HAMIL SEBELUM MENIKAH

HAMIL SEBELUM MENIKAH
BAB 43


__ADS_3

Kira meremas jemarinya, dia melihat Adara dengan tatapan sedih.


"Apa yang harus aku katakan?" batin Kira.


Echa dan Adara saling menatap, sudah lama mereka menunggu tapi Kira belum menceritakan apapun.


"Kira." ucap Echa.


"Aku menyukai seorang pria diam-diam, dia begitu baik sehingga aku menyukainya. Saat aku ingin mengatakan perasaanku pria itu akan menikah dengan wanita lain," ujar Kira.


Adara memeluk sahabatnya, mencoba menenangkannya.


"Kira berhentilah menangis," ucap Adara.


"Kamu tahu Adara, ini sangat menyakitkan." Kira menangis dalam pelukan Adara


"Hey ... Kira yang ku kenal tidak cengeng seperti ini, dia tidak mudah menangis." Adara melepaskan pelukannya.


"Kau meledekku Adara?" tanya Kira.


"Tidak," jawab Adara. Mereka bertiga kembali berpelukan.


"Maafkan aku Adara, aku tidak bisa memberitahumu siapa pria itu," batin Kira.


Di Inggris, Devano dalam keadaan mood yang kurang bersahabat. Semua pegawainya yang ada di dalam ruangan rapat terkena amarah Devano.


"Apa yang kalian lakukan selama bekerja di perusahaan ini?" tanya Devano dengan suara tegasnya.


Tidak ada jawaban dari para pegawainya, Devano mengebrak meja rapat. "Brakk...!!"


"Rapat di hentikan, aku ingin semua masalah ini selesai dalam satu bulan," ucap Devano.


"Ba-baik pak," jawab pegawai bersamaan.


Devano meninggalkan ruang rapat di ikuti dengan sekertarisnya, wajah Devano merah padam karena menahan emosinya.


Devano membanting pintu ruangannya membuat para sekertarisnya kaget mendengarnya.


"Pak Direktur kenapa?" tanya salah satu sekertarisnya.


"Entah, tidak perlu ikut campur nanti kita bakal kena amarahnya." jawab sekertaris lain.


Di dalam ruangan Devano mengacak rambutnya, ucapan Adara membuat pikirannya tidak karuan.


Ingin rasanya dia kembali ke Indonesia dan menghancurkan pernikahan wanita yang sangat dia cintai, tapi itu sama saja membuat wanitanya menderita.


"Sial, hanya aku yang boleh menikah denganmu Adara," gumam Devano.


Devano mengambil ponselnya di atas meja kerjanya, dia menghubungi Arka sekretaris pribadinya.


"Halo."


"......"


"Aku ingin kamu melaporkan kegiatan Adara setiap hari,"


"....."

__ADS_1


"Satu lagi, pastikan Adara tidak menikah dengan pria lain. Ingat itu!"


"....."


Devano memutuskan panggilannya, dia mencoba menenangkan amarahnya agar dia bisa fokus dengan pekerjaannya.


****


Sore ini Kanaya dan Adele sedang ada di salah satu pusat perbelanjaan di Kota A, tanpa sengaja mereka bertemu dengan Evelyn bersama teman-temannya.


"Aku kira Nyonya Alex Handoko tidak berani keluar dari rumah, karena video putrinya yang sudah tersebar di kalangan publik?" seringai Evelyn.


"Aku bukan wanita seperti itu, dan untuk apa aku harus tinggal di rumah hanya karena video putriku? Aplagi aku harus menyiapkan pesta pernikahan putriku." Kanaya tersenyum dan meninggalkan Evelyn.


Kanaya berhenti lalu berbalik dan mendekati Evelyn kembali, "Ah! Aku lupa, keluargaku tidak suka dengan keluargamu kan? Tapi kamu adalah mantan tungangan suamiku, jadi aku akan mengundangmu dan Keluarga Hanendra," ujar Kanaya, "Aku hampir lupa, putramu juga harus hadir karena dia mantan pria brengsek itu," bisik Kanaya di telinga Evelyn.


Kanaya pergi menghampiri Adele yang menunggunya tidak jauh dari tempat Evelyn berdiri, dan mengajak adik iparnya pergi dari sana.


"Kanaya, kamu tahu? Wajah Evelyn sampai pucat saat kau membisikkan sesuatu di telinganya," ucap Adele.


"Hahaha ... Benar kah?" tawa Kanaya.


"Benar." Mereka berdua tertawa.


Di depan butik Dokter Syarif sudah menunggu calon istrinya keluar, tanpa sengaja Kira lebih dulu keluar dari butik.


Pandangan mereka bertemu, Dokter Syarif tersenyum dan di balas dengan senyuman canggung dengan Kira.


