
Adara pun masuk kedalam butiknya, dia melihat Devano sedang duduk di sofa. Dia menghampiri kekasihnya itu, dia pun mengajaknya berbicara di ruangannya.
"Adara, aku hanya ingin bertemu denganmu sebelum aku pergi." Ucap Devano saat dirinya sudah berada di ruangan Adara.
"Apa kamu akan meninggalkanku Dev?" Mata Adara sudah berembun karena air mata.
"Adara aku pergi untuk pekerjaan, perusahaan di Inggris membutuhkanku." Devano mencoba menenangkan kekasihnya dalam pelukan hangatnya.
"Apa kamu benar mencintaiku Dev?" Tanya Adara di tengah isakan tangisnya.
Devano terdiam mendengar pertanyaan Adara, dia melepaskan pelukannya dan menatap mata kekasihnya.
"Iya, aku mencintaimu Adara." Jawab Devano lalu bibir mereka berdua bersentuhan dan terjadi ciuman panas di antara mereka berdua.
Suara ketukan pintu menghentikan ciuman gairah mereka, Adara berlari membuka pintu terlihat Echa sedang tersenyum melihat lipstik Adara berantakan.
"Adara aku hanya ingin memberikan laporan ini padamu, aku tidak tau kalau Tuan Devano sedang ada di ruanganmu." Ucap Echa.
Adara yang belum tau lipstiknya berantakan hanya mengangguk dan mengambil map merah yang masih di pegang oleh sahabatnya.
Setelah Echa pergi Adara kembali menutup pintu ruangannya, saat dia ingin berbalik Devano tiba-tiba memeluknya dari belakang.
"Apa kita bisa keluar sebentar Adara?" Tanya Devano.
"Kemana?" Adara berbalik dan menatap kekasihnya itu.
"Kesuatu tempat." Ucap Devano.
Adara mengangguk dan Devano pun tersenyum yang sulit terbaca oleh Adara, dia bingung dengan senyuman yang di berikan kekasihnya itu
Adara dan Devano pun pergi dari butik, Devano melajukan mobilnya ke salah satu apartement miliknya, Adara masih bingung pada Devano yang membawanya ke apartemen.
"Dev, untuk apa kita ke apartement?" Tanya Adara tapi Devano hanya tersenyum tipis pada.
"Aku ingin membuat kenangan indah dalam hubungan kita, mungkin ini jalan satu-satunya untuk kita bersama Adara." Jawab Devano.
"Maksud kamu kita?" Adara menutup mulutnya saat melihat anggukan Devano.
"Devano ini bukan jalan yang baik, aku akan bicara dengan ayah." Ujar Adara.
"Keluarga kita tidak bisa diajak bicara Adara, aku sudah bicara dengan papa dan ayahmu saat aku datang kerumahmu tapi mereka tidak ada yang ingin mengerti." Devano mencoba menyakinkan Adara yang masih kekeh tidak ingin melakukan hal yang menurutnya buruk.
"Hanya ini jalan yang bisa aku pikirkan untuk mencapai tujuanku, semoga kamu tidak membenciku Adara?" Batin Devano.
__ADS_1
Devano menggenggam tangan Adara berharap kekasihnya mengiyakan ajakannya, Adara mengalihkan pandangannya ke luar jendela mobil, cara ini bukan yang baik dalam hubungan mereka tapi karena kedua keluarga tidak bersedia merestui, mungkin kata Devano ada benarnya.
Adara kembali menoleh melihat Devano yang masih mengharapkan jawaban darinya, anggukan kepalanya membuat Devano tersenyum manis padanya.
Mereka pun keluar dari mobil dan menuju apartement Devano, saat di dalam lift Adara sesekali melirik kekasihnya yang berada di sebelahnya.
Lift pun berhenti di lantai 10, mereka berdua keluar. Devano menekan sandi apartementnya, dan pintu pun terbuka.
"Passwordnya hari lahirmu." Ucap Devano, Adara hanya memberikan senyum tipisnya.
Drrrtt,, ponsel Adara berdering..
Dengan cepat Adara mengambil ponselnya dan melihat nama yang tertulis "Kakak."
Saat dia ingin mengangkat panggilan Kavin dengan cepat Devano merampas ponsel Adara.
"Hari ini adalah hari dimana kenangan indah kita berdua, tidak ada yang boleh mengganggunya." Devano menonaktifkan benda persegi milik Adara.
"Devano ini tidak benar, kita bisa mempermalukan keluarga." Adara mencoba kembali membujuk Devano.
"Bukannya kau sudah setuju dengan anggukan kepalamu Adara? Dan sekarang kau ingin mengingkarinya?" Tiba-tiba wajah Devano berubah dingin.
