
Echa masuk keruangan Adara, "Adara." Panggilnya tapi Adara tidak menyahutinya.
Echa mendekati sahabatnya itu dan duduk di depannya. "Dia tidak tidur tapi tidak mendengarkan panggilanku." Gerutu Echa.
"Ada kebakaran." Teriak Echa membuat Adara menatapnya.
"Akhirnya kamu meresponku."
"Ada apa?" Tanya Adara.
"Pagi tadi aku melihatmu pergi, apa ada pelanggang yang tidak puas dengan karya kita.?"
"Aku pergi bertemu dengan Devano." Jawab Adara.
"Apa yang kalian bahas di pagi hari." Selidik Echa.
"Tidak ada." Jawab Adara.
"Ya sudah kalau kamu tidak ingin berbagi kebahagiaan denganku." Echa memasang wajah cemberut.
Adara tersenyum melihat sahabatnya tengah cemberut di hadapannya. "Aku dan Devano sudah resmi pacaran." Ucap Adara dengan wajah merah merona karena malu.
Echa yang mendengar ucapan Adara sangat senang mendengar hubungan sahabatnya. "Kalian memang serasi, yang satunya canti dan satunya lagi tampan. Aku akan memberi tahu Kira kabar bahagia ini." Echa berlari keluar dari ruangan Adara dan menghampiri Kira di ruangannya.
"Kira." Echa mengatur nafasnya.
"Apa yang membuatmu menemuiku dengan nafas yang seperti orang sekarat." Tanya Kira yang masih fokus pada desain pakaiannya.
"Kabar bahagia." Jawab Ecah.
"Apa?"
"Adara dan Tuan Devano berpacaran, akhirnya."
"Serius?" Echa mengangguk.
Kira dan Echa ke ruangan Adara, "Adara." teriak Kira.
"Perasaanku tidak enak." Gerutu Adara.
"Malam ini traktir kami makan sepuasnya." Ujar Kira.
"Dalam rangka apa?" Adara kembali fokus ke layar laptopnya.
Kira dan Echa saling memandang, "Bukannya kabar bahagianya kamu dan Tuan Devano resmi menjadi kekasih?" Kira menatap selidik ke arah Adara.
"Baiklah, sekarang kalian keluar. aku masih sibuk hari ini." Usir Adara. Kira dan Echa pun keluar, "Tidak lama lagi keluarga akan tahu." Gumam Adara.
*****
Di kantor, Devano menatap layar ponselnya dia tampak gelisah seperti sedang menunggu.
"Kak." Riko masuk ke ruangan Devano dan duduk di sofa.
"Ada apa?" Masih fokus pada layar ponselnya.
__ADS_1
Riko berdiri dan menghampiri Devano di meja kerjanya. "Apa kakak sudah menjebak gadis itu?" Wajah Riko mulai serius.
Devano melirik saudara tirinya yang sedang berdiri di sampingnya. "Dari mana kamu tau."
"Aku mendengar mommy membahasnya dengan kakek, apa ini membuat kakak senang?" Devano hanya diam dan menatap tajam kepada Riko.
"Sebelum terlambat batalkan rencana jahat kakak." Riko memegang bahu Devano tapi di singkirkan dengan kasar oleh Devano.
"Aku sudah berjanji pada mommy, jadi jangan ikut campur. Sekarang kau kembali ke ruanganmu." Usir Devano dengan tegas.
Riko keluar dari ruangan Devano dengan menyeringai "Semoga kamu tidak akan menyesal."
Riko masuk kedalam ruangannya, sakit kepalanya datang lagi. "Sial, semenjak aku tidak mengkomsumsi obat itu kepalaku selalu sakit." Riko memegang kepalanya.
"Aku akan kerumah sakit." Saat Riko ingin melangkah kepalanya bertambah sakit, bayangan yang masih samar terlintas di memori otaknya.
"Berhenti, kau tidak akan bisa lari dariku."
"Ahhhh!" sebuah mobil melaju dari depan dan menabrak seorang anak kecil.
"Akh!" Teriak Riko.
Devano yang ingin masuk keruangan Riko mendengar teriakan saudara tirinya. "Riko kamu tidak apa-apa?" Devano tampak khawatir.
"Akhh!" Riko masih berteriak.
"Arka siapkan mobil, kita harus membawa Riko kerumah sakit." Devano menelpon asistennya.
Devano memapah Riko keluar dari ruangannya dan masuk kedalam lift, Arka menghampiri Devano dan Riko saat melihat mereka keluar dari dalam lift.
"Sudah Tuan Muda." Jawab Arka lalu membantu Devano memapah Riko masuk ke dalam mobil.
