
Di kediaman Keluarga Hanendra sedang mengadakan pesta, Tuan Raka Hanendra dan Evelyn sangat senang begitupun juga dengan Tuan Sanjaya mereka bertiga berpesta.
"Devano memang pewaris Keluarga Hanendra." ucap Tuan Raka.
"Kamu benar mas, putra kita Devano sudah membuat putri Keluarga Handoko, tidak memiliki harga diri lagi." ujar Evelyn, dan mereka pun tertawa bersama-sama.
"Sekarang giliran Keluarga Handoko yang harus malu di depan publik, aku akan membuat mereka merasakan apa yang pernah Keluarganya lakukan pada Keluarga Hanendra." ucap Tuan Raka.
Mereka bertiga pun berpesta ria di Kediaman Keluarga Hanendra, merayakan atas keberhasilan untuk menjatuhkan Keluarga Handoko.
****
Semua orang sudah berada di meja makan kecuali Adara, Kanaya membiarkan putrinya untuk sendiri dan memberikan waktu untuk menenangkan pikirannya.
"Bunda, besok aku akan menginap di rumah Dino." ucap Kenan.
"Ya sudah, salam sama bibi Jenni ya." jawab Kanaya, Kenan mengangguk.
Di dalam kamar Adara sedang mengotak-atik laptopnya, "Apa video itu tidak ada di internet?" gumamnya.
Ponsel Adara berdering, tapi tidak ia hiraukan, dia masih sibuk dengan laptopnya. "Apa video itu ada di hp kakak, atau ayah?" batin Adara.
Ponselnya kembali berdering, Adara meraih benda persegi yang berada tidak jauh darinya. Adara langsung mengangkat panggilan itu, "Halo." tidak ada suara balasan dari penelpon.
Adara menutup panggilan itu, tapi ponsel miliknya kembali berdering, Adara pun kembali mengangkat panggilan itu tapi tetap saja tidak ada jawaban saat dia mengucapkan "Halo." dan orang itu kembali menelpon Adara.
"Ganggu saja." Ada mengabaikan panggilan itu.
"Tok... tok..." suara ketukan pintu kamar Adara.
Dengan cepat Adara merapikan kembali laptopnya dan berpura-pura tidak mengetahui jika dirinya dan Devano memiliki video vulgar.
Adara membuka pintu kamarnya dan melihat ayahnya sedang berdiri di depan kamarnya.
"Ayah." Adara tersenyum.
"Apa Ayah bisa masuk?"
"Tentu." Adara berjalan ke arah sofa yang ada di dalam kamarnya, Alex pun mengikuti putrinya duduk di sofa.
"Kenapa kamu tidak ikut sarapan bersama kami, Nak?" tanya Alex.
Adara menggelengkan kepalanya, dia menatap ayahnya yang duduk di sampingnya.
"Ayah, maafkan Adara." Adara memeluk Alex.
"Apa kalian masih berhubungan?" Adara menggelengkan kepalanya yang berada di dalam pelukan Alex.
"Ayah ingin kamu melupakan Devano nak, Ayah ingin kamu mendapatkan laki-laki yang baik." Alex mengusap-usap rambut putrinya.
Adara meneteskan air mata dalam pelulan hangat ayahnya, ada baiknya mendengarkan omongan keluarga, pikirnya.
****
Pagi ini Adara mencoba ingin pergi kebutik, dia tidak ingin tinggal di rumah dan mengingat kejadian itu lagi. Adara pun turun dari lantai dua dan berjalan ke meja makan.
__ADS_1
"Bunda, kakak kemana?" tanya Adara.
"Kavin sedang keluar, katanya ada temannya yang ingin dia temui." Jawab Kanaya.
Adara melihat kursi Alex masih kosong, "Ayah mana Bun, kenapa gak ikut sarapan?"
"Ayahmu sudah berangkat pagi-pagi sekali, katanya di kantor ada masalah."
"Di kantor ada masalah? Apa ini menyangkut video itu? Apa video itu sudah menyebar?" batin Adara.
Adara memakan sarapannya dengan cepat, dia harus ke kantor ayahnya, "Bunda, Adara pergi dulu." Adara mencium pipi Kanaya.
"Kenapa buru-buru nak?" tanya Kanaya.
"Adara masih banyak pekerjaan, jadi Adara harus menyelesaikannya." ujar Adara.
Adara pun berlari ke mobilnya, saat di dalam mobil tiba-tiba ponselnya kembali berdering. Adara melirik siapa pagi-pagi sudah menghubunginya.
"Nomor tidak di kenal?" gumamnya.
Dia pun mengangkatnya, "Halo."
"......"
"Halo."
