HAMIL SEBELUM MENIKAH

HAMIL SEBELUM MENIKAH
Bab 59


__ADS_3

Di lain tempat Adara tersadar dan sudah berada di sebuah gedung tua entah itu dimana, tubuhnya sudah terikat di sebuah kursi dengan tali yang kuat.


Pintu terbuka Evelyn dan seorang gadis masuk mendekati Adara yang sudah sadar dari pingsannya, "Ternyata sudah sadar," ucap Evelyn.


"Apa-apaan ini, lepaskan!" teriak Adara.


"Ckckck. Kamu tidak perlu berteriak seperti itu," balas Annisa.


"Annisa," gumam Adara.


"Aku dengar kamu sedang hamil anak calon suamiku, bagaimana jika aku menyingkirkannya agar tidak menjadi penghalang bagi cinta kami."


Adara terkejut mendengar ucapan Annisa, dia tidak menyangka wanita yang dikiranya baik saat pertama bertemu di rumah sakit ternyata wanita jahat.


"Cuih! Aku tidak akan membiarkan kalian menyakiti bayiku," ucap Adara dengan meludahi Annisa yang berada di depannya.


Plakk!!! Annisa menampar pipi Adara, "Wanita kurang ajar," geramnya.


Evelyn mendekati mereka seraya tersenyum licik, ia mencengkram pipi Adara lalu menatapnya dengan tatapan kebencian.


"Kau memang mirip dengan wanita hina itu," ucap Evelyn.


"Wanita hina?"


"Tentu saja Kanaya, Ibu dan Anak sama saja tidak punya harga diri."


Adara sangat marah mendengar nama bundanya dibutuhkan sebagai wanita hina, jika dirinya yang di hina dia bisa terima tapi tidak dengan bundanya.


"Jangan menghina bundaku dari mulut kotormu!" teriak Adara.


"Ckckck. Apa kamu tahu masa lalu orang tuamu? aku yakin pasti kamu tidak tahu apa-apa karena melihat responmu yang sangat menyayangi Kanaya."


"Masa lalu tetaplah masa lalu, jika aku ingin membenci maka Nyonya Hanendra lah yang paling aku benci."


"Aku akan mengabulkan keinginanmu untuk membenciku, gadis manis."


Evelyn memberi isyarat pada dua pria yang berada di depan pintu untuk membawakan makanan padanya, entah makanan apa itu tapi itu tidaklah baik.


"Suamiku tidak ingin cucunya lahir ke dunia maka dari itu aku yang harus mewujudkannya, apa ada kata terakhir untuk bayimu yang belum sempat melihat wajah orang tuanya?"

__ADS_1


Adara terkejut mendengar ucapan Evelyn, dia menatap makanan yang ada di tangan wanita paruh baya yang tengah berdiri di depannya.


Annisa mencengkram erat kedua pipi Adara untuk membuka mulutnya yang tertutup rapat, "Sungguh kasihan!" bisiknya.


Satu suapan masuk kedalam mulut Adara, sekuat tenaga ia mencoba menahan makanan itu masuk kedalam perutnya. Air matanya menetes lewat sudut mata indahnya, "Maafkan aku, Nak!" batin Adara.


Setelah makanan yang ada di mulut Adara tertelan Evelyn kembali memasukkan makanannya hingga habis, "Gadis pintar," ucap Evelyn.


Terdengar suara perkelahian di luar gedung, Annisa dan Evelyn datang melihat apa yang sedang terjadi di luaran sana. Betapa terkejutnya mereka saat melihat sebagian anak buahnya sudah terkapar di tanah.


"Evelyn kembalikan putriku," ucap Alex dengan wajah dinginnya.


"Aku juga sudah selesai bermain-main dengannya." Seringai licik Evelyn.


Terdengar suara teriakan Adara dari dalam, Devano ingin masuk tapi di halau oleh beberapa anak buah Evelyn dan Albi.


"Merepotkan," gumam Devano.


"Evelyn!" Teriak Raka Hanendra.


Evelyn sangat terkejut melihat suaminya tengah menodongkan pistol di kepala ayahnya, dia tidak percaya jika Raka Hanendra yang sangat membenci keluarga Handoko kini menjadi partner untuk menyelamatkan putri Alex.


"Serahkan Adara atau peluru dalam pistol ini akan menembus kepala tua ayahmu," ancam Raka Hanendra pada Evelyn.


