
"Kalian? Apa maksud kamu dengan kalian?" tanya Melani dengan perasaan kesal.
"Kalian itu, kamu dan Tuan Alamsyah. Puas ...?" jawab Kelvin tersenyum menyeringai kemudian berlalu begitu saja dari hadapan Melani dengan perasaan puas tentu saja.
"Dasar anak tidak tahu diri. Hey! Tuan Alamsyah itu ayahmu sendiri, mana boleh kamu menghancurkan dia! Dasar anak durhaka!" teriak Melani, membuat Kelvin yang hendak membuka pintu mobil miliknya seketika menghentikan gerakan tangannya.
"Saya gak keberatan di panggil anak durhaka dari ayah bejat seperti Tuan Alamsyah itu," celetuk Kelvin.
Ceklek!
Blug!
Pintu mobil pun di buka lalu di tutup setelah Kelvin masuk ke dalamnya.
Brem! Brem! Brem!
Mobil melaju meninggalkan Melani sendirian di pinggir jalan dalam keadaan kesal tentu saja. Wajah wanita itu nampak memerah begitu juga dengan kelopak matanya. Jelas sekali bahwa dia benar-benar merasa marah juga geram dengan sikap Kelvin Alamsyah putra dari kekasih hatinya.
"DASAR SIALAN, AWAS SAJA KAMU ANAK TIDAK TAHU DIRI!" teriak Melani seperti orang yang sedang kesetanan.
Teriakan Melani terdengar begitu nyaring. Suaranya bahkan memantul di udara membuat burung-burung yang sedang bertengger di atas pohon seketika berterbangan merasa terkejut juga ketakutan. Benar apa yang pernah diucapkan oleh Tuan Alamsyah bahwa Kelvin bukan lagi seorang anak kecil seperti dulu, dia adalah bom waktu yang akhirnya meledak setelah terkubur sekian lama.
"HAAAAAA!" Melani berteriak kencang. Namun, dia segera merapatkan bibirnya saat melihat beberapa mobil mulai melipir dan mendekat kemudian.
"Sial! Sepertinya mereka Wartawan yang tadi, aku harus segera pergi." Melani segera memasuki pintu pagar dan menutupnya rapat.
Dia segera berlari di halaman menuju pintu utama. Dengan napas yang tersengal-sengal dirinya pun membuka pintu tanpa mengetuk terlebih dahulu layaknya masuk ke dalam rumah miliknya sendiri.
__ADS_1
Ceklek!
Blug!
Melani masuk begitu saja lalu berdiri tepat di belakang pintu. Wajah wanita itu nampak berkeringat. Napasnya pun berhembus tidak beraturan. Sungguh, pagi yang seharusnya berjalan normal seperti biasanya, kini berubah menjadi pagi yang sangat menyebalkan.
"Sedang apa kamu di sini, Melani? Seharusnya kamu di kantor," tanya Tuan Alamsyah seketika membuyarkan lamunannya.
"Apa Mas belum tahu apa yang terjadi di luar sana?" Melani balik bertanya.
"Apa maksud kamu?"
"Dasar tua bangka," gumam Melani dengan nada suara pelan.
"Hah? Kamu bilang apa tadi?"
"Tidak, aku gak bilang apa-apa. Mas ini ternyata tidak sepintar yang aku kira. Apa Mas tahu apa yang sedang terjadi di luar sana?" decak Melani duduk di kursi ruang tamu dengan bersilang kaki.
Melani akhirnya menceritakan semua yang telah menimpanya pagi ini dengan penuh emosi. Bola matanya membulat sempurna saat dia menceritakan apa yang Kelvin lakukan juga katakan kepadanya di pinggir jalan. Geram dan kesal, begitulah perasaan Melani saat ini.
"Kamu tidak bercanda 'kan?" tanya Tuan Alamsyah kemudian.
"Bercanda? Apa Mas melihat wajah aku ini seperti sedang bercanda, hah? Sekarang Mas lihat ke depan, Wartawan itu sampai mengikuti aku ke sini."
Tuan Alamsyah seketika bangkit lalu berjalan ke arah jendela. Dia pun membuka gorden dan menatap ke arah luar. Terkejut, laki-laki paruh baya itu tentu saja merasa terkejut bukan kepalang.
"SIAL, SEDANG APA MEREKA SEMUA?" teriak Tuan Alamsyah merasa geram.
__ADS_1
"Apa lagi, ini semua perbuatan putra kesayangan Mas itu. Tamat sudah hidup kita karir Mas juga terancam, siap-siap saja Mas bakalan di copot dari jabatan Mas ini," ketus Melani.
"Siapa bilang, bukankah Mas duda sekarang. Kamu sendiri yang mengatakan bahwa hal biasa seorang bos jatuh cinta kepada skertarisnya?''
Melani diam sejenak. Dia pun menatap wajah Bos yang merangkap menjadi kekasihnya itu dengan tatapan tajam. Setelah itu, wanita dengan model tambut pendek itu pun tersenyum menyeringai.
"Apa itu artinya Mas akan mengakui hubungan kita?"
"Tentu saja, sayang. Tidak ada gunanya menyangkal semua ini. Bukankah kamu ingin segera menjadi Nyonya Alamsyah?"
Melani seketika tersenyum lebar.
"Apakah itu artinya aku segera resmi menjadi Nyonya Alamsyah?''
"Pasti."
Tuan Alamsyah mengulurkannya tangannya dan segera di sambut oleh Melani dengan perasaan bahagia. Akhirnya apa yang dia inginkan akan segera terwujud tidak akan lama lagi. Dirinya benar-benar merasa tidak sabar ingin segera menjadi Nyonya Alamsyah. Keduanya pun berjalan ke arah pintu dengan bergandengan tangan.
Ceklek!
Pintu rumah pun akhirnya di buka, kedua orang itu keluar dari dalam rumah hendak menemui para Wartawan dengan penuh percaya diri.
'Akhirnya, aku akan segera menjadi Nyonya Alamsyah,' (batin Melani.)
Plak! Plak! Plak!
Tiba-tiba saja telur mentah melayang lalu mendarat tepat di kepala Melani, membuat senyuman yang semula mengembang begitu lebarnya mendadak sirna seketika itu juga.
__ADS_1
BERSAMBUNG
...****************...