
Setelah di beri tanda oleh Devano Adara langsung lari di susul Devano mereka pun keluar dari bangunan tua itu, para anak buah suruhan Tuan Raka mengejar mereka.
"Dev, aku tidak kuat lagi untuk berlari," ucap Adara yang sudah ngos-ngosan.
"Kita tidak punya banyak waktu Adara," ujar Devano.
Mereka berdua kembali berlari tanpa memperhatikan arah jalan, Adara yang merasa kesulitan berlari melepas sendalnya yang memiliki hak lumayan tinggi.
"Pakai ini!" Devano memberikan sepatunya untuk di pakai Adara.
"Tidak," tolak Adara.
Tanpa mengikuti perkataan Adara Devano langsung berlutut untuk memasangkan sepatunya di kaki Adara.
Mereka mendengar suara para anak buah suruhan Tuan Raka yang mengejar mereka mendekat, Adara dan Devano kembali berlari.
"Hah! Hah! Hah! Dev, aku benar-benar tidak bisa berlari lagi. Nafasku se-pertinya sudah hampir habis," ucap Adara sembari mengatur nafasnya.
Devano melihat sebuah lubang yang lumayan dalam, dia menarik tangan Adara mendekati lubang itu.
"Turun!" perintah Devano pada Adara.
"Apa?" tanya Adara sembari menatap Devano.
"Aku bilang turun cepat," ucap Devano.
Tanpa bertanya apapun lagi Adara langsung turun, dia menatap Devano yang sibuk menutupi lubang tempat Adara bersembunyi.
"Apa kamu tidak turun?" tanya Adara, Devano menganggukkan kepalanya.
"Ke-kenapa? Kita muat berdua disini," ujar Adara.
Terdengar suara anak buah suruhan papinya semakin dekat, Devano menatap Adara.
"Berjanjilah satu hal padaku Adara," pinta Devano, Adara pun menganggukkan kepalanya.
"Apapun yang terjadi jangan mengeluarkan suara yang bisa mengundang penjahat itu, maka usahaku untuk melindungimu akan sia-sia. Itu sebabnya aku tidak ikut masuk kelubang ini karena aku yang akan melindungimu," ujar Devano.
Devano mengambil kotak cincin di saku celananya dan memberikan pada Adara, "Aku ingin melihatmu memakainya setelah kita keluar dari hutan ini," ucap Devano.
Adara mengambil kotak cincin di tangan Devano yang di berikan untuknya. Setelah memastikan wanita yang di cintainya aman Devano pergi meninggalkan tempat persembunyian Adara, dia berlari ke jalan yang akan di lalui anak buah suruhan papinya.
__ADS_1
Adara melihat Devano yang tengah berdiri untuk menghadang penjahat itu, "Apa yang ingin dia lakukan disana? Kenapa dia jadi sok pahlawan," gerutu Adara.
Tidak lama anak buah suruhan Tuan Raka mendekati Devano yang tengah berdiri sembari bertolak pinggang.
"Serahkan wanita itu, maka kami akan melepaskanmu," ucap salah satu preman.
"Tapi sayangnya aku sudah menyuruhnya pergi dari sini," seringai Devano.
"Beri anak itu pelajaran!" perintah ketua preman itu.
Lima preman mengepung Devano tiga orang dapat ia lumpuhkan tapi tanpa Devano sadari salah satu dari lima preman itu memungut kayu dan langsung memukul kepalanya.
Duk...!! Darah segar mengalir dari sela rambut Devano, Adara menutup mulutnya agar tidak mengeluarkan suara apapun seperti janjinya pada Devano.
Sesaat Devano tersungkur di tanah, "Aku tidak akan membiarkan kalian menyakitinya!" ucap Devano dengan tatapan dinginnya.
Ia berdiri dan memukul para anak buah suruhan papinya, tenaga Devano melemah wajah tampannya penuh luka pukulan dan dia kembali tersungkur di tanah.
"Aku beri satu kesempatan dimana wanita itu?" tanya ketua preman kembali pada Devano.
"Aku bilang dia sudah keluar dari hutan ini," jawab Devano sembari seringai licik.
Dia mendekati Devano yang masih tersenyum mengejek ke arahnya dan "Jlebb...!!!" Darah segar keluar dari perut Devano.
