
Pagi ini Alex pergi ke rumah utama untuk menemui papanya Hadi Handoko, kegelisahan yang di rasakannya membuat dia tidak bisa berpikiran positif.
Hadi menemui putra sulungnya yang duduk di sofa, "Ada apa menemui Papa pagi-pagi sekali, Lex?"
"Aku ingin bicara masalah penting dengan Papa."
Hadi menatap Alex lalu duduk didepan putranya, "Soal apa?"
"Keluarga Hanendra!"
Mendengar nama Hanendra Hadi mengajak putranya keruang kerja miliknya, karena itu pasti sangat penting sehingga membuat Alex ingin menemuinya di pagi ini.
Pintu tertutup Hadi berjalan ke kursi kerjanya, "Katakan."
"Adara hamil anak Devano!" ucap Alex dengan menahan amarahnya.
"Apa kamu takut Raka membunuh cucunya dan Adara?"
"Benar Pa."
Hadi termenung sejenak lalu menghubungi seseorang untuk datang menemuinya hari ini. Entah apa yang akan ia lakukan untuk melindungi cucunya dan bayinya kali ini.
"Untuk saat ini kita harus waspada pada mereka," ujar Hadi sembari menepuk pundak putranya.
"Kalau begitu aku pergi dulu, Pa. Saat ini perusahaan masih belum stabil," ujar Alex, Hadi pun mengangguk.
Tuan Raka, Evelyn dan Tuan Sanjaya membuat rencana untuk menyingkirkan bayi yang ada di dalam kandungan Adara, "Kita harus percepat pernikahan Annisa bersama Devano, Mas!" usul Evelyn pada suaminya.
"Benar, tapi tidak ada jaminan bahwa Devano tidak akan menemui cucu pembunuh itu." gerutu Tuan Raka.
"Aku akan menemuinya dan bicara sesama wanita, aku yakin dia wanita bijaksana." ucap Evelyn.
Tuan Raka mengangguk mendengar ucapan istrinya, lebih baik memilih jalan selain membunuh jika masih ada jalan lain.
"Kalau begitu aku pergi kekantor dulu, jika gadis itu tidak mendengar ucapanmu lakukan apapun padanya!"
"Iya, Mas."
Tuan Raka pergi meninggalkan meja makan dan pergi keluar, Evelyn dan Tuan Sanjaya saling memandang lalu tersenyum licik.
"Sekarang peran Annisa akan bekerja, Pa." seringai licik Evelyn.
***
Adara yang merasa bosan karena larangan keluar oleh keluarganya membuat dirinya merasa jenuh, pekerjaannya saat ini Kira dan Echalah yang harus melakukannya.
"Apa kamu tahu sayang, perjuangan cinta kedua orang tuamu tidaklah mudah." ucap Adara seraya mengelus perutnya yang masih rata seolah berbicara dengan bayinya.
Ping...!! Sebuah pesan masuk kedalam ponsel Adara, "Aku sudah mendengar kalau kamu mengandung cucu keluarga Hanendra, jika bisa apa kita boleh bertemu, 'Evelyn'!" isi pesan dari Evelyn.
__ADS_1
"Aku tidak bisa keluar, lain kali saja."
"Aku bisa membantumu untuk bicara dengan suamiku, jadi aku ingin bicara denganmu juga secara empat mata."
"Baiklah, kita bisa bertemu di taman dekat rumahku!"
Ada keraguan di hati Adara tapi tidak ada lebih penting identitas anaknya kelak, jika Evelyn bisa meyakinkan Tuan Raka, Adara siap melakukannya.
"Hahaha! Gadis ini sangat bodoh, papa!" ucap Evelyn sembari tertawa.
"Keturunan Handoko memang semua orang bodoh, kesempatan langka ini harus kita gunakan sebaik mungkin." ujar Tuan Sanjaya.
"Benar Pa. Aku harus mengabari wanita munafik itu untuk melakukan perannya."
Devano yang masih merasa pusing karena efek pukulan keras di kepalanya membuatnya memilih mengistirahatkan tubuhnya, ketika dirinya ingin memejamkan mata sebuah pesan masuk ke ponselnya.
"Dev, hari ini Nyonya Hanendra ingin bertemu denganku!" tulis Adara dalam pesannya.
Devano yang tadinya ingin tidur langsung bangun saat membaca pesan dari wanita yang dicintainya, "Mommy ingin bertemu dengan Adara? Untuk apa?" gumamnya, "Apa ini rencana Papa untuk melenyapkan anakku?" sambungnya lagi.
Devano menghubungi ponsel Adara tapi di luar jangkauan, berkali-kali ia ulangi tetap sama tidak aktif.