"Dokter menunggu Adara?" tanya Kira dengan basa basi.


"Iya, aku ada janji kencan dengannya," jawab Dokter Syarif.


"Apa Adara masih lama, Kira?" tanya Dokter Syarif.


"Tidak, dia akan segera keluar," jawab Kira, "Aku duluan, Dok," ucap Kira. Dokter Syarif pun mengangguk lalu tersenyum.


Saat Kira membuka pintu mobilnya Adara keluar dari butik dan memanggil Kira, "Kira," panggil Adara.


Kira menoleh ke arah Adara "Ada apa?" tanyanya saat melihat sepupunya sudah berdiri di samping Dokter Syarif.


"Aku duluan ya." Ucap Adara.


"Oke."


"Ayo," ajak Dokter Syarif. Adara mengangguk.


Adara melambaikan tangan pada sahabatnya sekaligus sepupunya, Kira pun membalas lambaian tangan Adara.


Di dalam mobil, Dokter Syarif menyalakan radio dengan lagu teracak. Saat Adara mendengar lagu itu, dirinya langsung teringat dengan Devano.


...~ Dulu Saat Pertama Kau Cintai Aku ~...


...~ Tertunduk Menangis Mengemis...


...Cintaku ~...


...~ Tapi Sekarang Saat Semua Telah Kau Miliki ~...

__ADS_1


...~ Kau Campakkan Aku ~...


Dengan cepat Adara mematikan radio yang ada di mobil Dokter Syarif. "A-aku tidak suka dengan kebisingan," ujar Adara.


"Maaf Adara, aku tidak tahu." Jawab Dokter Syarif, Adara mengangguk.


"Adara aku akan kembali tiga bulan lagi." Tiba-tiba ucapan Devano terlintas di pikiran Adara, "Tidak!" teriak Adara.


"Ckitt...!" Dokter Syarif menginjak rem mobilnya secara tiba-tiba saat mendengar Adara teriak.


"Adara, kamu tidak apa-apa?" tanya Dokter Syarif dengan wajah khawatir.


"Apa? Ah ... Aku tidak apa-apa," jawab Adara.


"Kenapa ucapannya terlintas di pikiranku lagi," batin Adara.


Mobil Dokter Syarif berhenti di depan sebuah restoran, dia dan Adara keluar dari dalam mobil.


Dokter Syarif meraih tangan Adara, "Apa seperti ini bisa, Adara?" tanya dokter Syarif, Adara mengangguk.


Tanpa mereka sadari Arka tengah mengambil beberapa foto mereka, dan mengirimkannya pada Devano. "Hah!" Arka menghela nafasnya dengan kasar, saat foto yang dia kirim ke Devano sukses.


"Aku yakin, sekarang Devano pasti akan berulah," ucap Arka.


Arka masuk ke dalam restauran dan duduk tepat di belakang Adara, "Aku harus minta kenaikan gaji pada Devano nanti."


"Adara, aku dan keluargaku akan datang membicarakan tanggal pernikahan kita setelah aku dari Singapura," ucap Dokter Syarif.


Adara tidak mendengarkan apa yang barusan Dokter Syarif katakan, "Aku akan kembali tiga bulan lagi." Kata-kata Devano terus terulang-ulang di pikiran Adara.


"Adara!"


"Ya? Ah, ma-maaf aku tadi banyak pikiran," jawab Adara.


"Adara, aku dan keluargaku akan datang membicarakan tanggal pernikahan kita setelah aku dari Singapura." Dokter Syarif mengulang kembali ucapannya.


"Berapa lama?" tanya Adara.


"Aku juga belum tau, rumah sakit keluargaku saat ini membutuhkanku, mungkin beberapa bulan," jawab Dokter Syarif dengan senyuman.


Dibelakang mereka Arka sedang memberi laporan pada Devano, "Tuan Muda, pria itu akan ke Singapura untuk beberapa waktu." Arka mengirimi pesan pada Devano.


"Bagus," balas Devano.


Adara terdiam sesaat mendengar ucapan Dokter Syarif, "Tidak, itu sama saja aku memberikan kesempatan untuk Devano kembali," batin Adara.


"Ada…."


"Tidak!" suara Adara sedikit keras, membuat Dokter Syarif dan Arka sedikit Kaget.


"Aku ingin pernikahan kita di lakukan segera mungkin, aku akan bicara dengan Opa dan Ayah." Wajah Adara terlihat pucat.


"Tidak perlu terburu-bur…."


"Aku ingin kita menikah sebelum kamu pergi ke Singapura," ujar Adara.


Dokter Syarif menggenggam tangan Adara, dia tidak tahu apa yang membuat wanita didepannya ingin mempercepat pernikahannya, padahal saat malam perjodohan Adara sendiri yang menginginkan pernikahan mereka tidak di percepat.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2