah sakit untuk melihat Devano," ujar Adara dan melanjutkan langkahnya.
Alex menarik tangan Adara dan membawanya masuk, Kanaya dan Keluarga besar Handoko yang tengah duduk di ruang keluarga menoleh ke asal suara Alex dan Adara.
"Ayah, Adara mohon ijinkan Adara melihat Devano!" ucap Adara sembari memohon pada Alex.
"Sekali lagi Ayah bilang jangan berhubungan dengan keluarga Hanendra Adara, semua masalah dalam keluarga kita berawal dari keluarga brengsek itu!" teriak Alex yang tidak bisa menahan amarahnya.
Kanaya menghampiri suami dan putrinya yang berada di dekat tangga, "Ada apa ini?" tanya Kanaya.
"Bunda!" ucap Adara sembari memeluk Kanaya.
"Kalian sedang bertengkar karena apa?" tanya Kanaya kembali tapi tidak di respon oleh suami dan putrinya.
"Kenapa harus kami yang menderita Ayah, kenapa bukan Ayah dan Opa yang menerima penderitaan ini. Kenapa harus aku dan Devano yang menanggungnya!" ucap Adara sembari mengeluarkan semua beban di hatinya.
PLAKKK...!!!
Semua orang terkejut karena Alex yang sudah tidak bisa menahan amarahnya langsung menampar pipi putrinya.
"Mas ...."
"Diam Kanaya!" ucap Alex dengan tatapan dinginnya.
"Apa pantas kau mengucapkan kata-kata itu pada orang tuamu hanya karena pria brengsek itu telah berkorban? Apa ini sopan santun yang telah kami ajarkan padamu Adara?" tanya Alex dengan nada tegas.
Alex menarik Adara dari pelukan Kanaya, "Lihat Ayah, Devano pantas mendapatkan itu karena ulah papanya sendiri," ucap Alex.
Tuan Handoko menghampiri putranya dia mencoba menenangkan Alex, "Yang di katakan Adara ada benarnya Nak, orang tua yang telah berbuat kenapa anak-anak yang menanggungnya."
"Bawa Adara masuk ke kamarnya Kanaya, jangan biarkan dia keluar sebelum ijab kabul selesai besok!" perintah Alex.
Kanaya pun membawa Adara naik ke lantai dua dan membawanya masuk ke dalam kamarnya, Adara hanya menangis mengingat senyum terakhir Devano.
"Percayalah! Aku akan selalu melindungimu Adara," ucapan Devano kembali terdengar ditelinga Adara.
Adara dan Kanaya sampai di kamar, mereka pun masuk Adara mencoba memohon pada bundanya untuk bicara pada ayahnya untuk memberikan ijin padanya.
__ADS_1
"Bunda, Adara mohon bicaralah dengan Ayah!" pinta Adara.
"Nak, lupakan Devano besok kamu akan menikah dengan Dokter Syarif!" ucap Kanaya.
"Harusnya aku tidak gegabah meminta Opa dan Ayah untuk menikahkan kami hanya karena ketakutan ku pada Devano, demi menutupi kesalahan yang telah aku dan Devano lakukan Dokter Syarif yang harus menanggungnya lalu apa bedanya aku dengan Ayah dan Opa," ujar Adara.
"Bunda tidak bisa berbuat apa-apa, sayang!" ucap Kanaya sembari memeluk putrinya.
Adara kembali menangis, dia tidak tahu permasalahan apa diantara keluarganya dan keluarga Devano hingga cintanya yang jadi korban dari permusuhan antar dua keluarga.
Adara melepaskan pelukannya pada Kanaya, dia menatap wanita yang telah melahirkannya dua puluh enam tahun lalu.
"Apa aku harus menyakiti perasaan dari empat orang, Bunda? Bukannya setiap orang harus di beri kesempatan kedua?" tanya Adara sembari menghapus air matanya.
Kanaya hanya diam dia tidak tahu harus menjawab apa dengan pertanyaan putrinya, memang benar setiap orang memiliki kesempatan kedua tapi waktunya yang tidak bisa membuat kesempatan kedua itu terwujud.
"Bunda tidak bisa menjawabnya kan, jadi biarkan aku sendiri dulu Bunda!" ucap Adara lalu naik ke tempat tidurnya.
