HAMIL SEBELUM MENIKAH

HAMIL SEBELUM MENIKAH
Bab 60


__ADS_3

Adara sudah di pindahkan ke kamar VIP malam semakin larut tapi Alex dan Raka belum juga datang, Kanaya tampak gelisah menunggu kedatangan suaminya yang belum kunjung datang.


"Kenapa ayahmu belum datang?" tanya Kanaya pada putra bungsunya.


Kavin dan Devano baru saja pergi untuk membantu orang tua mereka sedangkan yang berjaga di rumah sakit selain Kanaya ada Kenan dan Arka.


Mata Adara terbuka ia melihat sekelilingnya dan melihat bundanya dan adiknya tengah berdiri membelakanginya.


"Bunda!" panggil Adara.


Kanaya dan Kenan berbalik saat mendengar suara lemah Adara, Kanaya menghampiri putrinya yang baru saja sadar.


"Bunda, wanita itu akan membunuh bayiku!" ucap Adara sembari menajgis ketakutan.


Kanaya dan Kenan saling menatap mereka tidak tahu harus bagaimana, saat ini mental putrinya belum stabil jadi Kanaya mencoba tidak memberitahu soal kegugurannya.


"Bunda dan Kenan ada disini, jadi Putri cantik Bunda tidak perlu menangis lagi." Kanaya mencoba menenangkan Adara.


Adara sudah mulai tenang tidak lama dokter datang untuk memeriksa kondis Adara setelah Kenan memberitahu bahwa kakaknya sudah sadar.


"Dokter, apa bayiku baik-baik saja?" tanya Adara.


Mendengar ucapan Adara pada Dokter membuat Kanaya takut, dia tidak ingin kondisi putrinya kembali tidak stabil jika mendengar tentang bayinya.


"Bayi anda tidak bisa kami selamatkan, anda mengalami keguguran saat tiba di rumah sakit."


Air mata Adara menetes karena kebodohannya bayinya yang tidak berdosa menjadi korban dari hubungannya dengan Devano.


Kanaya menghampiri putrinya dan memeluknya, "Jangan menangis Adara," ucap Kanaya.


"Kenapa harus bayiku, Bun. Dia tidak tahu apa-apa!" ujar Adara.


"Ini adalah takdirnya, Nak."


"Aku membenci mereka. Harusnya aku tidak memberitahu Devano soal bayiku, harusnya aku tidak menemui wanita iblis itu!" teriak Adara seraya memukul-mukul perutnya.


Kenan dan Arka masuk ke dalam kamar karenaemdengar teriakan Adara. Mereka berdua hanya diam di pintu saat melihat Adara menangis dalam pelukan Kanaya.


"Aku membenci keluarga itu, aku membenci mereka. Hiks!! Hiks!!"

__ADS_1


***


Di daerah Utara Devano dan Kavin sampai, terdengar suara tembakan dari dalam hutan Mereka berdua langsung berlari untuk menanti kedua pria parubaya yang tengah menghadapi penghianat itu.


"Ambil ini!" ucap Devano dengan memberikan pistol pada Kavin.


"Kau dapat ini di mana?" tanya Kavin saat mengambil pistol di tangan Devano.


"Arka menyelipkannya di jok belakang."


Devano dan Kavin pun sampai iya melihat begitu banyak orang yang sudah tidak bernyawa, mereka langsung mencari Alex dan Raka untuk mengetahui kondisi orang tua mereka.


Pintu gedung terbuka Alex dan Raka Hanendra keluar, "Semuanya sudah selesai," ucap Alex saat melihat Kavin dan Devano.


Mereka berempat pun pergi ke rumah sakit, karena Raka terkena tembakan di lengan kirinya dia harus di tangani lebih dulu. Mobil berhenti di depan rumah sakit, Alex dan Devano memapah Tuan Raka masuk kedalam rumah sakit.


"Aku akan menemui putriku," ucap Alex dan di angguki oleh Devano.


Alex Mengikuti Kavin untuk melihat Adara yang sudah di pindahkan ke kamar VIP, pintu kamar terbuka Kavin dan Alex masuk ke dalam dan melihat Adara sudah sadar.


"Ayah!" panggil Adara dengan suara manjanya.


"Putri Ayah, maaf karena baru bisa melihatmu Nak."


"Iya, Evelyn dan kawanannya tidak akan pernah lagi mengganggu keluarga kita."


Pintu Kamar kembali terbuka kali ini yang datang adalah Tuan Raka dan Devano.


"Apa saya bisa bicara empat mata dengan putrimu Alex?" tanya Raka pada Alex yang masih memeluk Adara.


