
"Hmm ... Benar juga apa yang kamu katakan. Apa sebaiknya perempuan itu mati saja ya? Jika hubungan kita sampai terungkap, aku gak akan terlalu malu karena toh aku seorang duda. Lagipula, aku tidak mau kehilangan kamu, sayang. Apalagi goyangan maut kamu itu, hahahaha!'' Tuan Alamsyah tertawa ringan.
"Benarkan apa yang aku bilang. Hal yang wajar jika seorang bos jatuh cinta kepada sekretarisnya sendiri, apalagi seorang duda. Hal itu gak akan berpengaruh akan nama baik kamu, Mas. Asal istri kamu yang sudah seperti mayat hidup selama bertahun-tahun itu mati," tegas Melani tersenyum menyeringai.
"Baiklah, tapi untuk malam ini kamu pulang saja dulu. Belum waktunya kamu jadi Nyonya Alamsyah. Tunggu sebentar lagi, tunggu sampai istriku benar-benar mati. Aku harap kamu bisa bersabar sampai hari itu tiba,'' ucap Tuan Alamsyah dan ditanggapi dengan senyuman senang oleh Melani.
"Aku pulang dulu kau begitu. Aku tunggu kabar bahagia tentang kematian istrimu secepatnya,'' ucapan terakhir Melani sebelum dia benar-benar keluar dari dalam kamar.
***
Kelvin menggenggam erat jemari Indah seolah tidak ingin berpisah dengan gadis itu sedikitpun. Dia bahkan masih menyempatkan untuk melirik ke arah Indah secara berkali-kali di tengah aktivitasnya yang saat ini sedang menyetir mobil. Senyuman bahagia mengembang dari kedua sisi bibirnya kini, benar-benar merasa bahagia.
Malam yang semakin larut membuat jalanan terlihat gelap. Namun, lampu jalanan yang berada di sisi kiri dan kanan jalan membuat kegelapan terlihat mempesona karena sinar yang terpancar dari lampu tersebut membentuk titik kecil dan berlalu begitu saja seiringan dengan lajunya mobil yang saat ini sedang dikendarai oleh Kelvin. Sungguh malam ini terasa begitu indah, seindah perasaan mereka berdua saat ini.
"Rasanya berat banget mengantarkan kamu pulang, kenapa waktu tidak berhenti saja sampai di sini agar kita tidak berpisah selamanya,'' celetuk Kelvin melirik ke arah Indah.
"Ish, dasar gombal. Selain tampang dan baik hati, kamu juga pandai menggombal juga ternyata," jawab Indah tersenyum kecil.
"Hahahaha! Yang menggombal itu saya apa kamu, sayang? Saya gak nyangka kalau ternyata kamu juga pintar menggombal."
"Semua yang aku katakan itu benar lho, kamu itu tampan, mapan, pekerjaan kamu juga oke. Aku heran kenapa Evelyn sama sekali gak tertarik sama kamu?"
"Kenapa jadi bahas dia? Evelyn itu udah punya pacar lho, itu sebabnya dia membantu kita buat ketemu karena dia pun membutuhkan bantuan saya nanti saat dia akan ketemu juga dengan pacarnya."
"O ya? Wah ... Kita bisa double date nanti. Aku gak nyangka putri dari seorang Presiden bisa sebaik dia. Selain cantik, baik, ramah, dia juga lembut."
"Masih cantikan kamu, sayang. Lebih baik, lebih ramah juga lebih lembut kamu dibandingkan dia. Kamu itu wanita paling sempurna di dunia ini."
"Nah 'kan gombal lagi. Udah akh, bisa terbang nanti di gombalin terus sama kamu, Vin."
"Hahahaha! Memang seperti itulah kenyataannya, sayang. Kamu adalah wanita sempurna untuk Kelvin. Tidak ada wanita lain yang saya inginkan di dunia ini selain kamu. Kamu adalah satu-satunya wanita yang aku inginkan, sekarang, nanti, besok dan selamanya untuk selalu ada di sisi saya, muach." Kelvin mengecup punggung tangan kekasihnya lembut dan penuh kasih sayang.
__ADS_1
"Iya-iya ... Cukup Mas Kelvin, aku bisa kegeeran nanti," lembut Indah dengan wajah yang memerah.
Setiap kata yang keluar dari bibir pemuda bernama Kelvin itu benar-benar telah sukses membuat hati Indah luluh. Ibarat gunung es yang seketika mencair setelah terkena hangatnya sinar matahari membuat kebekuan yang selama ini menyelimuti hatinya terasa mencair.
"Aduh, rumah kamu udah deket lagi,'' celetuk Kelvin tiba-tiba saja memutar stir dan berbalik arah.
