Hasrat Cinta Putra Sang Penguasa

Hasrat Cinta Putra Sang Penguasa
Uang Bayaran


__ADS_3

Indah seketika memejamkan kedua matanya saat amplop berwarna coklat berisi uang yang dia sendiri tidak tahu berapapun isinya, yang jelas sesaat rasa nyeri pun mendera wajahnya karena amplop tersebut dilemparkan dengan sedikit bertenaga. Akan tetapi, bukan hanya wajahnya saja yang terasa sakit, hati Indah merasakan sakit 10 kali lipat dari rasa sakit yang dia rasakan diwajahnya.


"Kenapa tidak di ambil? Anggap saja uang itu adalah harga untuk kepera*anan kamu, dasar wanita mur*han,'' celetuk Tuan Alamsyah, seolah menaburkan garam di atas luka yang masih basah tentu saja.


"Apa anda pikir saya ini wanita murahan?" lirih Indah menahan tangis.


"Apa bedanya kamu sama wanita murahan? Wanita mana yang bisa tidur dengan seorang laki-laki yang baru saja dia kenal? Setelah itu, kamu terus saja nempelin putra saya seperti perangko. Apa kamu tidak punya harga diri?"


"Kami tidak sengaja melakukan hal itu, waktu itu kami--'' Indah tidak meneruskan ucapannya.


"Waktu kalian sama-sama dalam keadaan mabuk, begitu?"


Indah diam seraya menundukkan kepalanya.


"Kenapa diam? Benar bukan apa yang saya katakan? Jika kamu sampai mabuk dan melakukan hal itu dengan putra saya, bisa jadi kamu juga pernah melakukannya sama laki-laki lain. Bukankah hobi kamu memang mabuk-mabukan?''


"Saya bukan wanita murahan? Hati-hati anda kalau bicara?" tegas Indah penuh penekanan.


"Siapa tahu 'kan?" Tuan Alamsyah mengangkat kedua bahunya.


"Sebenarnya apa yang anda inginkan?" tanya Indah, air matanya berjatuhan begitu saja tidak dapat lagi dia tahan.


"Apa kamu tidak dengar apa yang saya katakan tadi? Ambil uang itu dan tinggalkan putra saya. Jumlah uang di dalam amplop itu cukup besar, kamu bisa pindah ke luar negri dan mencari laki-laki yang pantas untuk kamu. Jangan putra saya, karena dia akan segera menikah dengan putri Presiden,'' jawab Tuan Alamsyah tersenyum menyeringai.


"Anda yakin kalau putra anda itu mau menikah dengan Evelyn?"

__ADS_1


"Apa? Darimana kamu kenal sama Evelyn?"


"Kenapa? Anda merasa heran karena gadis yang tidak berpendidikan seperti saya bisa berteman dengan putri seorang Presiden?"


Tuan Alamsyah pun kembali tersenyum menyeringai. Dia menatap wajah Indah dengan tatapan tajam. Sepertinya, gadis ini sudah mulai berani menjawab semua pertanyaannya dengan suara lantang.


"Saya muak dengan perdebatan ini, lebih baik sekarang kamu cepat ambil uang itu dan pergi dari sini juga pergi dari kehidupan putra saya untuk selama-lamanya, mengerti?"


"Tidak, saya tidak akan menerima uang ini. Saya memang berasal dari keluarga sederhana, dan keluarga saya memang membutuhkan banyak uang, tapi saya tidak akan menjual cinta saya berapapun harganya dan saya gak akan pernah meninggalkan putra anda Kelvin Alamsyah karena saya mencintai dia begitupun sebaliknya. Coba saja anda pisahkan kami kalau anda bisa," tegas Indah penuh penekanan.


Entah dari mana dia mendapatkan keberanian itu. Dia baru saja mengucapkan dengan sangat lantang bahwasanya dirinya akan mempertahankan hubungannya dengan Kelvin. Sungguh, Indah sendiri tidak menyangka bahwa dirinya bisa mengatakan semua itu dengan penuh percaya dirinya. Indah pun berbalik dan keluar dari dalam ruangan kemudian.


"Dasar wanita tidak tahu diri. Kembali kamu, saya belum selesai bicara!" teriak Tuan Alamsyah benar-benar merasa kesal. Namun, diabaikan.


Ceklek!


Pintu ruangan di buka dan kembali di tutup rapat. Indah keluar dari dalam ruangan tersebut dengan langkah kaki gontai. Tubuhnya bahkan hampir saja tumbang tidak mampu menahan beban yang tetas begitu berat, tapi dia segera menjadikan tembok sebagai penopang.


Setelah menenangkan diri juga mengatur napasnya yang terasa barat, Indah pun kembali berdiri tegak dan melanjutkan langkah kakinya. Dia akan menghampiri kamar Kelvin sang kekasih saat itu juga. Dirinya akan menunjukan kepada Kelvin bahwa dia baik-baik saja.


Ceklek!


Indah membuka pintu kamar kekasihnya itu begitu saja. Tanpa di ketuk, bahkan tanpa memanggil nama sang pemilik kamar. Kelvin yang saat ini sedang berdiri di tepi jendela pun nampak segera menghampiri sang kekasih dengan setengah berlari.


Grep!

__ADS_1


Dia pun memeluk tubuh Indah erat, sangat erat hingga membuat dadanya terasa sesak.


"Apa yang terjadi? Apa Daddy menyakiti kamu? Apa yang kalian bicarakan? Kenapa lama sekali?" Kelvin mengajukan pertanyaan secara bertubi-tubi membuat Indah akhirnya mengurai pelukan.


"Seperti yang kamu lihat, aku baik-baik saja, sayang," jawab Indah tersenyum lebar.


"Tapi, apa yang kalian bicarakan sebenarnya? Kamu tahu, saya benar-benar khawatir. Saya tidak bisa kembali ke sana karena kamar ini di kunci dari luar.''


"Tidak, kamar ini sama sekali tidak di kunci. Kamu lihat, aku bisa masuk ke sini begitu saja."


"Benar juga," Kelvin mengerutkan kening.


"Sayang, ada yang ingin aku katakan sama kamu," ucap Indah kemudian.


"Apa yang ingin kamu katakan? Bilang saja, sayang."


"Mari kita jalani hubungan ini secara terang-terangan mulai sekarang."


BERSAMBUNG


...****************...


PROMOSI NOVEL


__ADS_1


__ADS_2