"Sial, kenapa tidak bisa di hubungi!" gerutu Devano.
Devano mencoba menghubungi Kavin dan akhirnya dijawab walaupun agak lama, "Ada apa?"
"Dirumah. Aku sedang sibuk di kantor karena ulah bajingan!"
"Sial, aku tahu itu kesalahanku dan juga aku sudah bilang akan membantu kalian."
"Lalu untuk apa kamu mencari adikku, hubungi ponselnya saja."
"Hari ini Adara mengirimkan pesan singkat kalau Mommy ingin bertemu dengannya, saat aku mencoba menghubunginya ponselnya sudah mati."
Tut... Tut... Tiba-tiba panggilan terputus Devano menatap ponselnya, "Kebiasaanmu ketika panik masih sama Kavin," ucapnya.
Kavin berlari ke ruangan ayahnya tapi tidak ada orang begitupun dengan meja Gio yang kosong, dengan langkah cepatnya Kavin sampai di depan ruang rapat.
Tok..! Tok..! Kavin mengetuk pintu, Gio langsung membuka pintu dan melihat Kavin dengan wajah paniknya.
"Tuan Muda," ucap Gio.
"Paman, apa Ayah sibuk?"
"Rapat akan segera berakhir."
Kavin pun memutuskan menunggu Alex di ruang tunggu, tidak lama pintu ruang tunggu terbuka terlihat Alex bersama Gio masuk lalu duduk di salah satu sofa.
"Ada apa?"
__ADS_1
"Ayah, Devano menghubungiku kalau Nyonya Hanendra mengjak bertemu dengan Adara," jawab Kavin.
"Apa? Lalu pria brengs*k itu tidak mencegahnya."
Kavin menceritakan apa yang diceritakan oleh Devano, Alex mengepalkan kedua tangannya.
"Ayah akan ke perusahaan keluarga Hanendra untuk bertemu dengan dengan Raka Hanendra, ucap Alex dengan menahan amarahnya.
"Gio hubungi Papa untuk bersiap bertemu dengan pria gila itu, Kavin Ayah ingin kamu mencari adikmu tanpa sepengetahuan Kanaya, Ayah tidak ingin jika bunda kalian akan stress kembali." ujar Alex kembali, Kavin dan Gio mengiyakan ucapan Alex.
Di taman yang tidak jauh dari rumahnya Adara sudah duduk menunggu Evelyn, tak lama sebuah mobil berhenti di dekat taman yang hanya ada Adara disana.
Evelyn keluar dari mobilnya dan berjalan ke arah Adara yang duduk sendirian di taman, "Apa kamu sudah lama disini?"
"Baru saja, Nyonya."
"Apa itu benar cucu keluarga Hanendra?"
Adara menoleh kesamping dia menatap Evelyn, "Apa perlu tes DNA agar keluarga Hanendra percaya jika ini keturunannya."
"Tidak perlu, karena anak itu tidak akan lahir!" ucap Evelyn sembari memberi isyarat pada kedua pria untuk membius Adara.
"Apa?" Adara langsung berdiri seraya melindungi perutnya.
"Aku tidak akan...." Ucapan Adara terpotong saat salah satu anak buah Evelyn membiusnya.
"Bawa gadis ini ke markas utara, ingat jangan sampai Devano dan suamiku mengetahui ini."
"Baik Nyonya."
Evelyn dan anak buahnya meninggalkan taman dan pergi, menuju markas utara milik Albi salah satu orang kepercayaan Raka Hanendra.
Alex yang sudah sampai di kantor Raka langsung masuk, saat security ingin menahannya Alex memberikan tatapan membunuh pada security perusahaan Raka.
"Jika kau tidak ingin mengantarku ke bossmu, maka kau yang akan menerima akibatnya," ancam Alex.
Security itu langsung mengangguk dan mengantarkan Alex ke ruangan Raka, "Pergi lah, biar aku selesaikan urusanku dengan atasanmu," usir Alex.
Alex yang sudah tidak bisa menahan emosinya langsung melabrak pintu ruangan Raka, Brakk..!
Raka menoleh ke arah pintu dan melihat Alex dengan wajah ingin membunuh tengah menghampirinya, "Apa yang kau lakukan disini?"
Buk..! Satu pukulan melayang di pipi Raka Hanendra.
"Apa yang kau lakukan breng...." Ucapan Raka terpotong saat pukulan kedua melayang ke wajahnya.
Hari ini Alex tidak bisa menahan amarahnya, dia sudah di ambang batas untuk memberikan toleransi pada keluarga Hanendra.
Bersambung....
__ADS_1