
"Gila ... Gila ... Ilham benar-benar luar biasa, beritanya langsung menduduki trending utama. Coba Abang lihat di internet, berita tentang Daddy menjadi berita yang paling di buru hari ini, hahahaha!" Tawa Kelvin membahana, duduk di kursi kebesarannya di ruangan yang biasa dia gunakan untuk berkerja.
"Kamu yakin Indah akan baik-baik saja?" tanya Jerry sang Kaka terlihat khawatir.
"Maksud Abang?"
"Yah, memangnya kamu gak tau seperti apa Daddy kita itu? Abang cuma takut kalau dia akan membalas perbuatan kita ini, dan Indah yang akan jadi sasarannya."
Kelvin terdiam sejenak. Apa yang baru saja diucapkan oleh Jerry mulai mengusik hati kecilnya. Dirinya pun mulai mengkhawatirkan keselamatan wanita yang dicintainya itu.
"Saya mulai khawatir jadinya. Kalau Daddy sampai menyakiti Indah gimana?" tanya Kelvin.
"Kamu hubungi dia sekarang juga."
"Oke. Saya akan menelpon Indah."
Kelvin menatap layar ponsel yang memang sudah sedari tadi dia genggam. Dia pun mencari nama Indah sang kekasih di dalam ponsel tersebut. Setelah itu, Kelvin menelpon Indah saat itu juga.
Tut ... Tut ... Tut ...
Suara telpon yang belum di angkat. Jelas sekali terlihat dari raut wajah Kelvin bahwa dia benar-benar merasa khawatir. Dia tahu betul betapa jahatnya ayahnya itu yang mampu melakukan apapun di saat beliau sedang dalam keadaan emosi.
"Gak di angkat," ucap Kelvin kemudian. Namun, dia sama sekali tidak menyerah dan kembali menekan tombol dial.
Akan tetapi, bukannya suara Indah yang terdengar melainkan suara operator seluler yang memberitahukan bahwa nomor yang sedang dihubunginya sedang dalam keadaan tidak aktif.
"Sial, nomornya gak aktif. Padahal baru saja aktif lho."
"Kamu datangi saja rumahnya, pastikan bahwa dia baik-baik saja." Pinta Jerry dan langsung di jawab dengan anggukan oleh Kelvin.
"Baiklah, saya pergi sekarang juga," jawab Kelvin bangkit lalu benar-benar meninggalkan ruangannya.
__ADS_1
***
Kelvin mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dia benar-benar merasa khawatir bahwa sesuatu yang buruk akan menimpa kekasihnya. Apalagi, ponsel kekasihnya itu sama sekali tidak bisa di hubungin sampai saat ini.
Dret ... Dret ... Dret ...
Ponsel miliknya pun bergetar, dia segera mengangkat telpon tanpa menatap layarnya terlebih dahulu dan mengira bahwa yang menghubungi dirinya adalah Indah.
📞 "Halo, sayang. Kamu dimana? Kenapa nomor kamu gak aktif?" tanya Kelvin, matanya lurus ke depan menatap jalanan.
📞 "Sejak kapan kamu memanggil Daddy dengan sebutan sayang?"
Ckiiit!
Kelvin seketika melipir lalu menghentikan mobilnya di tepi jalan.
📞 "Daddy? Ada apa Daddy menelpon saya? Memangnya Daddy gak sibuk?''
📞 "Gimana rasanya jadi artis dadakan?"
📞 "Dasar anak kurang ajar? Memangnya Daddy gak tau kalau ini semua perbuatan kamu, hah?"
📞 "Saya sudah bilang, kalau saya bukan anak kecil lagi sekarang. Saya sudah tahu semua yang Daddy lakukan dengan sekertaris Daddy yang centil itu. Sekarang, sudah saatnya Daddy menuai apa yang telah Daddy tanam."
📞 "Dasar anak durhaka. Kamu pikir Daddy akan diam saja diperlakukan seperti ini? Mulai hari ini kamu Daddy pecat dari kantor. Satu lagi, kamu angkat kaki dari rumah Daddy sekarang juga."
📞 "Hmm ... Saya tahu kalau hal ini akan terjadi. Baiklah, mulai besok saya gak akan bekerja lagi di kantor kementrian. Saya juga akan angkat kaki dari rumah. Sudah dulu, Dad. Saya sedang buru-buru," ujar Kelvin hendak menutup sambungan telpon.
📞 "Tunggu sebentar, kamu pasti mau menemui kekasih kamu itu 'kan?"
📞 "Dari mana Daddy tahu?"
__ADS_1
📞 "Hahahaha!"
Tut ... Tut ... Tut ...
Tuan Alamsyah menutup sambungan telpon begitu saja setelah tertawa terbahak-bahak. Tentu saja hal itu membuat Kelvin merasa khawatir. Dia pun kembali menyalakan mesin mobil dan mobilpun melesat di jalanan dengan kecepatan tinggi.
"Saya harap kamu baik-baik saja, Indah,'' gumam Kelvin berkali-kali menatap layar ponsel berusaha menghubungi Indah.
Akan tetapi, usahanya itu sia-sia karena nomor kekasihnya itu masih saja dalam keadaan tidak aktif. Sampai akhirnya mobil yang dikendarainya pun mulai sampai di tempat tujuan. Mobil pun melipir lalu berhenti tepat di depan kediaman Indah kemudian.
Ceklek!
Blug!
Pintu mobil pun di buka lalu di tutup kemudian setelah Kelvin keluar dari dalamnya dengan perasaan khawatir. Dia pun berjalan memasuki halaman rumah sederhana tersebut dan berdiri tepat di depan pintu.
Tok ... Tok ... Tok ...
''Permisi! Indah ... ini saya.''
Kelvin mengetuk pintu seraya memanggil nama Indah. Hal itu bahkan dia lakukan secara berkali-kali, tapi dia sama sekali tidak mendapatkan jawaban apapun. Rumah itu benar-benar tertutup rapat, begitupun dengan gorden di dalamnya layaknya rumah yang telah ditinggalkan oleh penghuninya.
''Apa anda mencari keluarga yang tinggal di rumah ini?'' tanya seorang ibu paruh baya berdiri di luar pagar.
''Iya, bu. Apa Anda tahu kemana mereka? rumahnya ko sepertinya kosong ya?''
''Semua yang tinggal di rumah ini baru saja pindah beberapa jam yang lalu?''
''Apa?''
BERSAMBUNG
__ADS_1
...****************...