"Ugh..!!" rintih Devano.
Kotak cincin yang ada di tangan Adara terjatuh, rasa tidak percaya pria yang telah menyakitinya rela melakukan itu demi dirinya.
Tak terasa air mata Adara menetes saat melihat Devano tersenyum menatapnya hingga matanya tertutup.
"Tidak Dev, jangan menutup matamu aku mohon bertahanlah. Ayah, Kakak kalian ada dimana cepatlah datang Devano memerlukan bantuan," gumam Adara dalam hatinya sembari menangis.
Alex, Kavin dan Arka sampai di depan Villa di susul oleh Andra, Gio dan Dokter Syarif mereka berenam pergi ke hutan timur milik keluarga Hanendra.
Alex dan Kavin masuk lebih dulu mereka memanggil nama Adara tapi tidak ada balasan.
Adara memungut kotak cincin yang di berikan oleh Devano dan membukanya lalu memakainya di jari manisnya.
"Aku telah memakainya Devano, aku harap kamu bisa bertahan sampai Ayah dan kak Kavin menemukan kita, gumam Adara.
Di kejauhan Adara mendengar suara Ayah dan kakaknya tengah memanggil namanya, tak lama Alex dan Kavin sampai di tempat Devano tergeletak bersimbah darah.
__ADS_1
Adara yang melihat Ayah dan kakaknya pun memanggilnya, Alex dan Kavin mendengar suara Adara di semak-semak.
"Adara!" panggil Alex.
"Ayah, aku di dalam lubang," ucap Adara, Alex mendekati semak-semak tempat adara bersembunyi.
Alex menemukan putrinya di dalam lubang yang tertutupi oleh semak-semak belukar dia pun di tarik oleh ayahnya keluar dari sana.
Kavin tengah membuka bajunya untuk menghentikan pendarahan Devano, Arka yang baru sampai terkejut melihat Tuan mudanya bersimbah darah di pangkuan Kavin.
"Tuan Muda, bertahanlah saya akan membawa kerumah sakit," ucap Arka seraya mengambil alih Devano dari pangkuan Kavin.
Adara yang sudah keluar dari lubang berlari mendekati kakaknya dan Arka yang tengah memapah Devano. "Dev, a-aku ...." Ucapan Adara terhenti saat Arka melihatnya dengan tatapan tidak sukanya.
"Maaf Nona Adara, biarkan saya sendiri yang mengurus Tuan Muda," ujar Arka lalu pergi meninggalkan Adara dan keluarganya.
Adara jatuh tersungkur dan menangis melihat Arka membawa Devano yang sekarat pergi, Alex, Kavin dan yang lainnya mendekati Adara yang menangis histeris.
"Sayang, ayo pulang!" ajak Alex pada putrinya.
Adara pun berdiri dan memeluk ayahnya, Dokter Syarif menghapus air matanya di sudut matanya melihaf calon istrinya tengah menangisi pria lain.
****
Di rumah sakit Devano langsung di tangani oleh empat Dokter, Evelyn dan Tuan Raka datang setelah menerima kabar dari Arla kalau Devano masuk rumah sakit.
"Arka bagaimana kondisi Devano, sekarang?" tanya Evelyn saat dia sudah sampai di depan kamar operasi.
"Kondisi Tuan Muda belum di ketahui Nyonya, Dokter masih di dalam belum keluar," jawab Arka.
Mereka bertiga menunggu Dokter keluar dari ruang operasi, Tuan Raka mengepalkan kedua tangannya dia tidak percaya putranya mulai membangkan kembali.
Lima jam berlalu lampu operasi mati dan pintu ruang operasi pun terbuka, empat Dokter yang menangani Devano keluar Evelyn menghampiri Dokter dan menanyakan kondisi putranya.
"Bagaiman kondisi putra saya Dokter?" tanya Evelyn pada Dokter yang telah mengoperasi Devano.
"Saat ini kondisi pasien kritis dan koma," jawab salah satu Dokter.
Devano pun di pindahkan ke kamar ICU Arka menutup matanya, "Kau sudah jadi pria sejati Tuan Muda," gumam Arka dalam hati.
Bersambung....
__ADS_1