HAMIL SEBELUM MENIKAH

HAMIL SEBELUM MENIKAH
BAB 56


__ADS_3

Adara langsung memeluk Kanaya dan menangis dalam pelukan bundanya, dia tidak ingin menceritakan masalahnya karena ujungnya dia harus menceritakan tentang kehamilannya jadi Adara memilih diam.


Di dalam kamarnya Adara kembali menatap cincin yang ada di jari manisnya, "Dasar pembohong!" teriak Adara.


Tok... Tok... Tok... Suara ketukan pintu kamar terdengar membuat Adara bergegas pergi membukanya.


"Bunda!" ucap Adara.


"Devano ada dibawah, dia ingin bertemu denganmu sayang!" balas Kanaya sembari mengusap pipi putrinya.


Adara pun turun dan menemui Devano, sesampainya di ruang tamu dia memilih duduk tanpa mengucapkan sepatah katapun.


Arka dan Kanaya meninggalkan mereka berdua, Devano mendekati Adara yang duduk di depannya. "Adara aku ingin ...."


"Aku juga ingin mengatakan sesuatu padamu, Dev!" ucapnya.


"Katakanlah!" balas Devano.


Adara menatap Devano, "Aku hamil Dev!" ujar Adara.


Devano sedikit terkejut mendengar ucapan Adara lalu tersenyum manis dan memeluk Adara.


"Aku akan menjadi seorang Ayah," ucap Devano dengan wajah bahagia.


"Tapi kamu akan menikah dengan wanita lain, Dev!"


"Aku akan bicara dengan Annisa, aku hanya mencintaimu Adara." Ucap Devano pada Adara.


Tak lama Kanaya datang bersama Ani dengan nampan berisi minuman dan makanan ringan, Adara menatap wajah bundanya dia ingin memberitahu jika saat ini dirinya tengah hamil tapi di sisi lain dia juga tidak ingin membuat bundanya khawatir.


"Devano silahkan di minum." ujar Kanaya sembari duduk di sebelah putrinya.


"Bunda, Adara ingin mengatakan sesuatu!" ucap Adara.


Devano dan Kanaya menatap Adara, Kanaya menyentuh tangan putrinya hingga air mata Adara menetes diatas punggung tangan Kanaya.


"Bunda, Adara saat ini tengah hamil anak Devano."


Deg...!


"Apa?!" Kanaya langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya, apa ini karma dari apa yang dilakukan oleh Alex padanya dimasa lalu? Mungkin saja, itulah yang ada di benak Kanaya.


"Nyonya aku minta maaf, seharusnya kejadian itu tidak terja..."


PLAKK!!


Kanaya menampar pipi Devano, air matanya jatuh dia tidak menyangka aib yang menimpanya dulu kini putrinya juga mengalaminya hanya bedanya dia tidak mengetahui siapa Ayah dari anak-anaknya.

__ADS_1


"Bunda," ucap Adara seraya meraih tangan Kanaya.


"Ini adalah aib keluarga, Adara masuk ke kamarmu Bunda akan menghubungi ayahmu!" ujar Kanaya.


"Nyonya, aku akan bertanggung jawab dengan apa yang sudah pernah kulakukan pada Keluarga Handoko." Ucap Devano sembari berlutut di depan Kanaya.


"Buktikan!" balas Kanaya. Devano mengangguk tanda mengiyakan ucapan Kanaya.


Devano pun berdiri dan pamit, ini saatnya dia menyelesaikan semua masalah yang terjadi pada keluarga Handoko termasuk bertanggung jawab dengan kehamilan Adara.


"Arka antar aku kembali ke rumah, aku harus bicara dengan Papi!" perintah Devano lalu masuk kedalam mobilnya


Di dalam kamar Adara terlihat gelisah, memikirkan kondisi Devano yang harus berusaha keras disaat dia baru saja pulih dari komanya.


Pintu kamar Adara terbuka Kanaya masuk dan menutup kembali pintu kamar putrinya, "Bunda?!" ucap Adara seraya berjalan kearah Kanaya.


Kanaya memeluk Adara kenangan masa lalunya kembali ia ingat air mata Kanaya mengalir dipipi putihnya, "Maafkan Bunda dan Ayah, Nak!" ucap Kanaya disela tangisnya.


"Untuk apa Bunda meminta maaf, Bunda tidak punya salah apapun." Adara mencoba menenangkan Kanaya dan menghapus air matanya.


Adara tidak tahu masa lalu orang tuanya, karena Kanaya dan Alex pun tidak pernah mengatakannya, "Bunda hanya merasa tidak bisa menjadi orang tua yang baik."


