
Devano yang tangah duduk di sofa menatap sebuah cincin yang ada di tangannya, dia tersenyum manis membayangkan wajah cantik Adara.
"Akan aku pastikan kamu menjadi milikku seutuhnya," ucap Devano lalu menutup kembali tempat cincin yang berbentuk hati dan menyimpannya kembali ke laci nakas samping sofa ruang tamunya.
Drrtt...!! Drrtt...!! Ponsel Devano berbunyi, dengan cepat ia mengangkatnya.
"Halo."
"...."
"Aku tidak bisa hadir, lusa aku akan balik ke Indonesia."
"...."
"Apa dia akan datang?"
"...."
"Baiklah. Aku sedamg sibuk! Selamat menempuh hidup baru bro, maaf aku tidak bisa hadir."
"...."
Devano memutuskan teleponnya, dia pun pergi ke kar untuk mempacking pakaiaannya yang akan ia bawa ke Indonesia.
Di lain tempat Adara tengah menunggu seseorang dan tidak lama orang itu datang.
"Maaf Adara aku telat," ucap Echa.
"Tidak apa-apa, aku juga baru sampai."
Echa duduk di depan Adara, dia memesan cappucino latte sam dengan pesanan Adara.
Adara menatap Echa yang tampak gelisah terutama dengan apa yang ingin Echa katakan.
"Echa, apa yang ingin kamu katakan padaku?" tanya Adara.
"Aku ...." Echa meremas jemari tangannya, "Adara apa kamu bahagia dengan pernikahan ini?" Echa bertanya balik pada Adara.
"Ya, aku bahagia," jawab Adara.
"Lebih baik aku tidak mengatakan tentang perasaan Kira," batin Echa.
"Kamu melamun?" tanya Adara.
Echa tersenyum, "Aku akan mendukung keputusanmu," jawab Echa.
Adara merasa ada yang di sembunyikan oleh sahabatnya tapi dia juga tidak ingin menggalinya lebih dalam.
***
Kavin yang sudah sampai di Inggris langsung ke apartemen miliknya.
Bip... Bip... Klek!!! Pintu apartemen Kavin terbuka, dia pun masuk.
Saat melewati ruang tamu dia dikejutkan dengan kedatangan Devano yang sudah ada di dalam apartemennya, Devano tengah duduk di sofa sembari memainkan laptopnya.
"Devano!"
__ADS_1
Devano menoleh ke arah Kavin lalu tersenyum "Kau baru sampai Kakak ipar," ujar Devano.
"Apa-apaan masuk ke apartemen orang seperti ini."
"Bukankah aku harus menyapa Kakak ipar," ucap Devano.
Kavin menatap Devano yang tengah duduk di sofa, dia pun menghampiri pria yang dulunya pernah menjadi kakak baginya.
"Sejak kapan aku menjadi Kakak iparmu?" tanya Kavin dengan wajah kesal.
"Saat Adara seutuhnya menjadi milikku hari itu," jawab Devano dengan seringai licik.
"Kurang ajar! Kau tidak pantas untuk Adara, pria brengsek seperti kau jarusnya lenyap dari dunia ini!" Teriak Kavin, dia langsung memukul wajah Devano hingga sudut bibinya mengeluarkan darah segar.
Devano hanya tersenyum melihat Kavin, "Pukulanmu sungguh sangat menyakitkan."
"Untuk apa kau kamari, kita tidak ada hubungan apa-apa saat kau menyakiti keluargaku."
"Lusa aku akan ke Indonesia," ucap Devano.
Kavin duduk di sofa dan mengusap kasar wajahnya, dia kembali menatap tajam ke arah Devano.
"Sekarang pergilah, aku ingin istirahat." Usir Kavin.
Devano tersenyum manis pada Kavin, lalu pergi meninggalkan Kavin yang masih ada di ruang tamu.
****
Adara melamun di ruangannya, dia masih apa yang di sembunyikan sahabatnya. "Aku yakin ada sesuatu yang disembunyikan dengan Echa," gumam Adara.
"Aku sudah bilang, jangan katakan apapun pada Adara. Biarkan dia bahagia cukup aku memendam perasaanku saat itu, aku tidak ingin karena perasaanku pada Dokter Syarif pernikahan sahabatku batal!" ujar Kira sedikit kesal.
Deg,,,,!!! Adara terkejut mendengar ucapan Kira.