Alex mengangguk, "Ya, jangan berbuat macam-macam dengan putriku!"


Mereka semua keluar kecuali Tuan Raka dan Adara. Tuan Raka mendekati Adara dan duduk kursi, "Maafkan saya!" ucap Tuan Raka.


Adara hanya diam mendengar permintaan maaf dari orang tua pria yang dicintainya.


"Karena kesalahanku putraku dan kamu harus menanggungnya."


"Apa dengan memaafkan Tuan, bayiku akan kembali dalam rahimku?" tanya Adara sembari meneteskan air matanya.

__ADS_1


Tuan Raka terdiam mendengar pertanyaan Adara, rasa bersalah kembali menghantam jantungnya seolah akan membunuhnya.


"Jika anda tidak mengijinkan aku dan Devano bersama, kenapa harus merampas bayiku. Walaupun bayi itu ada karena kesalahan apa pantas dia dilenyapkan yang tidak tahu apa-apa!" ucap Adara dengan kesalnya.


Air mata Tuan Raka menetes, dia benar orang yang sangat bodoh dari kecil hanya kebencian yang ada dalam dirinya yang di tanamkan oleh Noel orang kepercayaan orang tuanya.


Orang yang membuat dirinya membenci sahabat orang tuanya yang hanya terseret oleh cinta sepihak masa lalu, Tuan Raka langsung berlutut di depan tempat tidur Adara.


"Orang tua ini sangatlah bodoh kamu boleh menghukumnya, membunuhnya pun tidak akan pernah menghapus dosaku pada keluarga Handoko."


Adara hanya diam melihat Tuan Raka berlutut di depannya, dia tidak ingin membenci siapapun tapi kehilangan calon anaknya membuatnya tidak bisa memaafkan siapapun.


"Berdirilah tuan dan tolong keluarlah, aku ingin istirahat."


Tapi Tuan Raka tidak bergeming, ia masih tetap berlutut menunggu kata maaf dari Adara. Dia mengingat apa yang sudah ia lakukan pada keluarga Handoko mulai dari menculik Kavin hingga berencana melenyapkan cucunya sendiri.


Apa masih pantas dia memohon maaf dari keluarga Handoko, Tuan Raka mengangkat wajahnya melihat Adara yang tengah memandang keluar jendela.


"Baiklah, jika kamu tidak bisa memaafkan orang tua ini tidak apa-apa Nak. Semoga kebahagiaan selalu menyertaimu," ucap Tuan Raka seraya berdiri.


Karena Adara hanya diam dan mengabaikannya dia meninggalkan Adara yang masih memandang keluar jendela yang masih terlihat gelap,


Tuan Raka keluar dari kamar Adara semua orang menatapnya, "Alex, aku minta maaf karena sudah membuat keluargamu menderita. Walaupun aku tahu dosaku pada keluarga Handoko tidak bisa di maafkan begitu saja," ucap Tuan Raka lalu memeluk Alex.


Setelah meminta maaf pada semuanya termasuk pada putranya Devano Tuan Raka pamit pulang bersama Devano dan Arka. Sebelum pergi Tuan Raka mengatakan dia dan Devano akan membantu menyelesaikan masalah perusahaan Handoko Group secepatnya.


SEBULAN KEMUDIAN...


Kehidupan keluarga Handoko sudah kembali normal setelah Tuan Raka dan Devano membantunya menyelesaikan masalah di perusahaan dan di media, saat di rumah sakit Devano mencoba untuk menemui Adara tapi ditolak oleh Adara dengan alasan ingin menata hatinya.


Entah sejak kapan Arka mulai dekat dengan Echa, hari ini Echa mengunjungi Adara di rumahnya yang masih mengambil cuti kerja. Dia masuk kedalam kamar sahabatnya itu Echa melihat Adara tengah duduk di depan jendela sembari melamun.


"Hey, kamu sedang melamunkan apa sampai tidak menyadari kedatanganku?" tanya Echa yang sudah duduk di samping Adara.


"Tidak ada, hanya menyusun masa depan," jawab Adara tanpa menoleh ke sahabatnya.


"Apa kamu tidak ingin bertemu sekali saja dengan Devano?" tanya Echa kembali dengan penasaran.


Adara menoleh kesamping dan menatap Echa yang duduk disebelah. "Aku tidak ingin bertemu dengannya," jawab Adara.

__ADS_1


"Kata Arka Devano akan pindah ke Inggris, mungkin akan menetap disana," ucap Echa tapi Adara hanya diam tidak menanggapi ucapan sahabatnya itu.


Bersambung...


__ADS_2