Hasrat Cinta Putra Sang Penguasa

Hasrat Cinta Putra Sang Penguasa
Ditangkap


__ADS_3

"Apa po-polisi?" Melani membulatkan bola matanya juga dengan nada suara terbata-bata.


"Betul, Nona,'' jawab si Mbok wanita paruh baya yang sudah bekerja lebih dari 10 tahun di kediaman sang Mentri.


"Mas, bagaimana ini? Kenapa Polisi bisa datang kemari? Tolong aku, Mas. Gunakan kekuasaan kamu untuk melawan para Polisi itu."


Tuan Alamsyah diam seraya berfikir. Meskipun dirinya seorang Mentri, dia tetap saja tidak bisa melawan hukum. Jika Polisi sampai menjemput Melani ke tempat tinggalnya, itu berarti mereka memiliki bukti yang cukup tentang kejahatan yang telah dilakukan oleh wanitanya itu. Batin Tuan Alamsyah.


"Lebih baik kamu ikut dengan mereka dulu, Mas akan mencari cara untuk membebaskan kamu nanti. Jangan memperburuk keadaan, Mas janji akan mengeluarkan kamu di dalam penjara secepatnya,'' ucap Tuan Alamsyah.


"Tapi, Mas--"


Tuan Alamsyah pun seketika memeluk tubuh Melani mencoba untuk menenangkan. Dia bahkan mengusap punggung wanita itu lembut dan penuh kasih sayang.


"Kamu tahu kalau Mas mencintai kamu 'kan?"


Melani menganggukkan kepalanya samar.


"Mas tidak mungkin membiarkan kamu berlama-lama di dalam penjara, Mas akan menyewa Pengacara hebat. Mas pastikan kamu akan bebas, percaya sama Mas,'' ucapnya kemudian.


"Janji?"

__ADS_1


"Iya, sayang. Mas janji.'' Tuan Alamsyah mulai mengurai pelukan.


Melani akhirnya menyerah. Dia mengikuti keinginan kekasih Mentrinya untuk menyerahkan diri. Meskipun merasa berat dia pun memutuskan untuk mempercayai ucapan laki-laki yang telah menjadi kekasihnya selama lebih dari 3 tahun itu.


"Tapi ingat, kamu jangan sekali-kali melibatkan Mas dalam masalah ini. Jika Mas masuk penjara bersama kamu, gak akan ada yang membebaskan kamu nantinya."


Melani menganggukkan kepalanya dengan wajah masam. Keduanya pun mulai berjalan keluar menuju ruangan depan dimana tiga orang Polisi berada saat ini. Jelas terlihat dari wajah Melani bahwa dia merasa ketakutan. Namun, juga diliputi berbagai tanda tanya? Apakah Indah benar-benar melaporkan perbuatannya kepada polisi?


"Nona Melani, kami datang ke sini untuk menjemput Anda atas tuduhan penculikan juga pembun*han. Anda berhak didampingi oleh pengacara dan memberi pembelaan di kantor kami nanti," ujar salah satu Polisi memborgol kedua tangan Melani sesaat setelah dia sampai di ruangan depan.


"Apa? Pembunuhan? Tidak, aku sama sekali bukan pembunuh, semua itu bohong!" Teriak Melani tidak terima.


"Anda bisa melakukan pembelaan di kantor kami."


Tuan Alamsyah diam seribu bahasa. Dia sama sekali tidak melakukan pembelaan apapun terhadap wanita itu. Tentu saja hal itu membuat Melani benar-benar merasa kecewa.


"Kenapa kamu diam saja, Mas. KENAPAAAA! AKU BUKAN PEMBUNUUUUUH!" Melani semakin berteriak histeris juga menangis di hadapan sang Mentri yang saat ini terlihat seperti tidak ingin ikut terlibat dengan semua masalah yang sedang dihadapi olehnya.


Tanpa basa-basi basi lagi. Ketiga Polisi itu pun membawa Melani dengan paksa. Tidak peduli meskipun wanita itu berontak bahkan terus saja berteriak. Jika boleh jujur, laki-laki yang masih menjabat sebagai Mentri keuangan itu sama sekali tidak berniat untuk membebaskan wanita itu. Dia tidak ingin mengorbankan jabatan juga nama baiknya dengan membela wanita yang telah ditetapkan sebagai tersangka pembunuhan.


Ceklek!

__ADS_1


Blug!


Pintu mobil Polisi pun di buka dan Melani benar-benar masuk ke dalam sana. Setelah itu, pintu pun kembali di tutup rapat. Mobil tersebut akhirnya melaju meninggalkan halaman lalu melesat kencang di jalanan.


"Maafkan Mas, Melani. Kamu memang orang yang telah membunuh Aprilia istriku. Mas tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain membiarkan kamu mendekap di dalam penjara,'' gumam sang Mentri menatap mobil tersebut sampai benar-benar menghilang di telan kegelapan malam.


* * *


Keesokan harinya.


Ceklek!


Pintu ruangan Mentri keuangan seketika di buka tanpa di ketuk terlebih dahulu. Sang Mentri yang saat ini sedang bekerja seperti biasa pun seketika menoleh dan menatap ke arah pintu dengan perasaan kesal. Namun, wajahnya seketika tersenyum lebar saat menyadari bahwa yang masuk ke dalam ruangannya adalah Presiden negeri ini.


"Pak Presiden? Ada apa Anda jauh-jauh datang kemari? Seharusnya Anda yang memanggil saya ke kantor Anda," tanya Tuan Alamsyah tersenyum ramah.


"Hmm ... Gak perlu, saya datang ke sini hanya ingin memberikan ini," sang Presiden pun menyerahkan amplop berwarna coklat dan segera diterima oleh Tuan Alamsyah.


''Apa ini, Pak?'' tanya Tuan Alamsyah membuka amplop tersebut dengan perasaan heran.


"Kamu di pecat. Benahi barang-barang kamu sekarang juga,'' ucap sang Presiden penuh penekanan.

__ADS_1


BERSAMBUNG


...****************...


__ADS_2