
Devano sudah sampai di rumah Alex, dia lalu menekan bel yang ada di samping pintu utama di kediaman Alex.
Tidak lama pintu pun terbuka, Ani menatap pemuda tampan yang tengah berdiri di hadapannya itu.
"Tuan cari siapa?" Tanya Ani.
"Saya ingin ketemu--." Belum selesai Devano bicara, Kanaya datang.
"Siapa yang datang A-ni." Kanaya terkejut melihat siapa yang datang bertamu walaupun dia sudah tau kalau Devano dan putrinya ada janji malam ini.
"Putriku tidak akan keluar malam ini." Ucap Kanaya.
"....." Devano diam mendengar ucapan Kanaya.
"Sayang siapa yang dat--. Apa yang kamu lakakukan disini?" Tanya Alex saat dia melihat Devano berdiri di depan pintu rumahnya.
Belum sempat Devano berbicara Adara sudah datang menghampiri mereka. "Dev, kamu sudah datang? Ayah, bunda Adara pergi dulu." Pamit Adara pada kedua orang tuanya.
"Adara masuk." Tegas Alex.
"Ayah aku dan Devano-."
"Ayah bilang masuk, ayah tidak suka mengulang kata-kata. Kalian tidak bisa berhubungan lagi, Kanaya bawa Adara ke kamarnya." Suara Alex mulai meninggi.
Kanaya mendekati putrinya yang berada di samping Devano, dia pun mencoba membawa putrinya pergi karena dia tau saat ini suaminya sedang menahan amarah.
"Sayang ayo, dengarkan kata-kata ayahmu nak." Bujuk Kanaya.
"Ayah kami saling mencintai, kenapa harus kami yang terkena imbasnya dengan permusuhan kedua keluarga ini."
"Ayah tidak pernah bermusuhan dengan siapapun, tapi Keluarganya yang memulai semuanya." Sindir Alex lalu melirik tajam kearah Devano.
"Bawa masuk Adara, Kanaya." Ucap Alex.
Kanaya membawa putrinya meninggalkan kedua pria yang sedang berdiri di antara pintu utama, saat dia dan Adara ingin naik tangga mereka berpapasan dengan Kavin.
"Kakak." Panggil Adara.
"Kavin antar adikmu kembali ke kamarnya." Pinta Kanaya, Kavin pun mengangguk.
Kanaya menyusul suaminya yang masih berada di luar bersama Devano, saat Kanaya datang dia terkejut melihat Alex yang sudah mencengkram kerah kemeja Devano.
"Mas." Kanaya mencoba melerai Alex yang sudah siap dengan pukulannya.
"Jangan ikut campur Kanaya." Ujar Alex tanpa melepaskan tatapan tajamnya pada Devano.
__ADS_1
"Adara tidak akan pergi, jadi tenangkan dirimu mas. Devano saya harap kamu segera pulang, dan jangan berhubungan lagi dengan keluarga kami." Pinta Kanaya.
Alex melepaskan cengkramannya dan menarik Kanaya masuk. "Ani tutup pintunya dan bilang sama satpam jangan biarkan laki-laki itu masuk dalam pekarangan rumah ini lagi." Ucap Alex dengan suara tegasnya.
"Baik Tuan Besar." Jawab Ani lalu pergi menutup pintu.
Devano dengan hati yang hancur pun akhirnya meninggalkan kediaman Alex, dia pun mengirim pesan kepada Adara.
"Adara, besok siang aku akan ke Inggris mungkin aku akan kembali ke Indonesia beberapa bulan lagi."
Devano pun melajukan mobilnya di tengah keramaian kota, hanya beberapa menit dia pun sampai di kediaman Hanendra.
Adara menangis tersedu-sedu saat membaca pesan singkat yang dikirim Devano ke ponselnya, Kanaya masuk ke dalam kamar putrinya, dia pun menghampiri Adara yang tengah duduk di di samping jendela kamarnya.
Kanaya pun duduk di samping Adara, dia melirik putrinya yang masih sesegukan karena habis menangis.
"Sayang." Kanaya memegang tangan putrinya.
"Aku ingin sendiri bunda, tolong tinggalkan Adara." Jawab Adara.
Dengan berat hati Kanaya pun pergi meninggalkan Adara yang masih sesegukan, dia tau saat ini putrinya butuh sendiri untuk menenangkan pikiran dan hatinya.
Kanaya pun kembali ke kamar, Alex menoleh ke arah pintu saat istrinya sedang menutup pintu kamar mereka.
"Bagaimana keadaan Adara?" Tanya Alex.
Alex menatap Kanaya, dia sebenarnya menyukai Devano tapi saat di tau keluarga Devano yang membuat keluarganya menderita karena di pisahkan dengan putranya membuat dia membenci seluruh anggota Keluarga Hanendra tak terkecuali Devano.
