
Setelah mengantar Kira ke kamar, Echa pergi ke ruang tamu menemui Kenan dan Adara.
"Apa wanita itu adalah kamu, Ra?" tanya Echa secara tiba-tiba.
Kenan yang peka dengan ucapan sahabat kakaknya langsung menatap Adara dengan tatapan yang tidak percaya.
"Dokter Syarif datang menemuiku saat aku menjaga Devano di rumah sakit. Dia memintaku menemuinya dan tiba-tiba mengatakan jika dia masih menyukaiku. Aku sudah menolaknya dan memintanya untuk kembali ke Kira, tetapi ...." Adara tidak melanjutkan perkataannya karena dia tidak sanggup mengatakan semuanya.
"Aku tidak akan mengampuni pria brengs*k itu!" tegas Kenan seraya memeluk Adara.
Echa merasa kasihan pada kedua sahabatnya, kisah cinta yang begitu rumit, berawal dari penghianatan hingga keterpaksaan menyelimuti takdir mereka.
"Echa, aku titip Kira. Besok aku akan datang untuk melihat keadaannya," ucap Adara setelah merasa hatinya tenang.
"Baik, Ra. Kalian berdua pulanglah, nanti Tante Kanaya khawatir." Echa mengusap bahu Adara.
Sebelum pergi Adara ke kamar untuk melihat Kira, hatinya lega saat melihat sepupunya sudah tertidur pulas walau banyak jejak air mata di bantal.
Di dalam mobil tidak ada percakapan antara Adara dan Kenan, mereka seakan terhanyut dalam pikiran masing-masing. Empat puluh menit mobil Kenan sampai di depan rumah, Adara langsung turun tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
"Apa aku harus mengatakan ini pada Ayah? Tidak-tidak, aku lebih baik bicara dengan Bunda," gumam Kenan.
Setelah selesai memeriksa barang-barangnya di mobil Kenan pun keluar dan menyusul Adara masuk ke dalam rumah yang sudah terlihat sepi.
***
Esok harinya, Tuan Raka datang ke rumah Alex dengan membawa barang-barang yang di perlukan untuk pernikahan.
"Kalian semalam dari mana?" tanya Kanaya saat melihat Adara dan Kenan di ruang makan.
"Semalam Adara ada urusan, Bun. Oh iya Tuan Raka datang kemari ada keperluan apa?" tanya balik Adara.
"Dia membawa keperluan pernikahan kalian, sepertinya Tuan Raka meminta ayahmu untuk mempercepat tanggal pernikahannya," jawab Kanaya sembari menuangkan susu untuk putra bungsunya.
Setelah menyelesaikan sarapannya Adara menemui Ayah dan Tuan Raka sebelum ia berangkat ke Butik, Adara pun bertanya tentang kondisi Devano karena untuk saat ini dia harus menyelesaikan lebih dulu masalah Kira yang menyeretnya.
Adara pun pamit, saat di dalam mobil dia menghubungi Dokter Syarif untuk bertemu di salah satu Cafe dekat Butik.
Di ruang makan Kanaya menantap Kenan, ia tahu jika putra bungsunya itu tidak akan bisa berbohong dan menyembunyikan sesuatu darinya.
"Bunda, berhenti menatapku seperti itu!" ucap Kenan dengan menundukkan kepalanya.
"Katakan pada Bunda, apa yang terjadi kemarin malam dan kenapa ada suara tangisan wanita juga?" tanya Kanaya.
__ADS_1
"Untuk saat ini aku tidak bisa mengatakan apapun pada Bunda. Aku sudah berjanji pada Kak Adara dan Kak Ki ...." Sadar dengan ucapannya Kenan langsung menutup mulutnya agar tidak meneruskan ucapannya.
"Ki? Maksudmu Kira?" selidik Kanaya.
"Jika Kakak tahu aku bakal dapat amarah dari mereka," batin Kenan.
Kanaya menatap tajam pada Kenan membuat laki-laki itu takut melihat tatapan bundanya.
"Bunda jangan mengatakan pada siapapun," ujar Kenan.
Kanaya hanya mengangguk.
"Dokter Syarif menceraikan Kak Kira," ucap Kenan.
"Apa?!" teriak Kanaya dan Alex bersamaan.
