HAMIL SEBELUM MENIKAH

HAMIL SEBELUM MENIKAH
Bab 62


__ADS_3

Tuan Raka yang mendengar kabar jika putranya sudah melewati kondisi kritis dia meminta Suster untuk membawanya ke kamar Devano, tapi Suster menolak karena kondisi Tuan Raka juga belum bisa turun dari ranjang.


Dokter tengah memeriksa kondisi Devano, sedangkan Adara dan Alex menunggu di luar kamar. Tampak kegelisahan di wajah Adara tapi ayahnya menenangkannya.


"Devano akan baik-baik saja, sayang."


Adara mengangguk dalam pelukan ayahnya.


Tidak lama Dokter keluar dan memberitahu kondisi Devano kian membaik.


"Syukurlah, Syukurlah," ucap Adara dan Alex bersamaan.


Setelah melihat kembali kondisi Devano, Alex pamit pada putrinya untuk ke kantor. "Jika ada apa-apa, hubungi Ayah."


"Iya, Yah. Hati-hati!"


Kini tinggal Adara dan Devano di sana, ia menatap wajah Devano yang terlihat pucat, dia menggenggam jemari Devano lalu mengecupnya.


"Dev, apa kamu tidak bosan? Atau kau akan terus seperti ini?"


Masih tidak ada respon dari Devano.


Ceklek!!


Dokter Syarif masuk ke dalam kamar seraya membawa buah dan sarapan untuk Adara.


"Dokter!" Ucap Adara. Saat ia ingin berdiri dari duduknya tiba-tiba genggaman Devano sangat kuat membuat Adara menoleh ke arah Devano.


"Adara, Kira menitipkan buah-buahan dan sarapan padamu. Katanya dia akan kemari setelah dari butik," ujar Dokter Syarif, dan di angguki oleh Adara.


Hening. Rasa canggung menyelimuti kamar itu, Adara hanya diam duduk di samping kiri tempat tidur Devano sedangkan Dokter Syarif hanya berdiri di samping kanan.


"Dia belum juga sadar?" Dokter Syarif pun memulai percakapan.


"Belum."


"Adara aku ingin bicara denganmu, aku tidak bisa membicarakan ini pada keluargaku dan keluargamu." Dokter Syarif pun menundukkan kepalanya.


Adara yang penasaran apa yang ingin di bicarakan oleh pria yang pernah hampir menjadi suaminya.


"Dev, aku akan keluar sebentar!" Bisik Adara di telinga Devano.

__ADS_1


Adara dan Dokter Syarif keluar kamar menuju ke kantin rumah sakit yang tidak jauh dari kamar rawat Devano. Setibanya disana mereka pun memilih duduk di meja paling pojok agar pembicaraannya tidak terdengar.


"Apa ada masalah Dokter dengan Kira?" Tanya Adara setelah mereka sudah duduk.


"Aku akan menceraikan, Kira. Pernikahan kami bukan keinginanku dan juga kamu yang seharusnya menjadi istriku bukan Kira!"


"Takdir Dokter bersama Kira, aku mencintai Devano!" Ucap Adara.


"Aku tidak bisa mencintai Kira seperti aku mencintaimu, Adara. Sampai saat ini cinta itu masih besar disini!" Dokter Syarif menunjuk dadanya.


Dokter Syarif menggenggam tangan Adara, di pintu masuk kantin Kira yang ingin menghampiri sang suami dan sepupunya langsung menghentikan langkah kakinya saat melihat suaminya sedang menggenggam tangan Adara.


Kira yang melihat tatapan suaminya ke Adara lebih tulus dari tatapan Syarif kepadanya. "Aku pasti salah, Adara tidak mungkin menikamku dari belakang? Tapi kenapa kak Syarif menggenggam tangan Adara dan juga tatapannya sangat berbeda." Ucap Kira seraya menangis, ia pun pergi meninggalkan kantin rumah sakit.


"Jangan menyakiti, Kira. Masa lalu antara aku dan Dokter sudah berlalu, jangan mengharapkannya akan terulang kembali!" Ucap Adara lalu menarik tangannya dari genggaman Dokter Syarif.


"Apa dulu kamu tidak pernah mencintaiku sedikit pun, Adara?"


"Tidak! Aku harap Dokter memikirkan perasaan Kira." Adara pun pergi meninggalkan Dokter Syarif.


Adara kembali ke kamar Devano. Hari sudah sore Kavin yang baru datang meminta adiknya untuk pulang.


