Hasrat Cinta Putra Sang Penguasa

Hasrat Cinta Putra Sang Penguasa
Menjaga Rahasia


__ADS_3

Kelvin merasa terkejut saat mendengar suara seorang wanita yang tiba-tiba saja menyapa dirinya. Dia pun menurunkan tubun Indah dengan sangat hati-hati lalu menoleh dan menatap wajah wanita tersebut. Kedua matanya pun nampak membulat sempurna saat mendapati wanita itu ternyata adalah Melani, yang tidak lain dan tidak bukan adalah sekertaris ayahnya sendiri.


"Mbak, Melan? Sedang apa anda di sini?" tanya Kelvin merasa gugup sebenarnya.


"Saya yang seharusnya bertanya kepada andai, Kelvin? Apa yang sedang anda lakukan di Rumah Sakit ini? Siapa wanita ini? Apa dia pacar anda,'' Melani balas bertanya.


Bukannya menjawab pertanyaan wanita itu. Kelvin malah meminta Indah untuk segera masuk ke dalam mobil. Dia tidak ingin kalau gadis itu sampai tahu siapa dirinya yang sebenarnya. Kelvin akan menyembunyikan identitasnya yang merupakan putra sang seorang Mentri keuangan.


Setelah memastikan bahwa gadis itu duduk di dalam mobil dengan nyaman. Dia pun kembali menutup pintu mobil dan berbicara 4 mata dengan sekertaris dari ayahnya tersebut. Kelvin meraih pergelangan tangan Melani dan membawanya menjauh dari tempat itu.


"Kita harus bicara, Mbak,'' pintu Kelvin kemudian.


"Bicara apa, Kelvin? Kenapa kita harus menjauh segala?" tanya Melani dengan perasaan heran.


"Saya mohon jangan bilang apa-apa sama Daddy."


"Maksud anda, kalian berpacaran secara diam-diam, begitu?''


"Dia bukan pacar saya."


"Lalu?"


"Saya hanya tidak ingin Daddy sampai tahu kalau saya Punya teman seorang wanita. Mbak tahu sendiri kalau Daddy udah jodohin saya dengan putri Presiden.''


"Lalu masalahnya dimana? Kalau dia bukan pacar anda, kenapa anda harus takut sama Daddy anda segala?"


"Astaga, Mbak Melani. Kalau Daddy sampai tahu saya punya teman wanita, bisa tamat riwayat saya nanti. Mbak tahu sendiri pergaulan saya selama ini dibatasi oleh Daddy.''


Melani pun tersenyum menyeringai. Wanita berusia 31 tahun itu pun akan penggunaan kesempatan ini untuk memanfaatkan Kelvin dan membuat rencana licil yang tentunya akan menguntungkan dirinya. Dia pun menatap tajam wajah Kelvin kemudian.


"Baiklah, aku gak akan mengatakan apapun kepada Tuan Alamsyah, tapi ada syaratnya."


"Apa syaratnya? Katakan saja, saya akan melakukan apapun yang Mbak katakan."


"Hmm ... Syaratnya nanti saja aku pikirkan lagi." Melani tersenyum menyeringai.


"Baiklah, Mbak tinggal katakan saja nanti. Namun, saya mohon dengan sangat, anda jangan mengatakan apapun sama Daddy. Anggap saja kalau kita tidak pernah ketemu di sini, oke?" Tegas Kelvin penuh penekanan lalu hendak pergi.


"Tunggu, Kelvin.''

__ADS_1


Pemuda itu pun menghentikan langkah kakinya.


"Ada apa lagi, Mbak?'' tanya Kelvin dengan perasaan yang sedikit kesal.


"Apa kamu yakin kalau dia bukan pacar kamu? Aku perhatikan, sepertinya kamu menyukai gadis itu, pake di gendong segala lagi,'' tanya Melani membuat Kelvin semakin merasa kesal.


"Bukan urusan anda," singkat Kelvin lalu melanjutkan langkah kakinya.


'Akhirnya, aku dapat kartu merah kamu, Kelvin. Aku tidak percaya kalau kamu benar-benar laki-laki yang sempurna dan dengan rela menjadi boneka ayahmu sendiri begitu saja,' (batin Melani tersenyum licik.)


