HAMIL SEBELUM MENIKAH

HAMIL SEBELUM MENIKAH
BAB 39


__ADS_3

Adara memilih pulang sendiri daripada diantar oleh Kavin, dia tidak ingin di introgasi sama kakaknya.


Saat di perjalanan mobilnya tiba-tiba mogok, "Hah! Ini mobil kenapa, pakai mogok segala," gumam Adara.


Dia mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi Kavin, tapi tidak diangkat.


"Kakak, angkat dong." Ucap Adara saat kedua kalinya menghubungi Kavin, tapi tetap saja tidak ada jawaban.


Dari jauh terlihat sebuah mobil yang datang dari arah berlawanan, Adara dengan cepat keluar dari mobilnya dan mencoba meminta bantuan.


Mobil berwarna putih berhenti di samping mobil Adara, kaca mobil terbuka terlihat pria tampan dengan senyuman manisnya.


"Adara, ada apa dengan mobilmu?" Tanya dokter Syarif.


"Dokter Syarif. Ah! Ini mobilku sedang mogok, aku mencoba menghubungi kak Kavin tapi tidak di angkat." Jawab Adara dengan senyum manisnya.


Dokter Syarif keluar dari mobilnya dan menghampiri Adara yang berdiri di depan mobilnya, dokter Syarif membuka kap depan mobil Adara, "Ini perlu di bawa kebengkel, aku akan menghubungi bengkel langganan keluargaku dulu." Ujar dokter Syarif.


Setelah menghubungi pihak bengkel, dokter Syarif kembali menutup kap mobil.


"Mereka akan datang mengambil mobilmu. Kamu mau kemana? Biar aku antar." tawar dokter Syarif.


"Aku mau ke butik, tapi apa tidak merepotkan Dokter?" Adara sedikit canggung.


"Tidak, hari ini aku libur." Jawab dokter Syarif dengan senyum yang menawan.


Mereka berdua masuk ke dalam mobil, saat dokter Syarif ingin menginjak pedal gas mobil, ponselnya berdering.


"Halo, Pa."


"......"


"Baik Pa, nanti Syarif kesana."


Dokter Syarif mengakhiri sambungan teleponnya, "Aku di minta papaku ke rumah Tuan Handoko."


"Untuk apa?" Adara tampak penasaran.


"Katanya Tuan Handoko memintaku datang kesana." jawab dokter Syarif, lalu melajukan mobilnya meninggalkan mobil Adara disana.


Hanya dua puluh menit mereka sampai di depan butik Adara, "Dokter, terima kasih." Ucap Adara.


"Sama-sama." Jawab dokter syarif.


Adara membuka pintu mobil lalu keluar, "Hati-hati." Ucap Adara, dokter Syarif mengangguk sambil tersenyum.


Di pintu butik Kira melihat Adara yang turun dari mobil dokter Syarif langsung menghampiri sepupunya.


"Adara." Kira menepuk bahu Adara.

__ADS_1


Adara menoleh, "Kira."


"Kenapa bisa kamu turun dari mobil dokter Syarif? Lalu sejak kapan kamu kenal dia." Tanya Kira.


"Dia pernah memeriksa kondisi kak Kavin, tadi mobilku mogok di jalan pas sekali dia lewat." Jawab Adara lalu menarik tangan Kira.


"Kira, Opa sama Oma baik-baik saja kan?" Adara menatap Kira.


"Ya, tadi pagi mereka baik-baik saja. Ada apa?" tanya Kira dengan ekspresi bingung.


"Aku hanya ingin tau kondisi mereka, nanti sore aku ikut di mobilmu ya."


"Oke." Jawab Kira.


Adara dan Kira pun masuk, mereka berpisah saat masuk ke ruangan masing-masing.


*****


Mobil dokter Syarif berhenti di depan kediaman utama Keluarga Handoko, dia terkejut saat melihat mobil papanya terparkir di halaman rumah Handoko.


Dengan rasa penasaran dia dengan cepat keluar dari mobil, dokter Syarif dengan langkah cepat masuk kedalam rumah Keluarga Handoko.


"Papa." Panggil dokter Syarif saat dia melihat papanya dan Tuan Handoko sedang duduk di ruang tamu.


"Kamu sudah datang?" Dokter Gunawan tersenyum.


"Ada apa Papa menyuruhku kemari?" Tanya dokter Syarif.


Dokter Syarif mulai memeriksa denyut nadi Tuan Handoko, "Denyut nadi Tuan normal, hanya perlu istirahat dan jangan banyak pikiran saja." Ujar Dokter Syarif.