Raka Hanendra menurunkan pistol dari Tuan Sanjaya, Albi mendorong Adara setelah Tuan Sanjaya berjalan mendekatinya.


Dor...!! Dor...!!! Suara tembakan terdengar dari pistol Tuan Raka, ia menembak Tuan Sanjaya dan lengan Albi hingga pistol yang ada di tangan Albi jatuh ke tanah.


"Bawa Adara ke rumah sakit sekarang, urusan disini biar Papi yang mengurusnya!" ucap Tuan Raka pada putranya.


"Aku akan menemanimu disini untuk membalaskan kesakitan putriku," timpal Alex.


Devano dan Kavin langsung membawa Adara pergi dari sana, Adara hanya merintih kesakitan dan darah segar menetes dari sela-sela kakinya.


"Adara bertahanlah, kami akan membawamu ke rumah sakit," ucap Devano yang tengah menggendong Adara.


Kavin yang mengendarai mobil sedangkan Devano duduk di belakang bersama Adara, pakaian dan lengannya penuh dengan darah Adara sesekali ia mengusap perut wanita yang sangat dia cintai itu.


Mobil berhenti di depan rumah sakit, Kavin berlari mengambil brankar untuk adiknya dan Devano langsung membaringkan Adara.

__ADS_1


Kekhawatiran di wajah tampan kedua pria itu saat tubuh Adara masuk kedalam kamar UGD, Devano mondar mandir di depan pintu kamar sedangkan Kavin pergi mengisi formulir administrasi adiknya.


Setelah mendapat telepon dari putra sulungnya Kanaya langsung bergegas pergi ke rumah sakit, saat dia baru tiba-tiba ia melihat putranya dan Devano tengah menunggu di depan kamar UGD.


"Bagaimana keadaan Adara?" tanya Kanaya.


Kavin menghampiri bundanya mencoba menenangkannya, "Dokter masih menanganinya didalam."


Sejam berlalu pintu kamar terbuka, Devano, Kanaya dan Kavin menghampiri Dokter yang keluar dari kamar bersama dua Suster.


"Dok, bagaimana keadaan putri saya?" tanya Kanaya yang sudah tidak bisa menahan kekhawatirannya.


"Putri ibu saat ini sedang dalam kondisi belum sadar karena efek obat. Saya juga ingin menyampaikan kalau bayi dalam kandungan pasien tidak bisa diselamatkan," ucap Dokter.


Devano yang mendengar jika bayinya tidak bisa diselamatkan membuatnya menangis, ia tidak menyangka baru tadi pagi dia merasakan kebahagiaan akan menjadi orang tua kini harus pupus karena Adara keguguran.


Sedangkan Kanaya menangis dalam pelukan Kavin, dia tidak menyangka putrinya akan mengalami keguguran. "Bagaimana jika Adara tahu bahwa bayinya telah tiada," ucap Kanaya di tengah tangisnya.


"Bagaimana ini bisa terjadi, siapa yang melakukannya?" tanya Kanaya pada putranya.


"Nyonya Evelyn," jawab Kavin.


Wajah Kanaya berubah geram mendengar nama wanita yang sudah menghancurkan keluarganya dua puluh tahun lalu.


"Antar Bunda pada wanita iblis itu!" ucap Kanaya.


"Ayah dan Tuan Raka yang menanganinya, Bunda hanya perlu fokus menjaga Adara saat ini."


Kanaya menoleh ke arah Devano, dia tahu saat ini pria yang dicintai oleh putrinya juga sangat sedih mendengar calon anaknya sudah tiada. Kanaya menghampiri Devano yang duduk di kursi bersandarkan tembok.


"Nak, bersihkan badanmu agar Adara nanti tidak melihat darah ditubuhmu," ujar Kanaya, Devano hanya mengangguk.


Kanaya masuk kedalam kamar menemani putrinya yang masih belum sadar, Devano menghubungi Arka untuk membawakannya pakaian ke rumah sakit.


Kira, Echa dan Dokter Syarif datang setelah Kavin memberi tahu jika Adara masuk rumah sakit dan mengalami keguguran.


"Kak Kavin, bagaiman keadaan Adara sekarang?" tanya Kira.


"Dia belum sadar karena efek obat," jawab Kavin.

__ADS_1


Karena masih di UGD dan belum pindah kamar hanya boleh satu orang yang berada di dalam, tidak lama Arka pun datang membawa pakaian untuk Devano.


Bersambung...


__ADS_2