"Adara, kamu pulang dulu untuk istirahat. Biar aku yang menjaga Devano," ucap Kavin.


"Bagaimana keadaan Devano dan Tuan Raka?" Tanya Kanaya seraya duduk di kursi.


"Tuan Raka sudah membaik kalau Devano keadaannya sudah stabil hanya saja dia belum membuka matanya," jawab Adara.


"Bunda kesini bareng bertiga?" Tanya Kavin.


"Iya. Tadi Kira ke rumah saat Bunda dan Kenan ingin ke rumah sakit, jadi sekalian pergi bersama."


Adara masih melihat Kira yang hanya diam membisu tidak berkata apa-apa. Ia pun mengajak sepupunya itu untuk keluar, Kira yang awalnya tidak mengiyakan akhirnya menuruti Adara.


Adara memilih tangga darurat untuk tempat berbicara pada Kira, "Kira, apa kamu bahagia bersama Dokter Syarif?" Tanya Adara penuh keseriusan.


Mendengar pertanyaan Adara, Kira menoleh lalu memeluk sahabatnya. "Aku sangat mencintainya, Ra. Dua puluh tahun bukan waktu yang singkat, tapi kenapa dia tidak mencintaiku." Tangisan Kira pecah, Adara pun menepuk punggung Kira.


"Tadi Dokter Syarif datang menemuiku," ujar Adara.


"Harusnya aku tidak menggantikanmu menikah dengannya. Harusnya aku tidak serakah untuk memilikinya. Dia tidak ingin menyentuhku karena baginya aku hanya seorang adik," ucap Kira sembari menangis tersedu-sedu.

__ADS_1


Mendengar kisah pernikahan sahabatnya yang ia kira baik-baik saja Adara hanya bisa menenangkan Kira, dia ingin memberitahu jika Dokter Syarif ingin menceraikannya tapi ia urungkan. Adara tidak ingin larut masuk dalam masalah rumah tangga sepupunya itu.


Drrrttt!!!


Ponsel Adara bergetar, ia melihat nama kakaknya di layar ponselnya. Dengan cepat ia pun menjawab, "Halo, Kak!"


"Devano sudah sadar."


Mendengar jika sang kekasih sudah sadar Adara begitu bahagia, ia pun mematikan sambungan teleponnya dan mengajak Kira untuk kembali.


***


Dokter memeriksa Devano yang sudah sadar, dokter pun pamit setelah memberitahu kondisi terkini Devano.


"Adara," ucap Devano saat melihat keluarga kekasihnya ada tapi Adara tidak ada diantara mereka.


"Dia keluar bersama Kira, sebentar lagi dia akan datang."


Pintu kamar terbuka, dengan langkah cepat Adara mendekati tempat tidur Devano. Ia begitu bahagia saat melihat pria yang di cintainya sudah membuka mata.


"Dev!" Panggil Adara.


Tidak lama Raka dan Alex juga datang, kedua keluarga itu sangat bahagia. Raka pun berterima kasih pada Alex dan Kanaya serta meminta maaf pada Adara atas kesalahannya di masa lalu.


***


Seminggu berlalu Devano sudah di perbolehkan pulang, Adara dan Kavin mengantarnya kbali ke kediaman keluarga Hanendra. Setelah sampai di rumah Kavin membantu Devano dengan memapahnya.


"Ternyata rumah ini masih sama persis saat aku masih menjadi keluarga Hanendra," ucap Kavin saat ia masuk kerumah keluarga Hanendra.


Tidak lama Arka datang dengan tergesa-gesa, Kavin meminta sang Adik untuk mengantar Devano ke kamar.


Setelah kepergian Adara dan Devano, Arka mulai menyampaikan apa yang ia ketahui selama penyelidikan tentang serangan malam itu.


"Semua bukti mengarah pada keluarga Albi," jelas Arka.


Mendengar nama Albi amarah Raka langsung membara, "Bawa orang itu kehadapanku, aku ingin lihat keberaniannya tanpa menyerang dari belakang!" Ucap Tuan Raka penuh amarah.


"Baik, Tuan." Arka pun pamit pergi.


"Aku tidak yakin jika hanya keluarga Albi yang merencanakan penyerangan ini," ujar Kavin.

__ADS_1


"Benar. Tapi sekarang jangan memikirkan hal yang tidak menyenangkan, stelah Devano sehat aku akan membicarakan pernikahan pada Alex."


Bersambung....


__ADS_2