
Kelvin benar-benar berada di ambang dilema. Menjadi orang nomor satu di negaranya, dia memang merasa tergiur berada di posisi itu. Alasannya hanya satu, dia ingin terlepas dari kungkungan sang ayah yang telah memenjarakan jiwanya dalam segala aturan yang membuat dirinya tidak bisa melakukan hal apapun yang dia inginkan.
Akan tetapi, dia pun tidak ingin mengingkari janjinya kepada wanita bernama Indah Permata. Wanita yang telah dia renggut kesuciannya dalam keadaan mabuk dan begitu mencintai wanita itu saat ini. Kelvin berkutat dengan pikirannya, mencoba untuk menelisik lubuk hatinya yang paling dalam.
Apa sebenarnya yang dia inginkan? Apakah dia akan menerima perjodohan ini dengan imbalan akan dicalonkan menjadi Presiden suatu saat nanti? Atau, dia akan merelakan tawaran yang tidak akan datang 2 kali di dalam hidupnya dan lebih memilih menikahi wanita bernama Indah?
"Kelvin? Lagi ngelamunin apa kamu?" tanya sang ayah yang saat ini duduk di sampingnya di dalam mobil.
"Hah? Eu ... Nggak ko, Dad. Saya gak lagi mikirin apa-apa,'' jawab Kelvin menyudahi lamunan panjangnya.
"Gak usah berfikir panjang lagi. Kamu terima saja tawaran Presiden tadi, kapan lagi kamu akan dicalonkan sebagai Presiden? orang nomor satu di negara ini."
Kelvin diam seribu bahasa. Tatapan matanya nampak menatap ke arah luar jendela, dimana mobil-mobil sedang berjejer menunggu lampu merah berubah warna. Tanpa di sangka, tepat di sampingnya Indah nampak sedang duduk di kursi hatle sedang menunggu Bis atau hanya sekedar duduk untuk menenangkan pikiran dia pun tidak tahu pasti alasannnya.
'Indah?' (batin Kelvin.)
__ADS_1
Dia nampak menatap lekat wajah cantik itu. Wajah yang semalam telah menghabiskan waktu bersamanya. Wajah gadis dengan status sosial yang sangat berbeda dengan dirinya, tapi dia begitu mencintai gadis itu. Kaca mobil yang menjadi pembatas antara dirinya dan juga Indah di luar sana seolah menjadi tembok penghalang yang sangat tinggi membuatnya sama sekali tidak bisa hanya untuk sekedar menyapanya apalagi membuka pintu mobil dan menghampiri Indah di luar sana.
'Kenapa saya harus jatuh cinta sama kamu, Indah?' (batin Kelvin.)
Dia pun hanya bisa mengusap permukaan kaca tebal berwarna hitam itu. Warnanya yang hitam pekat membuat wanita di luar sana sama sekali tidak dapat melihat bahwa dirinya sedang memperhatikan wajah cantiknya dari dalam mobil. Tanpa Kelvin sadari bahwa, sang ayah sedari tadi memperhatikan gelagatnya dan mulai merasa curiga.
"Apa wanita itu cantik sekali di mata kamu, sampai-sampai kamu tidak berkedip sama sekali melihat wajahnya?" tanya Tuan Alamsyah seketika membuat Kelvin menoleh dan menyudahi tatapannya.
"Apa maksud Daddy? Saya sama sekali tidak mengerti dengan apa yang Daddy katakan," Kelvin berkilah dan mencoba untuk bersikap biasa saja.
"Jangan bohong, Daddy tahu dari tadi kamu terus memperhatikan dia. Ingat Kelvin, kamu itu calon menantu Presiden. Tidak ada wanita yang lebih pantas untuk kamu selain Evelyn, dia itu cantik, elegan, berasal dari kaum bangsawan. Dia adalah jodoh kamu," tegas sang ayah penuh penekanan.
'Maafkan saya, Indah. Maaf karena saya sama sekali tidak bisa memperjuangkan cinta saya sama kamu,' (batin Kelvin.)
Sampai akhirnya, lampu lalu lintas pun beralih ke warna hijau. Mobil yang ditumpangi Kelvin perlahan mulai meninggalkan tempat itu juga meninggalkan Indah di belakang sana yang masih duduk di tempat yang sama. Sakit, hati Kelvin benar-benar merasa sakit saat ini.
__ADS_1
"Jangan pernah berfikir untuk mencintai wanita lain, Kelvin. Apalagi wanita biasa saja yang status sosialnya jauh di bawah kita. Wanita rendahan sama sekali tidak cocok menjadi pendamping hidup kamu," celetuk Tuan Alamsyah kemudian.
"Kenapa Daddy bicara seperti itu? Apa pantas seorang pejabat merendahkan rakyatnya sendiri? Pejabat macam apa Daddy ini?" ketus Kelvin tersenyum menyeringai.
"Hahahaha! Kamu sudah pandai menggurui Daddy ternyata? Ingat Kelvin, Mommymu dalam keadaan koma sekarang, Daddy bisa saja menyuruh team Dokter untuk melepaskan alat bantu di yang selama ini membantu Mommy untuk hidup. Kamu tahu? Nyawa Mommy kamu itu akan melayang seketika itu juga jika Daddy melakukan hal itu.''
Kelvin mengepalkan kedua tangannya merasa geram. Lagi-lagi sang ayah menggunakan ibunya yang dalam keadaan koma sebagai senjata. Senjata agar dirinya menuruti apa yang diperintahkan sang ayah tanpa terkecuali. Ya ... Sang ibu, Nyonya Aprilia sudah koma dalam waktu yang cukup lama.
"Daddy benar-benar jahat. Mommy adalah istri Daddy sendiri, tega sekali Daddy mengatakan hal yang kejam seperti itu?" tegas Kelvin merasa geram.
"Hahahaha! Istri kamu bilang? Wanita itu tidak lebih dari sekedar mayat hidup. Ingat, kalau kamu masih ingin nyawa ibumu itu selamat, jangan sekali-kali kamu membantah apapun yang Daddy perintahkan, mengerti?"
BERSAMBUNG
...****************...
__ADS_1
PROMOSI NOVEL