Kanaya pun meninggalkan putrinya dia keluar dan menutup pintu kamar Adara, dia turun dan kembali ke ruang keluarga bergabung bersama dengan keluarga lainnya.
****
Adara menghubungi ponsel Devano tapi tidak aktif dia sangat gelisah mengingat kondisi pria yang telah mengorbankan nyawanya yang sekarat.
"Kakak, aku harus meminta bantuan dengan Kak Kavin!" gumam Adara.
Tidak lama Kavin pun datang ke kamar adiknya, dia duduk di tepi tempat tidur Adara.
"Apa yang bisa aku bantu?" tanya Kavin.
"Kakak punya nomor Arka, aku ingin menghubunginya." Jawab Adara.
"Untuk apa?"
"Aku ingin mengetahui keadaan Devano, aku telah menghubungi ponselnya tapi tidak aktif."
Kavin pun mengutak-atik ponsel lalu memberikan pada Adara, dengan cepat Adara menyalin nomor Arka di ponsel miliknya.
Dia langsung menghubungi Arka tapi tidak ada jawaban, ketika keempat kalinya akhirnya Arka menjawab panggilannya.
"Halo."
"Arka."
"Siapa?"
__ADS_1
"Adara!"
Tut... Tut... Panggilan terputus Akra menutup teleponnya, Adara terlihat sedih sembari mencoba menghubungi Arka kembali.
Tidak ada jawaban dari Arka membuat air matanya kembali menetes, Kavin yang merasa kasihan pada adiknya langsung memeluknya mencoba menenangkan Adara.
"Aku yang akan ke rumah sakit untuk mencari informasi, sekarang istirahatlah." Ucap Kavin.
Adara pun menuruti perkataan kakaknya, setelah memastikan Adara tidur Kavin pergi meninggalkan kamar adiknya, dia mencoba menghubungi Arka tapi tidak ada jawaban.
Kavin pamit keluar pada keluarganya dengan alasan yang tidak mencurigakan terutama pada ayahnya, Kavin masuk ke dalam mobilnya lalu meninggalkan kediaman keluarga Handoko.
Dia kembali menghubungi Arka untuk mengetahui di rumah sakit mana Devano di rawat, berkali-kali dia menghubungi Arka akhirnya di jawab juga.
"Ada apa?"
"Devano di rumah sakit mana?"
"Permata."
Tut... Tut.. Kavin memutuskan panggilannya lalu pergi ke rumah sakit Permata untuk mengetahui kondisi Devano.
Dua puluh menit mobil Kavin berhenti di depan rumah sakit, dia keluar dari mobil lalu masuk ke rumah sakit.
"Suster ruang ICU di mana?" tanya Kavin pada salah satu Suster yang lewat.
"Bapak lurus saja lalu belok kiri," jawab Suster.
"Terima kasih!"
Kavin pun mengikuti petunjuk Suster tadi tak lama ia melihat Arka tengah duduk di depan kamar ICU, dia pun mendekati Arka yang tampak memejamkan matanya.
Mata Arka terbuka ketika Kavin duduk disampingnya, "Apa adikmu yang menyuruhmu datang?" tanya Arka.
"Dia sangat khawatir pada Devano," jawab Kavin.
"Dia tidak perlu mengkhawatirkan pria yang telah menyakitinya, cukup lupakan saja," ucap Arka.
"Aku sudah memperingati Devano untuk tidak melakukan hal yang bisa dibenci oleh keluarga Handoko, tapi dia tetap melakukannya."
Arka tersenyum sembari menatap ke arah Kavin, "Dia mengorbankan cintanya demi melindungi wanita yang dicintainya, tapi tetap saja adikmu membencinya."
"Adara tidak membencinya!" ucap Kavin.
"Lalu apa jika tidak membencinya, dia memilih menikah dengan Dokter itu. Saat adikmu diculik dimana kalian terutama calon suaminya kenapa harus pria yang di bencinya yang datang melindunginya tanpa memikirkan hidupnya!" teriak Arka.
__ADS_1
Arka sudah menganggap Devano sebagai kakak kandungnya setelah kejadian kecelakaan sembilan belas tahun lalu yang menewaskan kedua orang tuanya. Devano membawa Arka yang tengah duduk disamping kuburan kedua orang tuanya saat berumur delapan tahun untuk tinggal di kediaman keluarga Hanendra.