
Ckrek!
Ckrek!
Ckrek!
Kilatan cahaya yang berasal dari sebuah kamera nampak mengabadikan pertemuan mereka. Seorang pencari berita nampak tersenyum menyeringai juga merasa senang karena akhirnya dia bisa mendapatkan berita yang akan mengguncang negeri ini. Seorang putra dari Mentri keuangan bertemu secara diam-diam dengan seorang wanita, bahkan ditemani oleh putri Presiden.
Padahal menurut gosip yang dia dengar, putra dari Mentri keuangan itu akan segera bertunangan dengan putri Presiden yang saat ini juga berada di sana. Bukankah ini sebuah kejutan yang tak terduga? Wartawan tersebut berasa mendapatkan durian runtuh tentu saja.
"Sedang apa kamu?" tiba-tiba saja terdengar suara seorang wanita seketika membuyarkan lamunan sang Wartawan.
"Hah? Eu ... Anda--'' terbata-bata dia menatap wajah Evelyn yang tiba-tiba saja sudah berada tepat di belakangnya kini.
"Hmm ... Boleh saya lihat kamera anda, Mas?" pinta Evelyn ramah dan masih bersikap sopan.
"Ini? Tentu saja tidak bisa," jawab sang Wartawan menyembunyikan kamera miliknya di belakang punggungnya kini.
"Ada apa, Evelyn?" Kelvin yang melihat Evelyn dari kejauhan nampak segera menghampiri begitupun dengan Indah.
"Dia Wartawan, Vin. Tadi dia berhasil mengambil Poto kalian.''
"O ya? Wah ... Sungguh sebuah kebetulan yang tidak terduga, saya pikir tidak ada orang yang akan mengenali saya di sini. Mata anda memang jeli, Mas. Eu ... Siapa nama anda?" tanya Kelvin masih bersikap santai.
"Eu ... Nama saya Ilham, saya dari media online yang biasa meliput berita-berita tentang politik, Mas Kelvin,'' jawabnya mulai terlihat gugup.
"Mas Ilham, daripada menerbitkan berita tentang saya yang belum tentu akan membuat karir anda di dunia jurnalis melejit. Bagaimana kalau saya memberitahukan kepada anda berita yang lebih spektakuler dan dijamin, karir anda akan semakin gemilang nantinya."
"Hah? Eu ... Maksud anda?" Wartawan bernama Ilham mengerutkan kening.
"Berita tentang perselingkuhan Mentri keuangan, gimana?"
Ilham merasa tidak mengerti dengan apa yang baru saja diucapkan oleh pemuda bernama Kelvin. Bukankah Menteri keuangan itu adalah ayahnya sendiri? Ilham menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak merasa gatal sama sekali.
"Hmm ... Kalau boleh saya bertanya, bukankah Pak Mentri itu ayah anda sendiri? Kenapa anda mengatakan hal yang tidak masuk akal seperti itu? Terlebih anda memberitahukannya kepada saya. Apa anda lupa kalau saya adalah seorang Wartawan?''
"Hahahaha! Justru itu, saya sengaja memberitahukan hal ini kepada anda. Saya sudah memberikan anda petunjuknya, anda tinggal mencari buktinya saja. Bukankah hal yang sangat mudah bagi Mas Ilham untuk mendapatkan bukti tentang perselingkuhan ayah saya?''
"Tapi apakah anda akan baik-baik saja nantinya jika saya menaikan berita ini?"
"Tentu saja saya akan baik-baik saja, saya memang ingin sekali semua orang tahu tentang perselingkuhan ayah saya. Namun, saya minta kamu menghapus semua poto-poto yang baru saja kamu ambil itu," pinta Kelvin.
Ilham diam seraya menatap kamera yang dia gunakan untuk mengambil potret Kelvin dengan Indah. Otaknya nampak berfikir keras tentang jalan apa yang akan dia ambil. Menghapus Poto tersebut atau, menaikan berita tentang cinta segitiga antara putra Mentri, putri Presiden dan juga gadis yang dilihat dari penampilannya saja jelas bahwa dia gadis yang berasal dari status sosial yang berbeda.
__ADS_1
"Mas? Ko malah bengong?" tanya Evelyn kemudian.
"Baiklah, anda bisa hapus sendiri poto-poto ini dari kamera saya," Ilham akhirnya membuat keputusan, dia menyerahkan kamera miliknya kepada Kevin.
"Pilihan yang bagus, Mas Ilham.'' Kelvin menerima kamera tersebut lalu menghapus semua Poto yang ada didalamnya.
"Terima kasih atas kerja samanya, saya tunggu berita spektakuler tentang perselingkuhan seorang pejabat tinggi dengan sekertaris-nya, oke?'' Kelvin tersenyum senang.
"Baik, Mas. Saya janji akan segera mendapatkan bukti secepatnya, dan berita ini benar-benar akan menjadi berita yang spektakuler bahkan akan menjadi trending topik di semua media online," jawab Ilham yang juga tersenyum ringan.
"Baiklah, kami pergi dulu."
"Tunggu, Mas Kelvin."
"Ada apa lagi?"
"Selamat bersenang-senang, semoga cinta kalian cepat-cepat di sahkan dengan tali pernikahan."
Kelvin tersenyum seraya menggenggam jemari Indah juga menoleh kearahnya kemudian. Ilham adalah orang pertama yang mengetahui hubungan mereka dan memberikan doa tulus atas jalinan cintanya. Sungguh hati Kelvin benar-benar merasa senang tentu saja.