"....."
Dengan cepat Adara mengakhiri telepon itu, siapa yang menerornya dari semalam sampai pagi ini. Tanpa memperdulikannya, Adara menginjak pedal gas mobilnya dan meninggalkan rumah.
Seorang pria dengan kemeja kotak-kotak menghampiri Kavin yang sedang duduk dengan segelas americano di atas meja.
"Selamat pagi Tuan, maaf saya terlambat." ucap Arka.
"Jangan terlalu formal padaku, sekarang aku bukan lagi Keluarga Hanendra." Tanpa basa basi, Kavin melempar ponselnya di atas meja.
Arka terlihat bingung saat melihat Kavin melempar ponselnya diatas meja, tepat di depannya.
"Aku ingin kau menghubungi Devano." Wajah Kavin berubah serius.
"Dia sudah pergi."
"BRAKK!! Brengs*k!!!" Kavin terlihat marah.
Mata Kavin terlihat penuh amarah, pria yang pernah dia panggil kakak ternyata laki-laki brengs*k.
"Kavin tenangkan dirimu." Arka mencoba menenangkan Kavin.
"Kamu bilang tenang, Keluarga yang telah aku hormati selama dua puluh tahun, kini menghancurkan masa depan adikku dan keluargaku." Kavin mengusap wajahnya.
"Katakan padanya, jangan biarkan aku melihatnya lagi. Aku bukan lagi Riko tapi Kavin Ardhana Abiputra HAN.DO.KO." Kavin menekankan nama Keluarga ayahnya Handoko.
Kavin meninggalkan Arka yang masih duduk di meja cafe, Arka mengusap wajahnya yang tampak frustasi.
"Kenapa aku yang ikut stress, ini masalah mereka kenapa aku juga terseret," gumam Arka.
__ADS_1
Kavin melajukan mobilnya ke perusahaan ayahnya, untuk memberitahukan kalau Devano sudah meninggalkan kota A.
Di kantor Alex dan Gio di sibukkan dengan penurunan saham di perusahaan Handoko Group, karena beredarnya video Adara di kalangan para pemegang saham di perusahaan Alex.
"Raka Hanendra dan putranya memang licik," ucap Alex.
"Tuan, kita harus bertemu dengan Tuan Muda Hanendra." ujar Gio.
"Dia sudah tidak ada di kota A." ucap Kavin yang sudah berada di pintu.
Alex dan Gio menoleh ke arah Kavin, "Apa maksudmu, Nak?" tanya Alex.
"Setelah melakukankannya, dia kabur." jawab Kavin.
"Lalu bagaimana kita bisa menstabilkan saham Handoko Group, cuma dia satu-satunya harapan kita." Alex tampak gelisah.
Tanpa mereka bertiga sadari, Adara sudah berdiri di pintu dan mendengar semua yang di katakan ayah dan kakaknya.
"Ayah." panggil Adara.
Mereka bertiga terlihat kaget mengetahui Adara sedang berdiri di pintu, Alex berlari mendekati putrinya.
"Sayang."
"Apa benar perusahaan terancam bangkrut, Ayah?"
"Ayah akan berusaha menanganinya, Nak."
Adara menatap Alex dengan mata berembun karena di penuhi air mata.
"Jika Devano mengonfirmasikan semuanya di depan para pemegang saham, apa semuanya akan baik-baik saja Ayah?" Alex terdiam, begitupun dengan Gio dan Kavin.
Alex membawa putrinya masuk dan menutup pintu, "Kenapa kamu ke kantor Ayah?" Adara hanya diam.
"Emm, nanti siang kita makan siang bersama," ucap Alex.
"Apa ayah mencoba mengubah topik?" selidik Adara.
"Ayah minta maaf, karena kesalahan Ayah dan Opa di masa lalu, kamu yang harus menanggungnya." Alex memeluk putrinya.
Tiba-tiba ketukan pintu mengalihkan pandangan mereka, Gio dengan cepat membuka pintu ruangan Alex.
"Pak, para pemegang saham ingin mengadakan rapat dadakan." Ucap sekertaris Alex.
"Baiklah, tiga menit lagi kami ke ruang rapat." ujar Gio.
"Kavin, antar adikmu pulang!" perintah Alex.
"Ayah, aku bawa mobil jadi kakak tidak perlu mengantarku." Adara memperlihatkan kunci mobil miliknya.
Bersambung....
Maaf lama sekali baru bisa update, jaringan di kampung author lagi gak mendukung, gara-gara kena dampak gempa di Sul-Bar.
Udah dari kemarin mau update tapi noveltoon gak bisa ke buka, jadi maafkan author. 🙏🙏
__ADS_1