
Kelvin semakin mengepalkan kedua tangannya. Dia pun melirik ke arah lemari dimana Indah bersembunyi dengan sang kaka di dalam sana. Kekasihnya itu pasti mendengar apa yang baru saja diucapkan ayahnya itu. Kelvin merasa khawatir jika Indah akan merasa ketakutan nantinya.
"Kenapa kamu diam? Apa tebakan Daddy ini salah? Daddy harap si tidak, kamu benar-benar telah merupakan wanita kampungan itu dan mulai mencintai wanita yang cocok untuk kamu yaitu Evelin. Kamu tahu, kalian itu pasangan yang serasi, hahahaha!" Tawa Tuan Alamsyah terdengar nyaring dan begitu memuakkan bagi Kelvin tentu saja.
"Jangan berani Daddy menyentuh dia meskipun hanya sehelai rambutnya saja. Jika Daddy sampai berani melakukan hal itu, saya tidak akan segan membalas semua pembuatan Daddy. Ingat, saya bukan anak kecil lagi. Sewaktu-waktu saya bisa saja berontak kepada Daddy,'' tegas Kelvin penuh penekanan.
Tuan Alamsyah seketika merubah raut wajahnya. Senyuman yang semula mengembang dari kedua sisi bibirnya pun seketika raib begitu saja tergantikan dengan raut wajah kesal. Namun, dirinya tetap berusaha bersikap tenang. Dia yang semula hendak keluar dari dalam kamar pun balik menghampiri putranya kemudian.
"Kelvin, dengarkan Daddy. Bukankah kamu lelah dengan perseteruan kita selama ini? Kamu putra Daddy, putra satu-satunya yang Daddy banggakan dan Daddy harapkan. Daddy sayang sama kamu melebihi apapun. Daddy melakukan semua ini demi masa depan kamu. Daddy tidak ingin hidup kamu berakhir seperti kakakmu itu. Lebih baik kita berdamai mulai sekarang,'' lembut Tuan Alamsyah menepuk pundak putranya seolah dia adalah ayah yang baik.
Setelah itu, dia pun berjalan ke arah pintu dan benar-benar keluar dari dalam kamar.
Blug!
Ceklek!
Kelvin segera menutup pintu kamar lalu menguncinya. Setelah itu, dia pun segera berjalan ke arah lemari dan membukanya dengan sedikit di hentakan.
Kreket!
Pintu lemari pun di buka. Kelvin menatap wajah Indah dan juga Jerry yang saat ini masih berdiri dengan tubuh yang sangat dekat bahkan tanpa jarak sedikit pun. Wajah Kekasih dari gadis bernama Indah itu pun seketika memerah lalu meraih pergelangan tangan Indah dan menariknya keluar dari dalam lemari.
"Kenapa harus deket-deket segala si? Astaga, Abang 'kan bisa mundur sedikit. Ish ... Kesempatan banget si," celetuk Kelvin, jelas sekali kalau dia merasa cemburu.
__ADS_1
"Hahahaha! Ini lemari lho, Vin. Mundur ke mana? Di belakang itu tembok, kanan kiri pakaian kamu semua. Ngarang banget si," Jerry menertawakan.
"Ya, tapi gak perlu sampai nempel gitu juga kali. Jaga jarak dikit kek. Indah sayang, kamu baik-baik saja 'kan? Abang aku gak pegang-pegang kamu 'kan?" tanya Kelvin, tangannya nampak membolak-balikan tubuh Indah sedemikian rupa.
"Kamu cemburu?" celetuk Indah terkekeh merasa lucu.
"Hah? Eu ... Saya cemburu?"
Indah menganggukkan kepalanya masih tersenyum cengengesan.
"Astaga, jadi kamu cemburu? Sama Abang, kakakmu sendiri? Hahahaha!" Jerry kembali menertawakan sang adik.
Jika boleh berkata jujur. Baru kali ini dia melihat Kelvin, adik satu-satunya yang dia punya memperlihatkan kebucinannya kepada seorang wanita. Pemandangan yang sangat langkah sebenarnya. Senang, tentu saja Jerry merasa senang dan berharap bahwa adik kesayangannya itu bisa bersatu dengan wanita yang dia cintai ini dan hidup bahagia selamanya. Satu lagi, jauh di lubuk hati Jerry yang paling dalam, dia berharap bahwa Kelvin bisa terbebas dari Tuan Alamsyah sang ayah, dan bisa menjalani hidup seperti yang adiknya itu inginkan. Sungguh Jerry sangat menyayangi adik satu-satunya itu.
"Iya, tadi Abang sempat pegang tangan dia dikit, dikit lho," jawab Jerry semakin menggoda adiknya.
Plak!
Repleks, Kelvin memukul bahu Jerry sang kaka merasa kesal.
"Argh! Sakit, Kelvin! Indah, tolong kendalikan pacar kamu yang bucinnya setingkat dewa ini,'' ringis Jerry tersenyum mengejek.
"Cukup, Vin. Cemburu kamu itu terlalu berlebihan tahu," celetuk Indah.
__ADS_1
"Ko kamu malah belain Abang Jerry? Jangan-jangan kamu suka ya sama dia?''
"Astaga!" Indah mengusap wajahnya kasar.
"Sudah cukup, Abang gak mau melihat pertengkaran antara sepasang kekasih. Geli tahu lihatnya."
"Lebih baik Abang diam ya!"
"Hahahaha!" Lagi-lagi Jerry menertawakan.
"Kelvin Alamsyah, dengerin aku ya. Mana mungkin aku suka sama Abang kamu ini? Cintaku sama kamu tidak sedangkal itu, sayang. Laki-laki yang aku cintai hanya kamu, cuma kamu Kelvin Alamsyah. Jadi, buang jauh-jauh rasa cemburu kamu itu. Asal kamu tahu, cintaku sama kamu sedalam lautan dan seluas angkasa,'' lirih Indah memeluk tubuh kekasihnya mencoba untuk menenangkan.
Kelvin balas memeluk tubuh Indah, hatinya pun sudah mulai merasa tenang sekarang. Namun, dia tetap saja melirik ke arah Jerry sang kaka dengan tatapan mengintimidasi. Sementara Jerry hanya menanggapinya dengan senyuman mengejek.
"Vin," gumam Indah mulai mengurai pelukan.
"Iya, sayang."
"Gimana caranya aku bisa keluar dari rumah kamu ini tanpa ketahuan sama Pak Mentri,'' rengek Indah dengan nada suara manja.
"O iya, astaga! Kenapa saya bisa melupakan hal itu."
BERSAMBUNG
__ADS_1
...****************...