HAMIL SEBELUM MENIKAH

HAMIL SEBELUM MENIKAH
BAB 40


__ADS_3

Devano kembali ke ruangannya, dia membuka apa pesan e-mail yang di kirim oleh Kavin.


Sebuah pesan agar Devano kembali ke Indonesia dan menyelesaikan masalah yang telah dia perbuat. Devano mengusap wajahnya dengan kasar, entah apa yang harus dia perbuat sekarang.


"Argh...!!!" Teriak Devano frustasi.


Dengan cepat dia membalas pesan e-mail Kavin, bahwa dia tidak bisa kembali ke Indonesia beberapa bulan.


"Aku percaya kamu bisa menangani semuanya, Kavin." Batin Devano.


Kavin yang mendapat balasan dari Devano dengan cepat membukanya, saat membaca balasan dari Devano wajah Kavin merah padam, kedua telapak tangannya di kepal kuat-kuat.


"Brengs*k, kau memang pria bajingan Devano." Umpat Kavin dengan nada kesal.


Gio yang berada satu ruangan dengan Kavin menoleh melihat putra majikannya yang sedang marah.


"Ada apa Kavin?" Tanya Gio.


"Hah! Aku kira selama tinggal bersama Devano dua pulu tahun, aku sudah mengenalnya tapi ternyata.... Argh!" Teriak Kavin.


"Kavin tenangkan dirimu, jangan membuatmu berfikir keras, jangan sampai kondisimu kembali drop." Gio mencoba menenangkan Kavin yang terlihat sangat marah.


"Paman, aku ingin semua dokumen saham perusahaan." Ujar Kavin, Gio pun mengangguk.


Alex yang selesai rapat dengan para pemegang saham kembali ke ruangannya, saat di membuka pintu terlihat Gio dan Kavin tidak menyadari kedatangannya.


"Apa yang kalian berdua lakukan, sampai harus seserius itu?" Tanya Alex.


"Tuan. Ayah." Gio dan Kavin menyapa Alex.


"Aku sedang mempelajari semua saham yang kita miliki, Ayah." ucap Kavin dan kembali fokus pada dokumen-dokumen yang di berikan Gio.


Kavin berharap akan ada jalan keluarnya, tapi sampai saat ini otaknya belum bisa mendapatkan solusi.


"Apa kita mencoba mencari calon suami buat Nona Muda?" Usul Gio.


Alex dan Kavin menoleh ke arah Gio, "Apa maksudmu, Gio?" Tanya Alex dengan bingung.


"Tuan, kita bisa mencari pria yang mau menikah dengan Nona Muda, dan kita bisa menkonfirmasi pada para pemegang saham kalau pria dalam video itu adalah calon suami Nona Muda." Ujar Gio.


Alex dan Kavin tampak berfikir, usulan Gio ada benarnya, mungkin ini satu-satunya solusi yang bisa mereka lakukan.


"Aku akan bicara dengan Adara nanti." ucap Alex.


****

__ADS_1


Bibi Fia dan Om Yogi datang kerumah Alex, mereka di sambut dengan bahagia oleh Kanaya.


"Bibi, Om." Sapa Kanaya.


"Bagaimana keadaan kalian, apa cucu Bibi ada di rumah?" Tanya Bibi Fia.


"Selamat datang Kakek dan Nenek." Teriak Kenan yang tiba-tiba muncul dari belakang Kanaya.


Bibi Fia yang kaget menjewer cucunya yang sudah membuatnya kaget.


"Astaga, kamu ini mirip dengan siapa? Kenapa suka membuat Nenek jantungan." Omel bibi Fia.


"Aw! Nenek sakit." Rintih Kenan.


Kanaya dan om Yogi hanya tertawa saat melihat Kenan di jewer oleh bibi Fia, "Kanaya, putramu ini mirip siapa?" Tanya bibi Fia pada Kanaya.


"Nenek, Bunda tidak tau. Yang tau hanya aku dan yang diatas." Kenan menunjuk keatas dengan jari telunjuknya.


"Kamu memang nakal, Kenan bawa koper Kakek dan Nenek." Perintah Kanaya.


"Siap, Bunda." jawab Kenan.


Kanaya pun mengajak bibi dan omnya ke meja makan, karena sudah waktunya makan siang dan dia juga sudah masak jadi mereka berempat akan makan.


"Ya ampun Nyonya, lihat di TV berita tentang perusahaan Tuan." Teriak Ani.


Dengan cepat mereka berlima ke ruang keluarga, Kanaya begitu syok saat mendengar perusahaan keluarga suaminya terancam bangkrut karena skandal video panas dari putrinya, Kenan menahan tubuh Bundanya agar tidak jatuh karena terlalu syok.


