HAMIL SEBELUM MENIKAH

HAMIL SEBELUM MENIKAH
BAB 45


__ADS_3

Adara dan Kanaya pergi kebutiknya, Arka masih setia mengikuti kemana Adara pergi.


Arka masuk ke dalam butik Adara, dia berpura-pura mencari pakaian untuk seseorang.


"Mas, cari apa?" tanya seorang karyawan.


"I-itu, pakaian untuk kakak saya." Ucap Arka sambil melihat Adara dan Kanaya yang sedang memilih gaun pernikahan.


"Oh, silahkan di pilih Mas."


"Saya ingin melihat gaun pernikahan," ujar Arka.


"Gaun pengantin di bagian sana Mas." Karyawan itu mengantar Arka.


Arka memilih membelakangi Adara agar tidak ketahuan, sekaligus mencuri dengar apa yang di bicarakan oleh wanita yang dicintai bossnya itu.


"Andaikan aku tau pernikahanku minggu depan, aku akan membuat gaunku sendiri," ucap Adara.


"Pakai yang lain saja Nak," jawab Kanaya.


Adara dan Kanaya berpindah ke lain sisi, sedangkan Arka masih tetap memilih-milih gaun pengantin.


"Mas, apa sudah menemukan yang cocok?" tanya karyawan butik.


"Ah! Iya Mba, saya akan memberi tahu kakak saya," Arka pun pergi meninggalkan butik Adara dan pergi ke mobilnya.


Dengan cepat dia mengirimkan pesan untuk Devano, "Adara akan menikah minggu depan, saat ini dia sedang memilih gaun pengantin," tulis Arka dalam pesannya.


"Jangan biarkan mereka menikah!"


Arka masuk kedalam mobilnya lalu meninggalkan butik Adara. Di sisi lain sebuah mobil juga sedang mengawasi butik Adara.


Setelah selesai memilih gaun, Adara dan Kanaya pergi keruangan Kira dan Echa untuk memberi tahukan hari pernikahannya dengan Dokter Syarif.


"Kalian terlihat sibuk," ujar Adara.


"Adara, Tante," ucap Kira.


"Bukannya hari ini kamu cuti Adara?" tanya Kira dengan wajah bingung.


Kanaya menghampiri keponakannya, "Hari ini Tante dan Adara baru selesai memilih gaun pengantin," jawab Kanaya.


"Wah, kapan acara pernikahannya Tante?" tanya Echa.


"Minggu depan," jawab Kanaya.


Kira berusaha tersenyum saat mendengar hari pernikahan sahabatnya, sekuat tenaga dia menahan air matanya agar tidak jatuh.


"Kira kamu menangis?" Echa melihat mata Kira memerah.


"A-aku? Ini air mata bahagia." Kira memeluk Adara.


"Kira jangan menangis," ujar Adara.


Kira pun mengangguk dan mengusap air matanya yang masih di pelupuk mata.


"Ini sangat sakit," batin Kira.

__ADS_1


Adara dan Kanaya memutuskan pulang kerumah, dia juga telah menghubungi Dokter Syarif untuk pergi kebutik mencoba beberap jas yang akan dia kenakan di hari akad nikah.


Mereka pun sampai di rumah, "Sisanya biar Bunda dan Tante Adele yang mengurusnya sayang, kamu istirahat saja," ucap Kanaya, Adara pun mengangguk.


Adara tidak ingin menyewa gedung, dia ingin acaranya di lakukan di rumah utama Keluarga Handoko.


"Drrttt....!" Ponsel Adara berdering.


"Halo Adara."


Adara hanya terdiam mendengar suara yang tidak asing di telinganya.


"Aku akan hadir di acara pernikahanmu."


"A-apa?"


"Kau tidak mengundangku?"


"... Tidak!"


"Tapi aku akan datang melihat wanita yang aku cintai, menikah dengan pria lain."


Sambungan telepon terputus, Adara terdiam di samping tempat tidurnya. "Di-dia akan datang?" gumam Adara. "Dari mana dia tau, pernikahanku minggu depan. Apa selama ada orang yang sedang mengamatiku?" Adara berlari ke jendela kamarnya, sebuah mobil hitam terparkir diseberang jalan depan rumahnya.


"Benar, Devano mengirim orang untuk memata-matai diriku."


Di Inggris, Devano sedang mondar mandir di ruangannya. Dia mencoba berfikir, bagaimana caranya kembali tanpa sepengatahuan keluarganya.


"Papa tidak akan membiarkanku kembali ke Indonesia, aku harus memikirkan caranya," ucap Devano.


