HAMIL SEBELUM MENIKAH

HAMIL SEBELUM MENIKAH
BERTEMU


__ADS_3

Alex pun sampai di kantornya, Gio yang sudah sampai pun menghampiri bossnya.


"Rapat akan dimulai, Gio tolong urus semuanya 2 menit lagi kita akan adakan rapat."


"Baik tuan muda."


Gio pun keluar dari ruang kerja Alex, tak lama Andra pun masuk. "Kakak, kenapa rapat di adakan mendadak."


"Aku harus menyelesaikan semua pekerjaan ini, setelah itu ada urusan yang sangat penting yang akan ku lakukan."


"Apa itu soal pernikahan kakak dan Evelyn?" Alex pun mengangguk.


"Apa tuan Sanjaya mendesak papa dan mama untuk menikahkan kalian?" Alex pun kembali mengangguk."


"Sial, ternyata si tua itu sudah tidak sabar." Andra mengumpati tuan Sanjaya.


"Aku sudah menemukan gadis malam itu."


"Benarkah? Lalu siapa dia?"


"Di sahabat istri Gio."


Andra melototkan matanya mendengar ucapan kakaknya, orang yang membuat kakaknya begitu antusias terhadap wanita adalah sahabat istri sekertarisnya sendiri.


"Dunia memang sangat sempit kak, selama 5 tahun kakak membayar orang untuk mencarinya ternyata dia ada di sekitar sekertaris kakak." Andra pun tertawa.


"Kau menertawakan kakakmu." Alex menatap tajam ke arah Andra.


"Karena ini seperti cerita di film-film romansa." Andra masih tertawa.


"Sejak kapan kamu tau film-film seperti itu?" Alex kembali menatap dokumen-dokumen yang ada di mejanya.


"Sejak aku menikah dengan istriku Adele."


"Ternyata waktumu banyak juga sampai-sampai punya waktu melihat film yang tidak penting seperti itu."


"Hah! Kalau gitu aku kembali keruanganku saja." Andrapun pergi.


"Aku harus memastikan Adara dan Kavin adalah anakku, dengan begitu aku bisa membatalkan pernikahan ini." Alex pun berdiri dan pergi untuk rapat.


Siang itu di Sekolah Anak Bangsa Adara dan Kira sedang bermain sedangkan Kavin mengawasinya, dia masih belum bisa percaya begitu saja.


Tiba-tiba "Kak Kavin ini coklat untukmu." Ucap seorang gadis mungil di samping Kavin.


"Aku tidak mau." Tolak Kavin tanpa melihat gadis itu.


"Kenapa begitu, mamaku sering memberikan papaku coklat."


"Ya sudah berikan sama papamu saja."


"Papaku kan ada mamaku. Jadi aku ingin memberikan coklat ini ke kak Kavin."


Kavin menatap dingin gadis kecil di sampingnya "Aku tidak menyukaimu, jadi pergi sana."

__ADS_1


"Tapi Echa suka sama kak Kavin."


Kavin meninggalkan gadis kecil itu dan menghampiri Adara yang masih asyik bermain dengan Kira.


"Adara." Teriak Kavin.


Adara pun berbalik dan tersenyum melihat kakaknya datang, berbeda dengan Kira wajahnya sudah menjadi masam karena kehadiran Kavin.


"Ayo pulang." Kavin pun menarik tangan Adara.


"Kau mencuri Adara dariku." Ucap Kira.


"Adara adikku kenapa aku harus mencurinya darimu." Kira pun menarik tangan Adara yang satunya , tak ada yang ingin mengalah.


"Kira hari ini aku pulang bersama kak Kavin, besok aku aku akan pulang bersamamu." Ucap Adara dan Kira pun melepas genggamannya.


"Ya sudah aku mengalah, tapi janji besok pulang bersama." Adara mengangguk.


Adara dan Kavin pun pergi, di depan gerbang Echa gadis kecil menatap Kavin dan Adara, Adara pun membalas menatap gadis kecil itu sedangkan Kavin tidak menghiraukannya seolah-olah tidak ada orang.


Kanaya yang sibuk di toko kue bersama Jenni terkejut karena kedatangan Gio dan Alex, Jenni menghampiri suaminya dan bertanya apa yang membuatnya kemari. Tanpa basa basi Alex pun berkata "Kanaya aku ingin berbicara denganmu."


"Denganku?" Kanaya menatap Gio dan Jenni, dan di balas anggukan oleh sahabatnya.