Dengan cepat Devano mengendong Adara masuk ke dalam kamarnya, Adara mencoba membujuk Devano tapi Devano tetap tidak menanggapinya.
"......"
"Ini tidak benar Dev, keluargamu tidak mau kau berbuat begi-." Belum selesai ucapan Adara, Devano sudah ******* bibir Adara.
"Hmnpphh!" Adara mencoba mendorong tubuh Devano tapi tenaganya kalah dengan tenaga Devano.
"Hah,hah,hah." Adara mencoba mengatur nafasnya yang tersengal karena ciuman Devano.
"Dev." Adara mencoba mempertahankan pakaiannya saat Devano mencoba melepasnya.
"Jangan Dev, aku menarik anggukanku, aku tidak ingin melakukannya." Air mata Adara menetes di pipi putihnya.
"Sudah terlambat Adara, setelah aku melakukannya keluargaku akan kembali percaya padaku." Ucap Devano dengan ekspresi datarnya.
"Jadi kamu berbohong padaku bahwa kamu mencintaiku?" Tanya Adara.
"Ya, dari awal aku hanya membohongimu. Apa kakakmu yang amnesia itu tidak memberitahumu tentang aku mendekatimu." Devano menyeringai licik.
Adara terkejut mendengar ucapan Devano, dia teringat dengan ucapan kakaknya yang telah memperingatinya tapi dia sudah di butakan dengan cinta palsu Devano.
__ADS_1
Devano langsung menindih tubuh Adara, dengan satu kali tarikan pakaian Adara terlepas dari tubuhnya.
"Devano." Teriak Adara.
"Berteriaklah sayang, teriakanmu sangat menggairahkan di telingaku."
Devano mencium leher Adara dan memberikannya banyak tanda kepemilikan di leher jenjang Adara.
Adara yang sudah kehabisan tenaganya hanya bisa pasrah dan meneteskan air matanya saat Devano sudah memasuki daerah sensitivnya.
"Maafkan Adara ayah, bunda, dan kakak karena Adara tidak mendengar ucapan kalian." Batin Adara.
*****
Kavin yang tampak gelisah saat ponsel adiknya sudah di luar jangkauan, perasaannya sudah tidak enak. Kavin mencoba kembali menghubungi ponsel Adara tapi tetap tidak aktif, ia pun mencoba menghubungi Devano tapi sama saja di luar jangkauan.
"Adara kamu sekarang ada dimana?" Gumam Kavin.
Beberapa menit yang lalu Kavin datang ke butik adiknya, dia tidak tenang membiarkan adiknya bertemu dengan Devano tapi saat dia sampai di butik Echa dan Kira memberitahunya kalau Adara sedang pergi bersama Devano.
"Aku harap kamu tidak melakukan apa-apa pada adikku Devano." Wajah Kavin menjadi merah padam.
Di apartement, Adara menangis tersedu-sedu menatap pantulan dirinya di cermin wastafel kamar mandi, begitu banyak bekas merah di leher, dada dan perutnya. Dengan cepat dia membersihkan tubuhnya, dia mencoba menggosok semua bekas itu agar hilang tapi tetap saja tidak hilang.
"Aku kotor." Gumam Adara di tengah tangisnya.
10 menit Adara membersihkan tubuhnya dia pun keluar dari kamar mandi, dia memungut semua pakaiannya dan mengenakan kembali di tubuhnya. Saat dia sudah ingin pergi Adara mendekati tempat tidur yang telah menjadi saksi bisu kebejatan Devano yang telah merenggut kesuciannya, disana terlihat Devano sedang tertidur lelap di atas kasur.
Tatapan mata Adara pada Devano terukir kebencian yang sangat besar, ini adalah bayaran untuknya yang terlalu bodoh dengan percaya cinta pria brengs*k yang ada di depannya itu.
"Aku harap kita tidak bertemu lagi Devano, anggap saja ini adalah bayaranku padamu dan keluargamu yang telah merawat kakakku selama 20 tahun."
Adara pun keluar kamar dan bergegas meninggalkan apartement Devano.
Mata Devano terbuka, air matanya menetes saat mendengar ucapan wanita yang telah dia tiduri beberapa beberapa menit yang lalu.
"Maaf Adara." Lirihnya.
Devano pun mengaktifkan kembali ponselnya dan menghubungi Arka sekertaris pribadinya. "Pesan tiket pesawat ke Inggris, 1 jam lagi aku akan sampai di bandara.
Bersambung...
Jangan lupa Like, Komen dan Vote.
__ADS_1
Like mencapai 500 aku akan boom Up. 😄