Devano menatap ponselnya, foto seorang gadis dengan senyum manis terpasang di layar ponsel Devano.


Devano pun kembali ke meja kerjanya untuk menyelesaikan beberapa dokumen yang ada di atas mejanya.


Echa melihat Kira yang sedang melamun di mejanya, dia pun menghampiri sahabatnya.


"Apa kamu sedang memikirkan pria itu?" tanya Echa.


Kira sedikit kaget mendengar ucapan sahabatnya yang sudah duduk di depannya.


"Ya," jawab Kira.


"Kalau dia jodohmu, dia tidak akan menikah dengan Adara," ujar Echa.


DEG..!


Kira terkejut dan menatap sahabatnya yang sedang tersenyum didepannya.


"Ma-maksudmu apa, Echa?" Kira berpura-pura tidak tahu apa yang di ucapkan sahabatnya.


"Aku tahu, pria itu Dokter Syarif kan?"


Kira terdiam, dia tidak bisa membantah perkataan Echa, tapi di juga tidak ingin membenarkannya.


"Itu terlihat jelas, kamu menangis saat mendengar perjodohan Adara. Sekarang kamu kembali menagis saat mendengar pernikahan Adara," ucap Echa.


Kira pun menangis, dia begitu malu rahasianya di ketahui oleh sahabatnya.

__ADS_1


"Rahasiakan ini dari Adara!" pinta Kira.


"Tapi …."


Kira memohon pada Echa, dia tidak mau pernikahan Adara batal hanya karena rasa cintanya pada Dokter Syarif. Echa pun dengan terpaksa menyetujui permintaan Kira.


Kanaya dan Adele berbelanja keperluan acara, "Aku juga ingin sekali melihat Kira menikah," ucap Adele, Kanaya pun tersenyum.


"Apakah dunia ini terlalu sempit, sampai-sampai aku harus bertemu dengan orang yang membuatku jadi sial?" sindir Evelyn.


Kanaya mencoba tidak menghiraukan sindiran Evelyn. Hari ini dia tidak ingin membuat moodnya berantakan hanya karena wanita itu.


"Adele cari yang lain, aura disini tiba-tiba panas," ujar Kanaya dengan menyeringai.


Kanaya meninggalkan toko, "Kenapa wanita itu selalu cari masalah setiap bertemu," gumam Kanaya, Kanaya pun menyelesaikan semuanya lalu pulang.


Mobil Adele berhenti di depan rumah utama, dia pun keluar dari mobil dan menyuruh para pelayan untuk membawa barang-barang yang telah dia dan Kanaya beli tadi.


"Papa,"


"Adele, mana Kanaya?" tanya Hadi Handoko.


"Kak Kanaya ada keperluan, mungkin dia akan kemari besok, Pa," jawab Adele.


Adele pun pamit pada Papa mertuanya karena ada urusan yang harus dia kerjakan.


****


Sore ini Dokter Syarif datang ke butik Adara, salah satu karyawan melayaninya. Dia mencoba beberapa jas yang akan dia kenakan di hari pernikahannya, tanpa sengaja Kira yang ingin keluar melihat pria yang di cintainya tengah berdiri di depan cermin besar menggunakan jas pernikahan.


"Selamat sore Dokter," sapa Kira.


Dokter Syarif berbalik lalu tersenyum, "Kira."


"Boleh aku bantu?" tanya Kira menawarkan bantuan.


"Boleh, aku juga bingung. Gara-gara tadi ada pasien jadi aku gak bisa datang bersama Adara," jawab Dokter Syarif.


"Tolong bawa gaun yang di pilih Bu Adara ya," ucap Kira pada salah satu karyawannya.


Karyawannya pun pergi mengambil gaun pengantin yang sudah Adara pilih, tidak lama karyawan itu datang dengan membawa gaun pengantin itu.


"Bu, ini gaunnya." Karyawan itu memberikannya pada Kira.


Kira bingung harus memasang di mana gaun itu, dia pun menyuruh karyawannya mengambil manekin untuk di pasangkan gaun pengantin.


"Kenapa harus pake manekin Bu Kira, tubuh Ibu sama dengan Bu Adara, kenapa bukan Ibu saja yang pakai?" tanya salah satu karyawannya.


"Tidak, ak…."


"Mereka benar Kira, kamu ingin membantuku tapi malah mencari manekin," ujar Dokter Syarif.


"Tapi?" Kira masih ragu.


"Buruan, aku masih ada jam operasi."


Kira pun dengan terpaksa masuk ke ruang ganti untuk memakai gaun pengantin Adara, "Kalau Adara tau apa dia akan marah?" batin Kira.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2