"Apa putramu sudah menikah?" Tanya Tuan Handoko pada dokter Gunawan.


"Belum Tuan, kami sudah menyuruhnya mencari calon istri mengingat umurnya sudah tua." canda dokter Gunawan, dan mereka bertiga tertawa.


"Aku memiliki dua cucu perempuan, siapa tau ada yang cocok denganmu nak." Tuan Handoko menatap serius ke arah dokter Syarif yang masih duduk di sampingnya.


Dengan canggung dihati, dokter Syarif hanya tersenyum menanggapi ucapan Tuan Handoko.


"Kapan-kapan kita bahas soal perjodohan ini dengan keluarga, kami akan mengabari keluarga Dokter Gunawan." Ujar Tuan Handoko.


Setelah memeriksa kondisi Tuan Handoko dan berbincang-bincang dokter Gunawan dan dokter Syarif pun pamit, dokter Syarif masuk kedalam mobilnya dia menoleh ke kursi sebelahnya, dengan senyum manisnya di menyebut satu nama, "Adara." Batin dokter Syarif.


Kavin yang sibuk membantu Alex di kantor, memeriksa ponselnya yang sedari tadi tergeletak di atas sofa, dia terkejut saat melihat ada dua panggilan dari adiknya.


Dengan cepat dia menghubungi kembali ponsel Adara, "Ada apa?"


"....."


"Tadi aku sibuk membantu Ayah, jadi aku tidak mendengar ponselku berdering."

__ADS_1


"......."


"Kamu tidak perlu khawatir. Jangan menyalahkan dirimu sendiri, jangan sampai Bunda juga ikut khawatir. Paham!"


"......."


"Baiklah, aku akan menutup telponnya, karena aku dan paman Gio sangat sibuk."


Kavin mematikan ponselnya dan kembali fokus pada pekerjaannya.


Kavin menoleh ke arah Gio yang sedang memeriksa dokumen-dokumen penting, "Paman, apa tidak ada jalan lain?" tanya Kavin.


"Tidak ada, hanya Tuan Muda Hanendra yang bisa menolong kita, tapi kelihatannya itu mustahil karena orang licik yang ada disana tidak akan membiarkan itu terjadi." Ujar Gio.


Kavin kembali berpikir, apa yang harus dia lakukan untuk menolong keluarganya. "Aku akan mengirimkan e-mail pada Devano, jika ini tidak berhasil aku akan pergi ke Inggris menemuinya." Batin Kavin.


*****


Di Inggris Devano terlihat cukup sibuk, dia menoleh ke layar laptopnya saat sebuah e-mail masuk.


"Dari Kavin?" Batin Devano.


"Direktur, Pak Presdir ada di ruang tunggu." Ucap sekertaris Devano.


"Aku akan kesana." Devano dengan cepat berjalan menuju ruang tunggu, dia bingung apa yang membuat papanya datang ke perusahaan secara tiba-tiba.


Devano membuka pintu tampak Tuan Hanendra sedang duduk di sofa sambil memainkan smartphonenya.


"Papa, kenapa datang tiba-tiba?" Tanya Devano.


"Papa ingin memberimu kejutan, dan memberimu hadiah."


"Kejutan?" Devano memasang ekspresi bingung.


"Tiga bulan lagi, Papa akan menyerahkan perusahaan sepenuhnya padamu." Ucap Tuan Hanendra.


Devano tersenyum tipis, ada rasa lega di hatinya karena tidak lama lagi dia akan sepenuhnya berkuasa, tapi rasa ketakutan kembali datang dalam hatinya saat mengingat tatapan Adara saat dia merampas kehormatan wanita yang disayanginya pada hari itu.


"Apa yang sedang kau pikirkan?" Selidik Tuan Hanendra.


"Tidak ada Pa, aku hanya memikirkan pekerjaan yang sedang menantiku disini." Devano mencoba memberi alasan yang masuk akal pada papanya, agar dia tidak di curigai kembali.


"Papa akan kembali ke Indonesia lusa, dan akan kembali ke Inggris bersama mommy dan kakekmu tiga bulan lagi." Ujar Tuan Hanendra.


Tuan Hanendra pergi meninggalkan Devano yang masih berada di dalam ruang tunggu, senyuman merekah di bibir Devano.


"Tiga bulan, aku akan meminta maaf tiga bulan lagi. Adara aku harap kita bisa memulai hubungan yang sesungguhnya bukan di dasari kebohongan dan balas dendam." Ucap Devano.


Bersambung.....

__ADS_1


Jangan lupa Like, dan Votenya kakak.


Follow ig panda.sweety10....


__ADS_2