Hasrat Cinta Putra Sang Penguasa

Hasrat Cinta Putra Sang Penguasa
Telur Busuk


__ADS_3

Plak! Plak! Plak!


Beberapa buah telur tiba-tiba saja melayang lalu mendarat tepat di kepala Melani sesaat setelah dia bersama Tuan Alamsyah keluar dari dalam rumah. Tentu saja hal itu membuat Melani merasa terkejut, begitupun dengan sang Mentri. Dia membulatkan bola matanya merasa tidak percaya akan mendapatkan perlakuan seperti itu.


"Argh! Apa ini? Sialan!" teriak Melani mengusap kepalanya dengan perasaan jijik.


Dia pun nampak menatap sekeliling dengan perasaan kesal. Dari mana asalnya telur-telur yang tiba-tiba saja mendarat di kepalanya itu. Bukankah para Wartawan itu berada di luar pagar? Melani penuh tanda tanya.


"Kepalamu, hahahaha! Siapa yang berani melemparkan telur-telur busuk ini? Astaga!'' Tuan Alamsyah menertawakan membuat Melani semakin merasa murka tentu saja.


"Mas menertawakan aku?"


"Hah? Nggak ko, siapa bilang."


"Itu tadi kamu tertawa, Mas. Dasar gak sopan,'' decak Melani hendak kembali masuk ke dalam rumah.


Akan tetapi, para Wartawan yang semula berada di luar pagar tiba-tiba saja masuk ke dalam halaman lengkap dengan kamera yang kini menyorot ke arah mereka berdua. Tentu saja hal itu membuat Melani semakin merasa kelabakan. Dia pun hendak kembali masuk ke dalam rumah, tapi dirinya seketika mengurungkan niatnya saat salah satu dari wartawan itu berteriak memanggil dirinya dengan panggilan yang sangat dia benci.


"GU*DIK!''


Melani sontak menoleh dengan wajah geram. Kepalanya yang hampir dipenuhi dengan pecahan telur busuk yang meleleh menimbulkan aroma tidak sedap membuat penampilan wanita itu terlihat sangat menjijikan. Para pencari berita itu bahkan menutup hidungnya karena aroma tidak sedap tercium oleh mereka juga.


"HEY! SIAPA YANG BERANI MEMANGGILKU DENGAN PANGGILAN GUN*IK!'' teriak Melani menatap satu-persatu semua yang berada di sana.

__ADS_1


"Sudah cukup, jangan berteriak seperti itu. Malu di sorot kamera," sang Mentri mencoba menenangkan.


"Kamu jelaskan kepada mereka kalau aku ini bukanlah seorang gu*dik, aku adalah calon Nyonya Alamsyah!''


"Pak Mentri, tolong jawab pertanyaan kami. Apakah benar wanita ini adalah calon Nyonya Alamsyah?'' tanya salah satu Wartawan.


"Sejak kapan kalian berhubungan? Bukankah istri anda baru meninggal beberapa hari yang lalu?" tanya Wartawan lainnya.


"Apakah kalian sudah menjalin hubungan dari semenjak Nyonya Alamsyah yang asli masih hidup?" Pertanyaan dilayangkan secara bertubi-tubi membuat Tuan Alamsyah merasa kebingungan.


"Nyonya Alamsyah yang asli?" Melani membulatkan bola matanya.


"Betul sekali, maksud kami mendiang Nyonya Aprilia.''


Tuan Alamsyah benar-benar merasa dipojokkan. Keputusannya untuk menemui Wartawan itu ternyata bukanlah hal yang tepat. Dia bahkan merasa bingung harus menjawab apa sekarang, sementara sorot kamera masih saja mengarah kepadanya lengkap dengan lampu blitz yang menyala saling bersahutan begitu menyilaukan.


"Kenapa kamu diam, Mas? Cepat jelaskan kepada mereka bahwa aku ini bukan gun*ik. Aku calon istri kamu, Mas.''


"Nanti saya akan mengadakan konprensi pers secara resmi, sebaiknya kalian pulang saja dulu. Saya akan menghubungi kalian lagi, oke?" jawab Tuan Alamsyah membuat Melani merasa kecewa, begitu pun dengan para Wartawan yang berjumlah lebih dari 10 orang itu.


"Apa? Mas ...!" Melani membulatkan bola matanya.


Tuan Alamsyah menarik pergelangan tangan Melani dan segera menariknya masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


"Pak Mentri. Anda mau kemana? Kenapa Anda malah menghindar seperti ini? Jawab dulu semua pertanyaan kami, Pak!" teriak para Wartawan tersebut, tapi diabaikan tentu saja.


Ceklek!


Blug!


Pintu rumah pun di buka lalu kembali di tutup kasar setelah mereka berdua masuk ke dalam rumah dengan perasaan kesal. Tuan Alamsyah benar-benar merasa murka. Dia tidak menyangka bahwa Kelvin akan melakukan hal seperti ini. Apakah ini adalah balasan atas semua tindakan yang selama ini dia lakukan kepada putranya tersebut? Dia sama sekali tidak pernah berfikir bahwa Kelvin akan seberani ini.


"Kenapa kamu tidak menjelaskan kepada mereka semua? Kenapa Mas diam saja saat mereka memanggilku dengan sebutan gu*dik?'' teriak Melani membulatkan bola matanya.


"Diam kamu, lebih baik kamu bersihkan dulu tubuh kamu yang bau busuk itu,'' jawab Tuan Alamsyah menatap Melani dengan tatapan jijik.


''Tapi, Mas. Apa yang akan kita lakukan sekarang. Aku gak mau terus-terusan di panggil gu*dik sama mereka.''


''Astaga, tubuh kamu bau sekali. Cepat bersihkan tubuh kamu, Melani. Mas gak tahan dengan baunya, huek ...''


Melani mengerucutkan bibirnya sedemikian rupa. Kedua matanya nampak menatap tajam wajah Tuan Alamsyah merasa kesal. Dia pun akhirnya pergi untuk membersihkan diri meninggalkan sang Mentri yang saat ini termenung sendiri seperti sedang memikirkan sesuatu.


'Kelvin, berani-beraninya kamu mempermalukan Daddy seperti ini. Awas saja, Daddy pastikan akan membalas semua ini. Wanita itu, Indah akan menerima balasan yang setimpal atas semua penghinaan ini,' (batin Tuan Alamsyah.)


BERSAMBUNG


...****************...

__ADS_1


PROMOSI NOVEL



__ADS_2