Setelah berbicara 4 mata dengan Melani, Kelvin kembali dan segera masuk ke dalam mobil. Dia duduk di kursi kemudi seraya tersenyum cengengesan merasa gugup sebenarnya. Kelvin bahkan tidak berani menoleh ke arah Indah karena hatinya benar-benar merasa tidak karuan sekarang.


"Siapa wanita tadi? Apa dia pacar kamu, Vin?" tanya Indah, membuat Kelvin akhirnya menoleh dan menatap wajah gadis itu juga akhirnya.


"Hah? Bukan, Indah. Kamu gak lihat dia lebih tua dari saya?" jawab Kelvin.


"Oh begitu, aku kira dia pacar kamu. Kamu terkejut tadi saat melihat dia."


"Itu karena saya gak nyangka aja bisa ketemu dia di sini.''


"Hmm ..." Indah hanya bergumam menanggapi penjelasan Kelvin.


"Jalan aja dulu. Aku akan memberitahukan alamat rumahku nanti."


"Baiklah, saya janji akan mengantarkan kamu pulang dengan selamat.''


Indah hanya tersenyum manis. Hatinya benar-benar merasa berbunga-bunga juga merasa senang sekarang. Keduanya pun merasakan perasaan yang sama kini. Mungkin saja mereka berdua benar-benar telah jatuh cinta? Entahlah, tidak ada satupun dari mereka yang menyadari hal itu.


Mesin mobil pun mulai dinyalakan dan perlahan mulai melaju pelan meninggalkan area parkiran lalu melesat kencang di jalanan. Selama diperjalanan, keduanya pun tidak mengatakan sepatah katapun lagi kini. Keheningan benar-benar tercipta menemani perjalanan mereka saat ini.


"Antarkan aku ke alamat *****'' pinta Indah memecah keheningan.


"Oke, kita akan segera sampai di tempat tujuan," jawab Kelvin melirik dan menatap wajah Indah kemudian.


Sampai akhirnya, mobil mereka pun mulai melipir dan berhenti tepat di depan alamat yang disebutkan oleh Indah. Indah diam sejenak sebelum dia benar-benar membuka pintu mobil. Dirinya seolah merasa enggan untuk keluar dari dalam mobil padahal dia sendiri yang meminta pemuda itu untuk mengantarkan dirinya pulang.


"Makasih karena telah mengantarkan aku pulang dengan selamat, Vin." Indah dengan nada suara lembut.


"Sama-sama, Indah. Eu ... Tunggu sebentar, jangan keluar dulu ya,'' pinta Kelvin membuat Indah seketika merasa heran.

__ADS_1


Ceklek!


Blug!


Kelvin pun membuka pintu mobil lalu menutupnya kemudian setelah dia keluar dari dalam mobil. Setelah itu, dia pun berlari ke arah samping dan membukakan pintu mobil untuk Indah mambuatnya merasa diperlakukan bak wanita yang spesial.


Ceklek!


Pintu mobil pun di buka.


"Silahkan keluar, Nona Indah.''


Wajah gadis itu pun seketika memerah juga tersipu malu.


"Makasih," jawabnya singkat lalu benar-benar keluar dari dalam mobil.


Blug!


Pintu mobil pun kembali ditutup rapat kemudian.


"Ini rumah kamu?" tanya Kelvin, menatap rumah sederhana yang ada dihadapannya.


"Iya, Vin. Maaf, karena aku gak bisa mempersilahkan kamu masuk."


"Gak apa-apa, Indah. Saya juga buru-buru harus segera pulang,'' jawab Kelvin lalu hendak kembali masuk ke dalam mobil.


Baru saja Kelvin hendak membuka pintu dan Indah pun masih berdiri ditempatnya. Tiba-tiba saja, terdengar suara kegaduhan yang berasal dari dalam rumah.


Blug!


Plak!


Prang!


Suara-suara seperti benda yang di lempar pun terdengar begitu nyaring membuat Kelvin merasa heran dan mengurungkan niatnya untuk pulang.


...*********************************************...


PROMOSI NOVEL

__ADS_1



__ADS_2