"Bunda!" Mereka berdua berpelukan sambil menangis bersama.


Di kediaman Hanendra Tuan Raka mulai terlihat khawatir saat pihak rumah sakit mengatakan bahwa Devano pergi meninggalkan rumah sakit pagi hari.


"Mas, jangan khawatir. Kita sudah mendapatkan wanita Solehah untuk Devano," ucap Evelyn.


Tidak lama terdengar suara langkah kaki, Tuan Raka, Evelyn dan Tuan Sanjaya menoleh ke asal suara itu.


"Putra Mommy!" ucap Evelyn saat Devano berjalan mendekat pada mereka bertiga.


"Aku ingin bicara empat mata dengan Papi," ucap Devano dengan menatap datar kearah Tuan Raka.


Tuan Raka mengajak putranya keruang kerja miliknya, ketika pintu tertutup rapat Devano menatap papinya lalu duduk di sofa.


"Apa yang ingin kau katakan pada Papi?" tanya Tuan Raka tanpa basa basi.


"Batalkan perjodohan itu, Pi!"


"Alasan apa yang kau berikan padaku agar aku mau membatalkannya?"


"Sebentar lagi aku akan menjadi seorang Ayah!"


"Apa?!" teriak Tuan Raka saat mendengar ucapan putranya.


Tuan Raka menghampiri Devano lalu menampar putranya, "Gugurkan anak itu!" teriaknya.

__ADS_1


Mata Devano memmbelalak mendengar ucapan papinya, Setega itu dia menyuruh putranya membunuh keturunannya.


"Aku tidak akan melakukan itu Pi, dia adalah anakku!" tegas Devano.


Devano langsung berdiri dan berbalik lalu melangkah pergi tapi sebelum ia membuka pintu langkahnya terhenti saat Tuan Raka mengucapkan kata yang membuatnya mengepalkan kedua tangannya, "Jika kau tidak ingin membunuh anak itu maka Papi yang akan membunuhnya. Kau tahu bukan apa yang bisa Papi lakukan pada keluarga Handoko."


Tanpa menjawab Devano membuka pintu lalu keluar dari ruang kerja papinya, dia tidak menyangka keluarganya tega mau menyingkirkan anak yang tidak berdosa apalagi yang belum melihat dunia.


"Kenapa aku harus terlahir dari keluarga gila ini!" teriak Devano saat ia tiba di kamarnya, "Permusuhan apa yang terjadi antara keluarga Handoko dan keluarga Hanendra. Aku harus menanyakan ini pada Tuan Hadi Handoko," sambungnya.


***


Di rumah Alex, mereka berlima sudah duduk di meja makan untuk makan malam. Kanaya ingin memberitahu suaminya jika saat ini putrinya sedang mengandung cucu keluarga Hanendra.


Kanaya melihat putrinya yang tengah mengaduk-aduk makanannya, "Sayang, apa makanannya tidak enak?"


"Hanya melihat ini Adara sudah kenyang, Bun!"


"Adara habisi makanannya," ucap Alex saat melihat putrinya sudah berdiri dari kursinya.


Tanpa membantah Adara kembali duduk dan langsung memakan makanannya walaupun rasanya ingin muntah.


"Mas, kita harus segera menikahkan Devano dan Adara."


"Uhuk! Apa? Aku tidak akan menikahkan putriku pada keluarga gila itu."


"Ayah benar Bunda, walaupun mereka saling mencintai tapi Tuan Raka tidak akan mewujudkan pernikahan itu," ujar Kavin.


Kanaya melihat putrinya yang tengah menunduk, "Pernikahan mereka akan terwujud jika dia tahu putri kita tengah mengandung cucunya."


Alex, Kavin dan Kenan terkejut mendengar ucapan Kanaya, wajah Alex langsung berubah pucat saat mendengar putrinya mengandung cucu dari musuh keluarganya.


"Apa keluarga Hanendra mengetahui ini?" tanya Alex dengan kebingungan.


"Mungkin mereka sudah mengetahuinya, karena Devano tadi kesini dan katanya dia akan memberitahu orang tuanya," jawab Kanaya.


"Adara, mulai besok jangan keluar dari rumah tanpa pengawalan dari orang-orang Ayah."


"Tapi Ayah besok Adara ada pertemuan dengan pelanggan!"


"Kalau Ayah bilang tidak berarti tidak. Ayah akan bicara dengan Opa," larang Alex, Adara hanya mengangguk mengikuti perintah ayahnya.


Bersambung....


Maaf Author baru bisa nulis, kemarin harus istirahat total..


Jangan lupa follow ig Author juga ya panda.sweety10.

__ADS_1


Terima kasih!!!


__ADS_2