
Tuan Hadi Handoko berkunjung ke perusahaannya setelah melihat berita di TV, dia meminta zopir pribadinya untuk mengantarnya keperusahaan.
Dengan bantuan tongkat Tuan Handoko masuk ke dalam lift, tidak lama pintu lift terbuka dia berjalan menuju ruangan putranya.
Tuan Handoko masuk ke dalam ruangan Alex, disana sudah ada Kavin, Gio dan Andra.
"Apa yang membuat Papa kemari?" Tanya Andra saat melihat Tuan Handoko.
"Apa aku pensiun, perusahaan juga ikut pensiun dan bangkrut." Tuan Handoko menatap putra tertuanya.
"Alex akan menanganinya, Pa." Ucap Alex.
"Jadi apa solusi yang kamu dapatkan?" tanya Tuan Handoko.
"Kita sudah berundingkan, solusi satu-satunya adalah mencari calon suami untuk Adara." Alex menceritakan rencana mereka pada Tuan Handoko.
Tuan Handoko tersenyum, "Pas sekali, aku sudah mendapatkan calon untuk cucuku." Wajah Tuan Handoko tampak bahagia.
"Opa sudah mendapatkan calon suami untuk Adara? Siapa?" Tanya Kavin yang penasaran dengan pria yang di pilih opanya untuk menjadi suami adiknya.
"Makan malam nanti akan di adakan di kediaman utama, kalian semua akan tau nanti malam." Ujar Tuan Handoko.
"Secepat itu, Pa?" Ucap Alex.
"Apa kau akan menunggu sampai perusahaan bangkrut, Keluarga Hanendra yang sudah puluhan tahun tidak berani memandang pada Keluarga Handoko, kini sedang menertawakan kita." Ujar Tuan Handoko.
Raut wajah Hadi Handoko yang sudah keriput itu menajamkan pandangannya kearah putra sulungnya.
"Masalah ini tidak bisa di tunda lagi, saham kita sudah menurun drastis," ucap Hadi Handoko.
"Apa pria itu akan melindungi Adara dari pendapat publik tentang video itu, Pa?" Tanya Alex.
"Kita akan mengetahui nanti malam, jadi ingat jangan ada yang terlambat datang." Hadi Handoko pun berdiri melangkah ke arah pintu dan pergi dari ruangan Alex.
Di rumah Kanaya dan yang lainnya sedang makan siang, tak ada suara kecuali dentingan sendok dan piring terdengar di ruang makan.
Telepon rumah berbunyi, Kenan yang sudah selesai makan lebih dulu yang menjawabnya.
"Halo."
"........"
"Nanti malam?"
".........."
"Baiklah Ayah, aku akan sampaikan pada Bunda dan Kak Adara."
Setelah sambungan telepon terputus, Kenan kembali ke meja makan.
"Bun, tadi Ayah yang menelpon. Katanya nanti malam, semua keluarga makan malam di rumah Opa." Ucap Kenan.
Kanaya hanya mengangguk lalu melanjutkan memasukkan suapan ke mulutnya, ekor mata Kanaya melirik ke arah putrinya yang duduk di sampingnya, "Hah!" Kanaya menghela nafas saat mengetahui Adara hanya mengaduk-aduk makanannya.
"Kenapa tidak dimakan, Nak?" Tanya Kanaya.
__ADS_1
"Adara masih kenyang, Bunda." Adara berdiri lalu meninggalkan semua orang yang masih menyantap makan siang mereka.
"Tante, Kira sama Echa ke kamar Adara dulu." Ujar Kira saat dia sudah menghabiskan makanannya, begitupun dengan Echa.
"Iya nak," jawab Kanaya.
Pintu kamar Adara terbuka, Kira dan Echa masuk ke dalam. Adara menoleh melihat siapa yang masuk ke kamarnya.
"Kalian belum kembali ke butik?" Adara menatap kedua sahabatnya.
"Belum. Apa kamu nengusir kami?" Kira kembali bertanya.
"Tidak." Adara kembali menatap keluar jendela.
"Adara, Kalau kamu punya masalah cerita pada kami, kita kan sahabat." Ucap Echa.
Adara tersenyum mendengar ucapan sahabatnya, mereka benar sahabat dan keluarga adalah orang yang selalu ada bersamanya saat dirinya sedang terpuruk.
"Terima kasih.!" Adara memeluk kedua sahabatnya.
****
Keluarga Alex dan Andra sudah berada di kediaman utama Keluarga Handoko, Alex dan Andra sedang berbincang dengan Hadi Handoko.
"Pa, siapa yang ingin papa jodohkan dengan putriku?" Tanya Alex pada Tuan Handoko.