"Kemarilah." Alex menepuk-nepuk kasur, Kanaya pun mendekati Alex dan duduk di samping suaminya.
"Aku berfikir sudah saatnya kita mencarikan pria baik untuk putri kita Kanaya." Ujar Alex.
Kanaya hanya diam, Alex yang melihat Kanaya hanya diam tak merespon ucapannya dia dengan cepat melingkarkan tangannya di pinggang Kanaya.
"Kamu tidak mendengarkanku?" Tanya Alex.
"Aku berfikir apa dengan mencarikan calon suami untuk Adara bisa membuatnya bahagia?" Tanya Kanaya lalu mencoba melepaskan lengan kekar suaminya yang kini masih melingkar di pinggangnya.
"Hah! Besok aku akan menanyakan pada Adara." Jawab Alex.
"Kanaya, apa aku boleh meminta sesuatu?" Tanya Alex pada Kanaya yang sedang menatapnya.
"Apa?" Tanya Kanaya.
"Kenan ingin memiliki adik." Alex melirik istrinya yang masih setia menatapnya.
__ADS_1
"Itu keinginan Kenan apa keinginanmu mas?" Selidik Kanaya.
Alex menggaruk alisnya yang tidak gatal, dia seperti memutar otaknya mencari jawaban atas pertanyaan Kanaya.
"Kavin kan punya adik dua, Adara juga punya adik satu, terus Kenan juga mau punya adik." Ujar Alex yang mencoba memberi alasan pada Kanaya, Kanaya hanya menganggukkan kepalanya.
"Lain waktu saja mas, aku masih memikirkan putri kita, dia terlihat buruk saat ini." Ucap Kanaya.
Tangan Kanaya di tarik oleh Alex saat dirinya turun dari tempat tidur, Kanaya menatap menatap tajam ke arah suaminya tapi Alex hanya tersenyum melihat tatapan tajam wanita yang telah memberinya tiga anak.
"Kamu taukan dari dulu aku tidak suka penolakan?" Alex tersenyum.
"Usia kita sudah tidak muda lagi, waktunya kita untuk istirahat, jangan cari penyakit." Kanaya mencoba menolak keinginan suaminya, bukannya Kanaya tidak ingin melayani Alex tapi saat ini pikirannya masih memikirkan putrinya.
Tapi bukan Alex jika keinginannya tidak terpenuhi, walaupun Kanaya menolak tapi dia tetap membuka seluruh pakaian yang ada di tubuh Kanaya, dan olahraga ranjang pun terlaksana.
*****
Pagi ini Adara sudah bersiap-siap untuk pergi ke butiknya, karena kemarin Kira memberi kabar kalau ada seorang pengunjung ingin memesan gaun pernikahan di butiknya.
Alex yang sudah berada di meja makan bersama Kavin melihat putrinya turun dari tangga, ia pun memanggilnya untuk ikut sarapan bersama.
"Ayah aku sibuk hari ini, kemarin Kira memberi kabar ada pesanan gaun pengantin." Ucap Adara saat dirinya sudah berada di ruang makan.
"Setidaknya duduk dan minum susu dulu." Jawab Alex.
Adara pun duduk di samping Kavin, dengan mata sembab habis menangis semalaman dia pun hanya berbicara seadanya.
"Baiklah ayah, aku pergi dulu." Adara mencium pipi ayahnya, lalu pergi ke dapur untuk berpamitan dengan bundanya.
"Adara biar kakak yang mengantarmu ke butik." Adara pun mengangguk mendengar tawaran Kavin.
Di dalam mobil Adara hanya diam, Kavin mencoba mencairkan suasana yang hening dengan berbagai pertanyaan dan Adara hanya menjawabnya seadanya saja.
Mereka pun sampai di depan butik Adara, terlihat ada mobil Devano terparkir di depan butik tersebut, Adara melirik kakaknya yang hanya diam di sebelahnya.
"Kakak."
"Temui dia, aku tidak akan memberi tahu ayah dan bunda." Jawab Kavin, yang mengerti perasaan adiknya.
Walaupun dia juga tidak ingin Adara berhubungan dengan Devano karena dia tau kalau Devano tidak tulus pada adiknya tapi dia juga tidak bisa berbuat apa-apa, saat ia melihat Adara menangis di kamarnya.
"Terima Kasih kakak." Ucap Adara.
"Ini terakhir aku mengijinkanmu menemuinya, kedepannya aku akan melarangmu berhubungan dengan keluarga Hanendra, sekarang keluarlah." Adara pun mengangguk dan membuka pintu mobil Kavin lalu melambaikan tangannya saat mobil kakaknya meninggalkan butiknya.
__ADS_1
Bersambung....
Jangan lupa like,komen dan Votenya.