Kanaya pun mengangguk dan berjalan ke pintu toko, Alex pun mengikutinya dari belakang.


"Tuan ingin berbicara apa?" Ucap Kanaya yang sudah duduk di bangku depan toko.


Alex pun ikut duduk di samping Kanaya "Aku ingin meminta maaf atas kesalahanku Kanaya."


Alex pun menceritakan kalau dirinya yang telah menghancurkan hidup Kanaya pada malam di hotel kamar 500, Kanaya menatap Alex dengan tatapan menjijikkan dan kebencian.


Kanaya tidak menyangka kenangan itu kembali dia ingat air matanya pun mengalir di pipi mulusnya, Alex menatap Kanaya dengan rasa bersalah.


"Kanaya aku akan bertanggung jawab."


"Tidak, aku dan anakku sudah bahagia jadi tolong jangan ganggu hidup kami."


"Adara dan Kavin juga anakku Kanaya, ijinkan aku memenuhi kewajibanku kepada mereka."


Kanaya menggelengkan kepalanya dan berdiri belum sempat ia lari tangannya sudah di genggam oleh Alex.


"Kanaya aku juga menderita 5 tahun mencari kalian sampai akhirnya aku menemukanmu dan anak kita."


Kanaya menghempaskan tangan Alex dan meninggalkannya sendirian di bangku depan toko.


"Kanaya." Panggil Jenni.


"Jen, aku pulang duluan." Kanaya mengambil tasnya lalu meninggalkan Jenni. Sedangkan Gio menghampiri Alex yang masih di depan toko.


"Kanaya." Teriak Alex, tapi Kanaya tak menghiraukannya.


Kanaya sampai di rumah dan disambut dengan anak kembarnya, dia pun memeluk Adara dan Kavin seolah-olah akan berpisah.

__ADS_1


"Bunda." Ucap Adara.


"Bunda menangis lagi." Kavin menghapus air mata Kanaya.


Kanaya mendengar suara mobil berhenti di depan rumahnya diapun menyuruh Adara dan Kavin untuk masuk kekamar mereka "Kalian masuk kamar dan jangan keluar." Perintah Kanaya, Adara dan Kavin pun megangguk dan pergi ke kamar mereka.


"Kanaya." Ucap Alex saat Kanaya berdiri di pintu rumahnya.


"Kanaya Aku-."


"Tuan silahkan pergi."


"Kanaya kasih aku kesempatan, aku akan memberikan kalian kebahagiaan." Alex langsung berlutut di depan Kanaya.


Kanaya pun terkejut tapi masih bisa dia kendalikan "Tanpa tuan kami sudah bahagia." Kanaya pun langsung menutup pintu dan pergi kekamarnya.


Adara dan Kavin yang penasaran apa yang terjadi di luar keluar dari kamar "Kakak bunda bertengkar dengan siapa?" Kavin hanya mengangkat kedua bahunya.


Alex masih berlutut di depan pintu rumah berharap pintu itu terbuka dan benar saja pintu itu terbuka, Kavin dan Adara kaget melihat paman besar Kira sedang berlutut di depan pintu rumah mereka.


"Kenapa om menangis." Adara menghampiri Alex.


Alex langsung memeluk Adara dan menciumnya, Kavin melihat itu membuatnya geram dan menarik Adara.


"Om itu tidak sopan."


"Om adalah ayah kalian." Ucap Alex.


"Ayah?" Adara dan Kavin saling memandang satu sama lain.


"Bunda sudah bilang kalian jangan keluar." Tiba-tiba Kanaya sudah berdiri di belakang Adara Kavin.


"Kanaya."


Tanpa basa basi Kanaya menutup kembali pintu rumahnya dan mengajak anak-anaknya masuk ke kamar.


"Bunda apa benar om Alex adalah ayah?" Tanya Adara.


"Kalian masuk."


"Bunda."


Kavin menarik tangan Adara dan membawanya masuk ke kamar, Adara menatap Kavin dengan tatapan sedih.


"Jangan pernah brertanya apapun pada bunda Adara."


"Kakak pasti ingin tau juga kan."


"Laki-laki itu bukan ayah kita."


"Tapi om Alex bilang kalau dia ay-."


Kavin menatap tajam kearah adiknya berharap tidak melanjutkan pertanyaan itu lagi. "Kalau dia memang ayah kami, aku harus menanyakan kenapa dia tidak menemui kami." Batin Kavin.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2