
''Jadi seperti ini kelakukan kamu yang sebenarnya?'' gumam Tuan Alamsyah yang memang sadari tadi mengikuti putranya.
Dia yang sudah curiga sejak awal. Sejak Kelvin terus saja memperhatiakan gadis yang ada di halte bis, Tuan Alamsyah mulai menaruh curiga kepada putranya tersebut. Kelvin sang putra tidak pernah menatap seorang wanita seintens itu dan ini adalah kali pertamanya Tuan Alamsyah menyaksikan hal itu. Kecurigaanya akhirnya terbukti, dia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri, Kelvin Alamsyah pergi ke Rumah Sakti dengan wanita tersebut bahkan terlihat mesra.
Tuan Alamsyah pun tersenyum menyeringai. Dia akan mencari cara untuk memisahkan mereka berdua. Dengan kekuasaan yang dia miliki, Tuan Alamsyah mampu melakukan apapun semudah membalikan telapak tangan. Setelah itu, dia meminta sang supir untuk melanjutkan perjalanannya.
****
Di dalam Rumah Sakit.
Ceklek!
Kelvin membuka pintu ruangan ICU dimana ibunya berbaring di dalam sana bersama Indah tentu saja. Mereka masih bergenggaman tangan, seolah sedang saling menguatkan. Kelvin berdiri tepat di tepi ranjang, menatap wajah sang ibu yang masih terlihat sama. Kedua mata Nyonya Aprilia masih terpejam sempurna, persis seperti terakhir kali Kelvin berkunjung ke sana.
"Mom, saya di sini? Gimana perasaan Mommy hari ini? Kenapa Mommy masih tidur lelap seperti ini? Kapan Mommy bangun, Mom?" lirih Kelvin, memberondong sang ibu dengan berbagai pertanyaan meskipun dia tahu bahwa dia sama sekali tidak akan mendapatkan jawaban apapun.
Hanya suara detak jantung yang berasal dari alat medis yang berada tepat di tepi ranjang, terdengar nyaring sebagai pertanda bahwa nyawa sang ibu masih berada di tempatnya. Kedua mata Kelvin nampak mulai berkaca-kaca tatkala menatap wajah sang ibunya yang terlihat pucat pasi, sudah lama sekali ibunya itu dalam keadaan seperti ini. Sungguh hati seorang Kelvin bagai teriris pisau tajam yang rasa sakitnya melebihinya dari apapun.
"Tante, perkenalkan saya Indah. Saya kekasih putra Tante. Senang bisa berkenalan dengan Tante, tapi akan lebih senang lagi jika saya bisa mengobral dengan Tante. Jadi, saya mohon Tante segera bangun. Saya sangat mencintai putra Tante yang tampan ini. Doakan kami semoga perjalanan cinta kami lancar sampai hari dimana kami akan mengikatnya dengan tali pernikahan.''
Hati Kelvin semakin merasa sakit mendengar apa yang baru saja diucapkan oleh Indah. Apakah jalinan cinta mereka bisa berjalan lancar seperti yang diharapkan oleh gadis itu? Sepertinya hal itu mustahil terjadi jika sang ayah sampai tahu tentang hubungan mereka. Dia mengusap dadanya sendiri merasakan sesak di dalam sana.
__ADS_1
"Ibumu pasti bangun lagi, Vin. Kamu gak usah khawatir," lirih Indah seketika membuyarkan lamunan Kelvin.
"Mudah-mudahan saja seperti itu, Ndah. Sudah lama sekali Mommy seperti ini, saya bahkan lupa kapan terakhir kali kami bersenda gurau layaknya seorang anak dan ibunya," jawab Kelvin, mengalihkan pandangannya kepada Indah sang kekasih.
"Benarkah? Aku harap kamu kuat dalam melewati semua ini, aku akan menemani kamu dalam menjalani hari-hari kamu mulai saat ini."
Kelvin tersenyum kecil lalu semakin menggenggam erat jemari gadis itu. Keduanya pun saling menatap satu sama lain kemudian. Baik Kelvin maupun Indah memiliki perasaan yang sama saat ini. Sama-sama saling mencintai.
***
Setelah mengunjungi sang ibu di Rumah Sakit, Kelvin kembali ke kediamannya. Rumah besar berlantai tiga lengkap dengan pasilitas mewah di dalamnya. Namun, rumah itu tidak lebih dari sebuah neraka baginya karena di suguhkan dengan berbagai aturan yang terasa mencekik lehernya.
Ceklek!
"Dari mana kamu jam segini baru pulang?"
Tiba-tiba saja terdengar suara sang ayah yang saat ini duduk di ruang santai lengkap dengan secangkir kopi hangat di atas meja. Kelvin sontak menghentikan langkah kakinya lalu menariknapas berat. Setelah itu, dia pun memutar badan lalu menatap wajah sang ayah.
"Saya sudah bilang tadi, saya habis dari Rumah Sakit," jawab Kelvin kemudian.
"Benarkah? Sama siapa kamu ke sana?"
__ADS_1
"Hah? Apa maksud Daddy? Tentu saja saya ke sana sendiri," jawab Kelvin mulai terlihat gugup.
"Benarkah? Lalu apa ini?"
Plak!
Tuan Alamsyah melempar beberapa lembar poto di atas meja. Di dalam poto tersebut, nampak jelas dirinya sedang berjalan secara bergandengan tangan dengan Indah tentu saja. Bahkan terlihat begitu mesra. Tentu saja, hal itu membuat Kelvin merasa kesal.
"Daddy mengikuti saya?" tanya Kelvin kemudian.
"Iya, memangnya kenapa? Daddy gak nyangka ternyata seperti itu kelakukan kamu di luar sana. Di depan Daddy kamu selalu terlihat baik dan penurut, tapi dibelakang Daddy, kamu diam-diam pacaran sama gadis rendahan itu. Bahkan kalian sering datang ke Klub malam.''
Kelvin diam dengan wajah geram. Dia menatap tajam wajah sang ayah ingin sekali memuntahkan kemarahan sebenarnya. Namun, sebisa mungkin dia mencoba menekan rasa amarah yang terasa meledak-ledak di dalam jiwanya kini.
"Kenapa kamu diam? Kamu tidak menyangkal semua yang Daddy katakan? Jadi, semua itu benar? Kelvin Alamsyah putra dari seorang Mentri mabuk-mabukan di Klub malam bersama seorang wanita?"
"Dari mana Daddy tahu semua itu?"
"Tidak penting Daddy tahu dari mana. Yang terpenting sekarang, kamu harus mengakhiri hubungan kamu dengan wanita itu. Kalau tidak--"
"Kalau tidak?"
__ADS_1
"Kalau kamu tidak mengakhiri hubungan kamu dengan gadis bernama Indah itu, bukan hanya Mommy kamu yang akan celaka, tapi gadis yang kamu cintai itu pun akan Daddy buat menderitanya hidupnya. Kamu tahu pasti kalau Daddy bisa melakukan hal itu dengan uang yang Daddy miliki?"
...****************...