"Makasih, Mas,'' jawab Kelvin tersenyum ramah lalu meneruskan langkah kakinya.
'Saya mengerti kenapa anda melakukan hal ini, membuka aib ayah sendiri yang seharusnya anda simpan rapat-rapat. Pak Mentri pasti tidak menyetujui hubungan kalian berdua. Kisah cinta seorang pejabat dengan dengan seorang rakyat biasa memang akan sulit dijalani, tapi saya doakan semoga kalian bisa bersatu selamanya,' (batin Ilham.)
***
"Aku pulang dulu, Vin, Indah,'' ucap Evelyn kemudian.
"Terima kasih, Evelyn. Berkat kamu aku bisa bertemu dengan Kelvin lagi," jawab Indah.
"Sama-sama, Indah. Kalian hati-hati, aku takut kalau orang suruhan Daddy kamu bisa menemukan kalian. Tetap waspada, aku akan menghubungi kamu lagi nanti, Vin."
"Makasih, Evelyn. Kapan kamu akan bertemu dengan kekasihmu itu? Bilang sama saya agar saya bisa membantu kamu seperti kamu membantu saya sekarang."
"Sekarang dia ada di luar negeri, tapi minggu depan dia pulang ko. Nanti aku kabari kamu lagi."
"Baiklah, hati-hati di jalan."
Evelyn tersenyum kecil lalu benar-benar meninggalkan sepasang kekasih yang baru saja dipertemukan setelah sekian lama. Kelvin dan juga Indah hanya bisa menatap kepergian gadis itu dengan tatapan sayu. Mereka tidak menyangka jika putri dari orang nomor satu di negaranya ini memiliki sifat yang baik hati dan juga ramah tentunya.
Kelvin mengalihkan pandangannya kepada Indah kemudian. Betapa dia sangat bahagia karena akhirnya bisa bertemu dengan wanita yang sangat dia cintai itu. Senyuman manis pun mengembang dari kedua sisi bibirnya kini.
Grep!
__ADS_1
Kelvin kembali memeluk tubuh Indah erat. Dirinya seperti tidak ingin berpisah untuk yang kedua kalinya dengan Indah. Mulai saat ini, dia akan memperjuangkan cintanya juga menjaga wanita yang dia cintai itu dengan segenap jiwa dan raganya.
"Saya akan memperjuangkan cinta kita mulai sekarang, Ndah," lirik Kelvin membenamkan kepalanya di leher Indah kini.
"Aku pun akan melakukan hal yang sama. Apapun yang akan menghalangi cinta kita di depan, aku akan siap melewatinya, Vin. Maafkan aku karena telah meninggalkan kamu waktu itu, aku menyesal melakukan hal itu sebenarnya, sekali lagi aku minta maaf," jawab Indah melingkarkan tangannya di punggung Kelvin.
"Kita jalan sekarang?''
Indah menganggukkan kepalanya lalu mulai mengurai pelukan. Keduanya pun saling menatap satu sama lain kini, saling melemparkan senyuman lalu satu kec*pan kecil pun mendarat di bibir masing-masing.
"I love you, Indah."
"I love you too, Kelvin."
Bibir mereka pun kembali saling ditautkan, bukan hanya sekedar kecu*an kecil. Namun, ci*man panas sebagai pelam*iasan rasa rindu yang selama ini mereka tahan. Malam yang dingin pun seketika berubah panas seiringan dengan panasnya ciu*an yang sedang mereka lakukan.
****
Di tempat yang berbeda. Melani nampak baru saja melakukan aktivitas yang sering dia lakukan dengan seorang laki-laki yang telah selama lima tahun ini menjadi tumpuan hidupnya. Ya ... Dia adalah Menteri keuangan, bosnya sendiri.
Keduanya baru saja melakukan pelepasan secara bersama-sama. Kegiatan itu bahkan mereka lakukan di kamar pribadi Tuan Alamsyah di kediamannya sendiri. Tuan Alamsyah pun bangkit lalu mengenakan kimono berwarna putih untuk menutupi tubuh polosnya.
"Sudah malam, sebaiknya kamu pulang, Mel," pinta Tuan Alamsyah.
"Apa gak bisa kalau aku menginap di sini?" jawab Melani berharap lebih.
"Ya tidak bisa dong. Kalau putraku sampai melihat kamu di sini gimana? Bisa hancur reputasiku di mata dia nanti."
"Bukannya Kelvin sudah tunduk dan patuh kepadamu?"
"Memang begitu. Namun, dia bukan anak kecil lagi sekarang. Aku takut kalau dia akan berontak dan hubungan kita ini akan menjadi senjata dia untuk melawanku jika sampai dia tahu."
Melani hanya tersenyum kecil merasa kecewa sebenarnya. Selalu seperti ini, dia pulang di tengah malam setelah memberikan kepuasan di atas ranjang. Dirinya pun menarik napas panjang lalu menghembuskannya secara perlahan.
"Aku pulang dulu kalau begitu, tapi Mas. Kapan istrimu itu mati? Sudah lama sekali dia berbaring layaknya mayat hidup. Bukankah akan lebih baik jika dia mati saja? Dengan begitu, jika suatu saat nanti hubungan kita diketahui oleh Kelvin pun, gak akan berdampak patal untuk karir kamu nantinya. Toh mau hanyalah seorang duda.''
BERSAMBUNG
...****************...
PROMOSI NOVEL.
__ADS_1