HAMIL SEBELUM MENIKAH

HAMIL SEBELUM MENIKAH
Bab 63


__ADS_3

Di kamar, Devano tersenyum melihat Adara yang begitu sibuk membantunya.


Cup....


Mereka pun saling bertatapan, Devano menarik lengan Adara yang sedang berdiri di depannya.


"Dev!" teriak Adara.


"Jangan berteriak, kamu ingin semua orang datang dan melihat kita berduan?" seringai Devano.


"Lepas!"


"Tidak."


Adara melototkan matanya berharap sang kekasih mau melepaskan pelukannya.


"Adara apa kamu mau ikut pulang?" tanya Kavin dari luar kamar.


Mendengar suara sang Kakak dengan cepat Adara mendorong tubuh Devano hingga jatuh di atas tempat tidur.


"Aw, sakit!" rintihnya.


"Dev, kamu tidak apa-apa?" tanya Adara penuh kepanikan saat melihat Devano kesakitan.


Pintu kamar terbuka, Kavin masuk lalu mendekati mereka berdua. "Sejak kapan dia jadi manja?"


"Mengganggu saja!" gerutu Devano.


"Kakak, aku akan pulang setelah mengurus Devano. Aku akan pulang sebelum malam," ucap Adara.


Kavin pun mengerti lalu meninggalkan Devano dan Adara, ia pun pamit pada Tuan Raka.


Devano menepuk tempat tidur mengisyaratkan agar Adara duduk di sampingnya, setelah sang kekasih duduk ia menggenggam tangan Adara.


"Aku minta maaf. Aku tidak bisa melindungi calon anak kita," ucap Devano.


"Jangan mengungkit masa lalu, sekarang fokus dengan pemulihanmu."


Saat Devano ingin mencium Adara pintu kamarnya kembali terbuka, Raka yang melihat mereka hanya tersenyum.


"Jangan melakukan hal aneh pada Adara. Sebelum pernikahan, kalian tidak boleh bertemu!" ucap Tuan Raka penuh candaan.


Mendengar candaan papinya Devano menarik sudut bibirnya ke atas. "Sekarang aku akan kerumah Tuan Alex Handoko dan melamar putrinya."


"Dasar anak tidak sabaran!" gerutu Raka.


Raka pun pergi. Adara melihat jam sudah menunjukkan pukul tiga sore ia pun pamit untuk pulang, Devano yang tidak ingin sang kekasih pulang terlalu cepat hanya bisa pasrah mengijinkan Adara pergi.


***


Di kediaman utama keluarga Handoko tengah berkumpul keluarga untuk makan malam bersama hanya Kira dan Syarif yang tidak hadir bersama mereka.

__ADS_1


"Andra, kenapa Kira tidak datang?" tanya Hadi pada putra bungsunya.


"Katanya hari ini suaminya ada acara juga dan ia harus menemaninya," jawab Andra.


Mereka pun makan malam tanpa Kira dan Syarif. Kenan yang tidak bisa berhenti bercerita tentang kesehariannya membuat suasana malam itu terasa ramai.


Setelah selesai makan mereka berkumpul di ruang keluarga. Walaupun terasa kurang karena Maya tidak ada di tengah-tengah keluarga.


"Papa besok akan ke Amerika," ucap Hadi.


"Aku akan menjenguk Mama Minggu depan," ucap Andra seraya memasukkan cemilan di mulutnya.


"Aku akan ikut denganmu, perusahaan ada Kavin dan Gio yang mantau!" timpal Alex.


Mendengar perkataan sang Ayah, Kavin langsung menolak. "Tidak."


"Harusnya kamu sudah mengambil alih perusahaan. Ayah dan Bunda waktunya untuk bulan madu yang kedua kalinya," ucap Alex. Mendengar ucapan suaminya Kanaya memberikan cubitan di pinggang Alex.


Semua orang tertawa, Kavin hanya tersenyum melihat tingkah ayahnya. Hadi mengajak kedua putranya dan Kavin untuk ke ruang kerjanya, sedangkan yang lainnya masih berada di ruang keluarga.


"Sayang, gimana keadaan Devano. Tante dengar dia sudah pulang hari ini?"


"Masih dalam masa pemulihan, Tan."


Drrrttt!!!


Ponsel Adara berdering, tertera di layar nama Kira. Adara pun mengangkat dan mendengar suara tangisan sepupunya di sebrang telepon.


"Iya. Apa kamu ingin bicara dengan Tante Adele?"