"Sesaat aku ingin melihatmu juga merasakan cinta Kira, tapi saat aku melihat Adara bahagia, diriku tidak bisa mengatakan yang sebenarnya."
"Aku merebut pria yang disukai sahabatku, aku sama sekali tidak tahu apa-apa tentang Kira," batin Adara.
Dengan cepat Adara kembali ke ruangannya, air matanya jatuh mengingat apa yang dia dengar tadi.
Adara meraih ponselnya yang ada di atas meja, dia mencari nomor Dokter Syarif. Adara menghubungi pria yang akan menjadi calon suaminya beberapa hari lagi.
Tak butuh waktu lama panggilan Adara di jawab oleh Dokter Syarif.
"Halo."
"Ya Adara."
"Aku ingin bertemu."
"Saat ini aku sibuk, nanti malam aku jemput."
"Okay."
Adara menutup panggilannya, dia tidak bisa fokus pada desainnya. "Aku harus berbicara dengan Kira, dia harus mengakuinya sendiri dari mulutnya." ucap Adara.
Saat Adara keluar dari ruangannya Kira kebetulan lewat, dengan cepat Adara menarik lengan sepupunya.
__ADS_1
"Adara, ada apa?" tanya Kira yang merasa bingung.
Adara membawa Kira masuk ke ruangannya, dia menatap dengan tatapan tajam pada sepupunya.
"Aku ingin tahu siapa nama pria yang telah menyakiti hati sahabatku?" tanya Adara sembari melipat kedua tangannya
"A-apa? Ma-maksudmu a-apa Adara?" tanya Kira dengan terbata-bata
"Aku butuh jawaban bukan pertanyaan balik!" ujar Adara
"Namanya Fikri," jawab Kira penuh rasa gugup.
Adara tertawa melihat raut wajah Kira saat berbohong, dia tidak menyangka akting sepupunya sekaligus sahabatnya begitu sempurna.
"Ada apa kamu menayakan nam...."
"Aku ingin membatalkan pernikahanku dengan Dokter Syarif," ujar Adara.
Kira terkejut dengan ucapan sahabatnya yang ada di depannya.
"Kenapa?" tanya Kira dengan penasaran.
"Apa kamu menyukainya, Kira?"
"Ti-tidak!! Bukannya pernikahan kalian beberapa hari lagi,"
"Aku tidak mencintai Dokter Syarif, aku ingin menikah dengannya untuk terhindar dari Devano, tapi saat aku mengetahui kalau sahabatku mencintai Dokter Syarif aku akan membatalkan pernikahanku."
Kira tidak menyangka perasaannya diketahui oleh Adara, tapi dia juga tidak ingin karena perasaannya pada Dokter Syarif pernikahan Adara di batalkan.
"Adara, lupakan tentang perasaanku. Perasaan ini hanya sementara, seiring berjalannya waktu cinta ini akan hilang."
"Tapi aku tidak ingin egois bahagia diatas luka sahabatku, kamu adalah sahabatku yang pertama. Kamu tidak menjahuiku karena tidak memiliki Ayah," ujar Adara.
Kira memeluk Adara, mereka berdua menangis dalam pelukan. Kira mencoba menenangkan Adara yang saat ini menangis sekali.
"Adara berhenti menangis, ingusmu mengotori bajuku," ucap Kira dengan nada bercanda.
"Kira, maafkan aku!"
Kira pun membiarkan sahabatnya menangis, dia menepuk-nepuk punggung sepupunya agar tangisan Adara berhenti dan pikirannya sudah jernih kembali.
Adara melepaskan pelukannya, "Aku akan bicara dengan Dokter Syarif dan keluarga Om Gunawan." Ujar Adara.
"Tidak Adara, jangan lakukan itu." Kira mencpba melarang Adara.
Adara hanya diam sembari menatap sahabatnya yang tengah sesegukan di depannya.
"Kamu terlalu baik menjadi sahabatku Kira, aku yang sangat egois jika menghancurkan perasaanmu dan cintamu," gumam Adara dalam hati.
"Aku pergi dulu Adara, jangan pikirkan apa-apa cukup biarkan berjalan dengan jalannya sendiri." Ucap Kira dengan senyum manisnya.
Kira pun pergi meninggalkan ruangan Adara, dengan cepat ia pergi keluarcdari butik dan masuk ke dalam mobilnya.
Air matanya kembali menetes, Kira mencoba menepis semua perasaannya agara sepupunya tidak membatalkan pernikahannya dengan pria yang disukainya.
Bersambung....
__ADS_1