
Raka Hanendra mendorong tubuh Alex yang berada di atasnya, darah segar mengalir dari sudut bibir Raka. "Kau datang ke kantorku lalu melakukan kekerasan?" ucap Raka.
"Kau menyuruh istrimu untuk bertemu dengan putriku dan menyakitinya!" teriak Alex.
Saat ini akal sehatnya sudah tidak ada, hanya karena kesalahan masa lalu keluarganya harus menderita, Alex mengepalkan kedua tangannya lalu menghampiri Raka yang berdiri tidak jauh darinya.
Alex menarik kerah baju Raka dan siap untuk memukulnya kembali tapi Hadi Handoko datang menghentikannya.
"Alex hentikan!" ucap Hadi yang baru saja datang bersama Gio.
Hadi Handoko menghampiri kedua pria itu lalu memisahkan mereka, ia menatap putranya yang masih marah dan siap memukul lawannya, saat dia berbalik menghadap Raka Hanendra.
"Kamu ingin tahu apa yang terjadi pada kedua orang tuamu?" tanya Hadi pada Raka.
"Jangan menyebut orang tuaku dengan mulut kotormu yang seorang pembunuh!" teriak Raka yang masih mengira kedua orang tuanya meninggal karena di bunuh oleh Hadi Handoko.
"Apa kau mendengarnya dari Noel jika aku yang telah membunuh orang tuamu?" tanya Hadi dengan tatapan dinginnya.
Hadi melempar sebuah buku diary tepat di dada Raka, "Itu adalah buku diary mamamu, sekaligus penyebab meninggalnya kedua orang tuamu."
Raka melihat sebuah buku yang telah usang berada di dekat kakinya, dia pun langsung memungut buku diary mamanya.
Halaman demi halaman ia baca Raka tersenyum saat membaca kenangan indahnya bersama mamanya sewaktu kecil tapi ekspresi wajahnya berubah tegang saat ia membaca halaman terakhir.
Raka langsung berlutut setelah selesai membaca diary Reni Nyonya Hanendra, Hadi menepuk pundak Raka ia tahu tidak semudah itu menerima kenyataan.
"Apa kalian dulu saling mencintai?" tanya Raka yang masih menundukkan kepalanya.
"Saat aku mencoba melepaskannya demi sahabatku, saat itu aku tidak mencintainya lagi." jawab Hadi.
"Bisakah ceritakan apa yang terjadi saat itu," pinta Raka.
***
*Enam puluh tahun silam*
__ADS_1
Aku dan Arya adalah teman SMP, sifat kami berbeda dia pria yang sangat terbuka dan menyukai kebebasan sedangkan aku pria yang selalu belajar, belajar dan belajar terutama tentang perasaan aku sangatlah tertutup.
Setelah lulus SMP aku masuk ke sekolah jurusan bisnis sedangkan Arya masuk ke sekolah biasa bukan karena dia miskin melainkan memilih kebebasan.
Aku melewati hari-hari sekolah dengan belajar dan terus belajar hingga Reni masuk kedalam hidupku yang sangat membosankan karena Arya tidak ada bersamaku, aku dan dia menjadi sahabat sifatnya sama dengan Arya itulah kenapa aku menyukainya.
Saat sedang dalam pelajaran tiba-tiba kepala sekolah kami membawa Arya masuk kedalam kelas sebagai murid pindahan. Aku senang sahabatku akhirnya bersamaku kembali.
Hari demi hari, bulan demi bulan kami lewati bersama hingga ujian kelulusan tiba saat itu Arya mengatakan jika dia ingin menyatakan cinta pada Reni yang statusnya saat ini adalah kekasihku.
Aku mengatakan pada Reni jika Arya juga mencintainya dan aku siap mundur dan memilih persahabatan daripada kehilangan keduanya. Setelah kelulusan itu aku mendengar Arya melamar Reni dan akan menikah setelah Reni lulus kuliah.
Tiga bulan setelah mereka menikah aku menikah dengan Maya, saat aku ingin menghabiskan waktu bersama istri dan kedua putraku Arya menghubungiku untuk bertemu dengannya dan Reni di hutan timur milik keluarga Hanendra.