"Tidak! Jangan katakan pada Mami jika aku yang menghubungimu. Bisakah kamu datang ke sini?"


Adara melihat jam sudah menunjukkan pukul sembilan, "Baiklah, kirim alamatmu aku akan ke sana sekarang!"


Panggilan pun terputus, Adara meminta Kenan untuk mengantarnya. Tanpa memberi tahu siapa dan ingin kemana Adara menarik tangan adiknya untuk mengantarnya pergi.


"Kakak, kita mau ke mana?" tanya Kenan saat mereka tiba di depan mobil.


"Jangan bertanya, aku akan memberitahumu nanti."


Mereka berdua pun masuk ke dalam mobil, sebuah pesan titik lokasi yang di kirim Kira di ponselnya.


"Kita ke taman mawar," ucap Adara.


Tanpa bertanya Kenan melajukan mobilnya ke taman mawar, tampak kegelisahan di wajah Adara setelah mendengar tangisan Kira di telepon tadi.


Kenan memarkirkan mobilnya di depan taman, Adara keluar lalu berlari meninggalkan Kenan di belakang.


"Kira!" Teriak Adara karena taman lumayan ramai.


Di kejauhan Kira melambaikan tangan, dengan berlari Adara pun sampai di kursi di mana Kira tengah duduk sambil menangis.

__ADS_1


"Kira, apa yang terjadi? Kenapa kamu menangis di sini?" tanya Adara penuh kekhawatiran.


"Adara. Dia ... " Kira tidak melanjutkan ucapannya, ia memilih menangis di pelukan Adara.


Kenan yang baru sampai terkejut melihat Kira tengah menangis di pelukan kakaknya.


"Kak Kira, siapa yang membuatmu menangis seperti ini?" Kenan ikut bertanya.


"Kira berhenti menangis. Katakan apa yang terjadi dan Dokter Syarif ada di mana?"


"Dia memberikanku surat perceraian, dia mengatakan jika ia mencintai wanita lain."


Deg...


Adara tahu siapa wanita yang di cintai suami sepupunya tapi tidak mungkin ia mengatakannya.


"Adara, aku tidak pernah meminta apapun padanya. Aku tidak pernah mengeluh saat dia mengatakan untuk pisah kamar, tapi kenapa dia membuangku!" Tangisan Kira semakin kencang membuat sebagian orang melihat ke arah mereka bertiga.


Adara dan Kenan mencoba untuk menenangkan Kira yang masih menangis. Adara meminta Kenan untuk tidak memberitahukan apapun pada keluarga masalah saat ini.


"Untuk sementara kamu tinggal di rumah Echa dulu. Aku akan menghubunginya," ucap Adara.


Adara pun menjauh untuk menghubungi sahabatnya. Setelah Echa menjawab panggilannya ia menceritakan kondisi Kira dan meminta ijin untuk sementara Kira tinggal di tempatnya, Echa pun menyuruh Adara membawa Kira kerumahnya karena kedua orang tuanya sedang tidak ada di rumah.


Setelah menelpon Adara membawa Kira ke tempat Echa, di dalam mobil hanya suara tangisan yang terdengar.


Drrrttt!! Drrrttt!!


Kenan mengangkat telepon dari Kanaya.


"Halo, Bunda."


"Kamu dan Adara ada di mana?"


"Aku dan Kakak ada urusan di luar. Bunda, Ayah dan Kakak pulang duluan saja nanti kami pulang setelah urusan selesai."


Kanaya mendengar suara tangisan membuatnya kembali bertanya, "Bunda mendengar suara wanita menangis!"


"Halo, Bunda jaringanya terputus. Aku tidak bisa mendengar suara Bunda," bohong Kenan lalu menutup teleponnya.


"Kakak kenapa tidak ingin keluarga tahu, jika sekarang suami kakak menggugat cerai dan memiliki wanita lain."


"Aku akan mengatakannya setelah pikiran dan hatiku tenang. Aku tidak ingin berpisah dengannya tapi aku juga tidak ingin memaksakan dia mencintaiku," ucap Kira.


Tidak lama mobil Kenan memasuki halaman rumah yang tidak terlalu besar. Di teras sudah ada Echa menunggu kedatangan mereka, melihat kedua sahabatnya keluar dari mobil Echa langsung menghampirinya.


"Ayo masuk, wajahmu tidak cantik lagi Kira." Canda Echa membuat Kira sedikit tersenyum.


Mereka berempat pun masuk ke dalam rumah, Echa menyuruh pembantunya untuk membuatkan teh dan cemilan untuk sahabat.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2