"Hah? Ko balik lagi?" Indah mengerutkan kening.
"Kita jalan-jalan sebentar lagi, Ndah. Saya belum ingin berpisah dengan kamu."
"Dih, dasar. Ini sudah malam lho, memangnya gak dicariin sama Daddy kamu nanti?"
"Ish, memangnya saya anak kecil yang dicariin sama ayahnya gara-gara pulang kemalaman?"
"Memang biasanya seperti itu 'kan? Kamu selalu bilang, 'Nanti Daddy cariin saya. Saya tidak boleh pulang terlalu malam,' begitu 'kan?"
"Hmm! Iya juga si. Kamu bisa aja deh, sayang, tapi itu dulu lho, sekarang saya tidak takut lagi sama Daddy saya itu. Saya sadar kalau selama ini saya salah karena terlalu takut dengan ancaman dia, saya akan melawan mulai sekarang. Kamu tahu, saya seperti ini berkat kamu, sayang. Kamu benar-benar wanita yang luar biasa lho.''
Kelvin diam seraya menatap ke depan, mendengar hal itu membuat rasa khawatir menyelimuti hatinya kini. Apakah sang ibu akan baik-baik saja nanti jika dia berontak dan melawan ayahnya? Atau, dia akan berpura-pura patuh demi keselamatan ibunya tersebut?
"Vin?" panggil Indah seketika membuyarkan lamunan Kelvin.
"Hah? Eu ... Iya, Ndah. Kamu gak usah khawatir. Mommy akan baik-baik saja ko. Kamu gak usah khawatir, Daddy gak akan berani macam-macam sama Mommy, karena walau bagaimanapun, Mommy adalah istrinya sendiri. Dia pernah mencintai Mommy walau hanya sedetik di dalam hidupnya,'' jawab Kelvin mencoba menghibur diri sendiri sebenarnya.
Setelah memutar arah selama beberapa putaran, mobil yang dikendarai oleh Kelvin akhirnya kembali sampai di depan kediaman Indah. Rasanya tidak mungkin jika dia kembali memutar stir dan tidak ada pilihan lain lagi selain berhenti tepat di depan rumah kekasihnya itu. Dengan berat hati akhirnya dia akan berpisah dengan Indah untuk malam ini.
Ckiiit!
Mobil pun berhenti di tepi jalan.
"Hmm ... Sampai juga akhirnya,'' ucap Kelvin dengan perasaan berat.
__ADS_1
"Makasih, Vin."
"Makasih untuk apa? Seharusnya saya yang berterima kasih karena kamu telah sudi menerima saya lagi."
Indah tersenyum kecil seraya menatap wajah tampan seorang Kelvin. Berat sebenarnya bagi dirinya untuk berpisah dengan laki-laki yang sangat dia cintai itu. Namun, apalah daya dia harus melakukan hal itu, mengakhiri pertemuanku untuk malam ini.
"O iya, Indah. Saya punya sesuatu buat kamu," ucap Kelvin merogoh saku kemeja yang dia kenakan lalu mengeluarkan ponsel canggih dari dalam sana.
"Apa ini?" tanya Indah.
"Ini ponsel, sayang. Saya sengaja beli ini buat kamu."
"Gak usah, saya punya ponsel ko. Ya ... Meskipun tidak semewah dan secanggih punya kamu ini, tapi itu sudah cukup untuk kita berkomunikasi nanti."
"Udah terima saja. Saya ikhlas ko, lihat ponselnya sama persis dengan punya saya.'' Kelvin memperlihatkan dua ponsel.
"Wah, beneran sama ya. Kamu benar-benar romantis, Vin. Ya udah, ponselnya aku terima ya.'' Indah menerima ponsel itu juga akhirnya.
Dia pun menekan tombol on kemudian, dan seketika layar ponsel pun menyala terang. Indah nampak tersenyum lebar saat menatap layar yang ternyata terpampang jelas wajah Kelvin sedang tersenyum lebar, terlihat begitu tampan sebagai wallpaper ponsel tersebut.
"Kenapa senyum-senyum sendiri? Wajah saya tampan 'kan?'' tanya Kelvin penuh percaya diri.
"Tampan, tampan banget."
"Hahahaha! Muach!"
Satu ke*upan pun mendarat di kening Indah. Lembut dan penuh kasih sayang dengan perasaan yang sangat bahagia tentu saja. Baik Kelvin maupun Indah merasakan hal yang sama kini. Sama-sama merasa bahagia, sama-sama merasakan rasa cinta yang mendalam. Lebih dalam dari lautan, juga lebih luas dari angkasa, seperti itulah rasa cinta mereka.
BERSAMBUNG
...****************...
__ADS_1