"Nak, apa keluargamu baik-baik saja?" Tanya om Yogi.


Kanaya tidak menjawab pertanyaan omnya dan malah menangis, dia tidak menyangka kasus video putrinya kini di ketahui oleh publik.


"Kenapa putriku yang mengalami semuanya. Bibi, Adara tidak sekuat diriku, putriku hatinya sangat rapuh." Ujar Kanaya di tengah tangisnya.


"Kanaya, Bibi yakin cucu bibi bisa melalui semuanya. Dia tumbuh di tangan wanita yang kuat, dia juga akan kuat Nak." Bibi Fia memeluk keponakannya.


"Kenan, kita tinggalkan mereka berdua, biarkan nenekmu menenangkan bundamu." Ucap om Yogi.


Kenan dan om Yogi meninggalkan Kanaya dan bibi Fia di ruang keluarga, kedua pria memutuskan pergi ke taman belakang.


"Apa yang terjadi pada kakakmu, Nak?" Tanya om Yogi saat mereka sudah duduk di kursi taman belakang.


Kenan menatap lurus, sebenarnya dia tidak terlalu banyak tahu soal masalah kakaknya, yang dia tahu kakaknya sudah di nodai oleh pria bajing*n.


"Kakak di nodai oleh kekasihnya Kek, lalu di tinggal pergi. Soal video, aku baru tahu sekarang." jawab Kenan.

__ADS_1


Om Yogi menepuk bahu cucu bungsunya yang terlihat sedih di sampingnya, dia memberikan tepukan menguatkan.


Dibutik, Adara terlihat begitu serius menggambar desain pakaian terbaru, dia di kagetkan dengan pintu terbuka dengan keras.


"Kira, Echa. Kalian membuatku kaget." Ucap Adara.


"Ya ampun Adara, coba lihat berita di TV hari ini." Teriak Echa dengan heboh sambil menyalakan TV yang ada di ruangan itu.


Adara yang melihat berita perusahaan ayahnya dan video panas dirinya sedang di publish di berita, Adara langsung tersungkur di lantai ruangan, dia tidak menyangka akan seperti ini.


"Adara." Kira membantu sepupunya berdiri.


"Echa, matikan TVnya." Teriak Kira.


Dengan cepat Echa mematikan TV, dia menghampiri Kira dan Adara. "Adara maaf, aku....." Echa tidak melanjutkan ucapannya saat mata Kira melotot ke arahnya.


"Aku memang bodoh, Kakak dan Bunda sudah mengingatkanku tapi aku dengan mudahnya tertipu pada cintanya." Adara menangis di pelukan Kira.


Kira mengusap-usap punggung sahabatnya sekaligus sepupunya, mencoba menenangkannya.


"Aku harus pulang, jangan sampai Bunda menonton berita ini dia akan khawatir." Adara mengusap air matanya yang masih mengalir keluar dari kelopak mata indahnya.


"Aku akan mengantarmu." Ucap Kira.


Mereka bertiga pun pergi ke rumah Adara, Adara hanya diam di belakang dan menatap keluar jendela. Kira dan Echa yang tengah duduk di depan hanya saling melirik.


"Adara apa kamu haus?" Tanya Echa.


"Tidak." Jawab Adara.


Jalanan lumayan macet, ponsel Adara kembali berdering, lagi-lagi nomor tidak dikenal. Adara mengabaikannya lalu mematikan ponsel, lima belas menit mobil Kira memasuki halaman rumah Adara.


Adara membuka pintu mobil lalu keluar, dia berlari masuk ke rumah dan mencari Bundanya. Langkahnya terhenti saat dia melihat dua sosok yang sedang duduk di ruang keluarga dengan TV menyala.


"Bunda, Nenek." Panggil Adara.


Kanaya dan bibi Fia menoleh ke belakang, Kanaya berdiri dan merentangkan kedua tangannya. Adara menghampiri bundanya dan masuk dalam pelukan wanita yang telah melahirkannya.


"Bunda, maafkan Adara." Ucap Adara.


"Putri Bunda tidak salah, ini sudah jalannya Nak. Jangan salahkan dirimu sendiri."


"Gara-gara kebodohan dan keras kepalanya aku, keluarga kita kena masalah." Ujar Adara.


"Kakak, paman Gio, paman Andra akan membantu ayahmu menyelamatkan perusahaan. Jadi Bunda ingin kamu tersenyum." Ucap Kanaya, Adara pun mengangguk.

__ADS_1


Bersambung.....


Jangan lupa Like, Komen dan Votenya Kakak....😊


__ADS_2