Ketika aku sudah sampai di tempat itu, Arya sudah menjadi laki-laki yang berbeda. Sedangkan Reni tengah bersujud di kaki Arya, "Katakan padaku Hadi, apa kalian saling mencintai?" tanya Arya saat melihat Hadi berdiri di ambang pintu.
"Itu masa lalu Arya dan sekarang kami tidak lain hanya sahabat."
"Masa lalu? Jadi aku ini adalah perebut kekasih sahabat sendiri," ucapnya.
"Hahaha, kalian memang sangat menjijikkan. Berbohong di belakangku lalu istriku yang masih diam-diam mencintaimu, apa aku harus melenyapkanmu agar Reni mencintaiku seorang."
"Arya turunkan pistol itu, Hadi tidak bersalah. Ini salahku jangan melimpahkan kesalahan pada orang lain," ucap Reni mencoba menenangkan hati Arya yang sudah terlanjur emosi.
"Sayang sekali hari ini adalah hari terakhirmu melihat dunia pria brengsek."
Dor...! Arya melepaskan tembakan ke arahku tapi sayang Reni berlari menghalau peluru itu hingga mengenai tepat di dadanya.
Aku langsung menangkap tubuh Reni saat ambruk, "Kenapa kamu lakukan ini Reni?"
"Aku tidak ingin suamiku membunuh sahabatnya yang paling menyayanginya, ugh!"
Pistol yang ada di tangan Arya jatuh ke lantai, dia langsung berlutut di samping istrinya dan menangis.
"Ar-ya, awalnya aku ti-dak mencintaimu tapi aku mencoba un-tuk berusaha menerimamu dan mencintaimu hingga pu-tra kita Raka lahir," ucap Reni terbata-bata.
__ADS_1
"Maafkan aku Reni, karena cemburu aku dikuasai oleh amarah sesaat."
Akhirnya Reni menghembuskan nafas terakhirnya di pangkuan kedua pria yang dicintainya, Arya yang kehilangan Reni menangis histeris dan aku mencoba menguatkan sahabatnya itu.
"Hadi, maafkan aku."
"Sayangilah putra kalian agar Reni tenang disana."
"Berjanjilah, jangan biarkan putraku mengetahui jika papanya yang telah membunuh mamanya. Katakanlah jika mobil kami masuk jurang dan meninggal," ujar Arya seraya menggendong jasad istrinya.
"Kamu jangan melakukan hal gila, Arya. Raka masih kecil dan membutuhkanmu disampingnya!" Hadi mencoba menghentikan pikiran gila Arya yang ingin membunuh dirinya juga.
"Pergilah, aku harap kamu bisa menjaga dan menyayangi putra kami seperti putra kandungmu sendiri."
Hadi tidak menjawab dia mencoba menahan Arya yang membawa pergi Reni tapi sayangnya anak buah Arya terutama Noel menghalangi Hadi yang mencoba menahan Arya.
"Berhenti brengs*k!" teriak Hadi tapi tidak membuat Arya berhenti.
Setelah kepergian Arya dan Reni dari hutan timur, aku kembali ke rumah utama keluarga Handoko. Saat aku menyalahkan televisi sebuah berita mengabarkan bahwa ada mobil yang sengaja meluncur bebas ke jurang.
Mobil yang sudah terbakar dan ditemukan dua mayat yang sudah hangus terbakar membuatku yakin itu adalah jasad dari kedua sahabatku.
***
"Seminggu kemudian aku ingin mengajakmu tinggal bersama kami tapi kamu sudah pindah keluar negeri bersama Noel," ucap Hadi.
Raka menangis mendengar cerita kelam kedua orang tuanya hingga kesalah pahaman terjadi membuatnya membenci keluarga yang tidak ada hubungannya dengan kematian kedua orang tuanya.
Alex kembali menarik kerah kemeja Raka yang masih berlutut di lantai, "Katakan kepadaku, apa yang kau rencanakan pada putriku!" ucap Alex dengan enuh tekanan.
"Aku tidak melakukan apapun, Evelyn hanya ingin bicara dengannya."
"Kau tahu, Evelyn hanya memanfaatkan kekuasaanmu untuk membalas dendam yang tidak bisa hilang dari dirinya." geram Alex.
Raka menatap Alex, "Aku akan mengembalikannya putrimu," ucap Raka.
__ADS_1
Bersambung...