Di dalam perjalan Riko merintih kesakitan sebuah kenangan masa lalunya yang buram "Kakak kepalaku mau meledak." Ucap Riko si sela-sela rintihannya.
mobil Devano berhenti di depan rumah sakit, Arka berlari mengambil kursi roda dan membawanya ke samping mobil Devano.
"Dokter." Teriak Devano.
Para perawat menghampiri Devano dan menuntunnya ke UGD, dokter masuk ke dalam kamar dan memeriksa keadaan Riko yang masih merintih kesakitan.
"Tuan tolong keluar dulu, dokter akan memeriksa pasien." Ujar perawat.
Devano mengangguk dan berjalan keluar, "Tuan Muda." Panggil Arka.
"Hubungi papi dan mommy, beri tahu dia kondisi Riko." Ucap Devano.
Ponsel Devano berdering, dengan cepat dia mengambil benda persegi di saku jasnya, tertera nama Adara di layar ponselya.
"Halo."
"....."
"Aku sedang sibuk nanti aku akan menelponmu balik." Devano menutup panggilannya.
Tidak lama dokter keluar, Devano menghampiri dokter dan bertanya "Bagaimana keadaan adikku dokter." Terlihat kekhawatiran Devano di wajahnya.
__ADS_1
"Pasien sudah terlalu banyak mengkomsumsi obat penghilang ingatan sehingga dia ketergantungan, tapi sepertinya dia sudah tidak mengkomsumsinya lagi sehingga membuatnya merasakan sakir kepala." Dokter menjelaskan kepada Devano.
"Obat penghilang ingatan?" Batin Devano.
"Kalau begitu saya permisi dulu Tuan." Devano mengangguk.
"Arka tolong jaga Riko." Ujar Devano.
"Tuan Muda mau kemana?" Tanya Arka.
"Aku ada urusan penting." Devano menepuk bahu asistennya dan pergi meninggalkannya.
Devano keluar rumah sakit dan mengendarai mobilnya menuju rumah Alex, "Aku harus memastikannya sebelum bertindak lebih lanjut." Gumamnya.
Mobil Devano berhenti di depan rumah yang berpagar putih yang lumayan tinggi, satpam yang bertugas menjaga rumah kekasihnya menghampiri mobil Devano.
"Ada yang bisa kami bantu Tuan." Ucap pak satpam.
"Aku ingin bertemu dengan Tuan Alex." Jawab Devano.
"Tuan sedang tidak di rumah."
"Kalau Nyonya Alex ada?" Tanya Devano.
"Nyonya ada, tunggu sebentar Tuan." Satpam rumah Alex membuka pagar putih dan mobil Devano memasuki halaman yang tidak terlalu luas. Ini pertama kalinya datan di rumah kelasihnya.
Mobil Devsno berhenti di depan rumah Alex, dia keluar dari mobil dan berjalan ke arah pintu, Devano menekan bel beberpa kali dan pintu pun terbuka.
"Saya ingin bertemu Nyonya Alex." Ucap Devano, Ani mempersilahkan tamu Nyonyanya masuk.
Devano duduk di ruang tamu sedangkan Ani pergi memanggil Kanaya yang sedang sibuk di dapur. "Nyonya ada tamu yang ingin bertemu." Kanaya tampak bingung mendengar ucapan Ani.
"Baiklah, tolong siapin minuman." Ani pun mengangguk.
Kanaya pergi keruang tamu dan melihat pria yang dia sangka dulu adalah putranya, Devano menoleh ke arah Kanaya dan tersenyum.
"Ah maaf, ada apa mencari saya?" Kanaya tampak bingung.
"Saya kesini ingin mendengar cerita tentang putra anda Nyonya." Ujar Devano.
"Putraku?"
"Iya, putra sulung anda Kavin." Kanaya terkejut mendengar perkataan Devano, dan akhirnya Kanaya menceritakan semuanya sampai Kavin di culik.
"Apa Nyonya tau siapa penculiknya?" Tanya Devano, Kanaya mengangguk "Mantan tunangan suamiku." Ucap Kanaya dengan derai air mata.
"Saya minta maaf Nyonya kalau pertanyaan saya mengungkit kenangan pahit masa lalu anda." Ucap Devano.
"Kami masih berharap putra kami kembali." Kanaya berusaha tersenyum.
"Saya pamit dulu Nyonya, lain kali saya akan kemari lagi." Ujar Devano dan di angguki oleh Kanaya.
Devano masuk ke mobilnya hanya mommy yang bisa menjawab pertanyaan yang ada di kepalanya sekarang. Devano meninggalkan kediaman Alex dan menuju ke rumah utama Hanendra.
Di rumah Keluarga Hanendra kedatangan tamu yang tidak di undang Evelyn dan Tuan Sanjaya sangat terkejut "Apa yang kau lakukan disini?" Teriak Tuan Sanjaya.
__ADS_1
Bersambung...