"Pria baik." Hadi menepuk bahu putra sulungnya.
Alex yang masih penasaran siapa pria yang telah papanya pilihkan untuk putrinya.
"Dokter Gunawan?" Batin Alex.
"Maaf, kami sekeluarga terlambat." Ujar dokter Gunawan.
"Tidak apa-apa, ayo kita makan malam." Hadi Handoko mengajak kedua putranya dan tamunya ke ruang makan.
Acara makan malam dimulai, Adara duduk di samping Kanaya, Kavin dan Kenan duduk di samping Alex.
"Dokter Gunawan, keluargamu adalah dokter turun temurun di Keluarga Handoko," ujar Hadi, "Aku sudah percaya pada keluarga kalian, maka dari itu aku ingin menjodohkan putramu dengan cucuku, Adara."
"Uhuk... uhuk..." Adara terbatuk mendengar perjodohan yang di lakukan oleh opanya.
Kanaya dengan cepat memberikan air putih pada putrinya dan mengusap punggungnya.
"Kamu tidak apa-apa, Nak?" Tanya Kanaya dan dijawab dengan anggukan kepala Adara.
"Bagaimana, apa Dokter Gunawan dan nak Syarif setuju dengan perjodohan ini?" Tanya Hadi Handoko.
Dokter Syarif menatap Adara dengan senyum manis, "Saya menerima perjodohan ini Tuan." Jawab dokter Syarif.
"Bagaimana dengan dirimu, Nak?" Tanya Hadi Handoko pada Adara.
Adara terdiam, dia tidak tahu harus menerima perjodohan ini atau tidak.
"Adara." Kanaya menyentuh lengan putrinya.
__ADS_1
"Adara menerimanya." Jawab Adara.
Semua orang lega mendengar jawaban Adara kecuali Kira, karena dia sudah menyukai dokter Syarif dari kecil.
Kini perasaannya harus dia kubur dalam-dalam, pria yang dia sukai selama dua puluh tahun sekarang menjadi calon suami sepupunya.
Adele menggenggam jemari putrinya, dia tahu bahwa Kira menyukai dokter Syarif dari dulu. Kira menoleh ke arah mamanya dan tersenyum, "Tidak apa-apa, Ma."
Setelah selesai makan malam, Alex meminta dokter Syarif mengikutinya ke taman belakang.
"Duduklah!" Ucap Alex.
"Apa yang ingin Tuan bicarakan dengan saya?" Tanya dokter Syarif saat dirinya sudah duduk di salah satu kursi.
"Jangan memanggilku Tuan, sebentar lagi kamu akan menjadi menantuku." Dokter Syarif pun mengangguk.
"Apa kamu tau, hal apa yang menimpa putriku?" Tanya Alex.
"Iya, terutama tentang video itu." Jawan dokter Syarif.
"Hah! Mungkin kamu berfikir, keluarga kami memanfaatkanmu untuk mengembalikan nama baik Adara dan Keluarga Handoko."
"Itu bisa saja terpikirkan olehku, tapi aku menyukai Adara. Maka dari itu aku ingin membantunya." Jawab dokter Syarif.
Alex tersenyum mendengar jawaban pemuda yang duduk di depannya.
"Udara sudah mulai dingin, kita bergabung dengan yang lainnya." Ajak Alex dan di angguki oleh dokter Syarif.
Di pinggir kolam renang, Adara dan Kira tengah duduk di atas ayunan. Adara menatap dengan selidik sepupunya sekaligus sahabatnya yang berada di depannya.
"Ada apa?" Tanya Adara.
"Tidak ada." jawab Kira dengan senyum tipis.
"Kamu ada masalah?"
"Apa kamu, bahagia dengan perjodohan ini, Adara?" Kira menggenggam tangan Adara.
"Entah... aku masih ingin mengenal dokter Syarif lebih dalam lagi, sebelum pernikahan kami di tentukan." jawab Adara.
"Dokter Syarif orangnya baik, dia pasti bisa menjaga dan melindungimu." ujar Kira.
Adara menatap mata sahabatnya, ada kesedihan yang terlukis disana. Adara ingin menanyakannya tapi Kira dengan cepat mengajak Adara masuk ke dalam rumah.
"Adara, ayo kita masuk, udara disini sudah mulai dingin." ajak Kira, mereka pun masuk kedalam rumah dan bergabung dengan keluarga.
Bersambung......
Jangan lupa Like, Komen, dan Votenya.
Follow akun ig panda.sweety10.
Mas Devano nangis karena apa?
Gak tega lihatnya.....😢😢
__ADS_1