Mendengar suara sang Ayah, Kenan langsung membelalakkan matanya. Rasa takut di hatinya mulai muncul, kali ini bukan takut pada Adara melainkan ayahnya.
"Katakan lebih rinci, Kenan!" tegas Alex dengan tatapan tajamnya.
Kenan dengan terpaksa menceritakan apa yang terjadi semalam tanpa melewatkan sedikitpun, terlihat Alex mengepalkan tangannya menahan amarah mendengar cerita dari putra bungsunya.
"Baji**an! Aku percaya pada Syarif, ternyata dia laki-laki seperti itu." Alex tidak bisa menahan amarahnya lagi.
"Jangan menghalangiku Kanaya," ucap Alex dengan wajah memerah.
"Maafkan aku Kak," batin Kenan.
***
Di lain tempat, Adara sudah sampai di Cafe tempat janjiannya untuk bertemu dengan Dokter Syarif.
Tidak lama Dokter Syarif pun datang dan menemui Adara yang sudah lebih dulu datang.
"Adara, apa aku terlambat?" tanya Dokter Syarif dengan wajah bahagia.
"Aku tidak ingin basa basi, Dokter. Aku akan langsung ke intinya saja, tolong berhenti menyukaiku dan terima Kira sebagai istrimu!" pinta Adara.
"Aku hanya mencintaimu Adara, kenapa aku harus mencintai orang lain."
Plak!
"Kenapa sifat Dokter berubah?" tanya Adara.
__ADS_1
"Aku tidak berubah Adara. Aku masih sama dengan yang dulu," jawab Dokter Syarif dengan berlinang air mata.
"Aku harus menikah dengan wanita yang tidak aku cintai demi menjaga kehormatan dua keluarga, kamu dan keluargamu memang gampang membuat orang menanggung malu demi menutupi kesalahan yang kalian buat."
"Dokter ..."
"Biarkan aku yang bicara Adara. Katakan padaku apa hakmu melarang ku berhenti mencintaimu? Padahal aku tidak pernah melakukan hal yang membuatmu menderita, sedangkan Devano dia pria yang telah mengkhianatimu, tapi, kau masih mengijinkannya menyukaimu hingga kalian akan menikah!" ucap Dokter Syarif dengan mata memerah.
Adara terdiam mendengar perkataan suami sepupunya, takdir apa ini? Bukan seperti ini yang di inginkannya.
"Adara, tolong jangan memintaku berhenti mencintaimu. Berikan aku kesempatan untuk bersamamu," pinta Dokter Syarif.
"Takdir Dokter bersama Kira, jadi tolong buang rasa itu dari hati Dokter."
Adara berdiri dan ingin meninggalkan Dokter Syarif, tetapi, lengan Adara langsung di genggam oleh Syarif.
"Aku akan tetap menceraikan Kira. Aku akan mengatakan jika wanita yang ku cintai selamanya hanya kamu Adara," ujar Dokter Syarif lalu melepaskan genggamannya dari lengan Adara.
Tanpa melihat Syarif, Adara langsung pergi meninggalkan Cafe. Air matanya menetes ia tidak tahu harus berbuat apa untuk memperbaiki hubungan Kira dan Syarif.
"Apa yang harus aku lakukan, Kira tidak boleh tahu jika Syarif masih mencintaiku itu akan membuatnya kecewa," gumam Adara.
Mobil putih milik Adara meninggalkan parkiran Cafe dia pergi ke Butik, disana sudah ada Echa yang tengah duduk di sofa.
Melihat sahabatnya yang baru datang Echa langsung menghampiri Adara. "Ra, pelanggan ingin bertemu denganmu."
Adara tidak menghiraukan ucapan Echa dia langsung masuk ke dalam ruangannya.
Pikiran Adara saat ini sangat kacau, dia tidak tahu harus melakukan apa untuk mengembalikan keadaan seperti dulu. Di lain sisi Adara juga harus menyiapkan pernikahannya yang tidak lama lagi.
Drrrttt...
Saat Adara masih larut dalam pikirannya ponselnya berdering di dalam tasnya, dengan cepat ia mengambil benda persegi itu untuk melihat siapa yang menghubunginya.
"Devano?"
"Halo, Dev."
"Kamu akan datang nanti siang?" tanya Devano di seberang telepon.
Adara terdiam sejenak lalu menjawab. "Aku ...."
Bersambung...
__ADS_1