
Jerry seketika melepaskan tautan tangannya. Hal yang sama pun di lakukan oleh Evelyn sang kekasih. Pak Presiden menatap tajam putrinya membuat wanita itu seketika merasa gugup tentu saja. Dia memang mengatakan kepada sang ayah bahwa dirinya akan meminjamkan Vila itu kepada Kelvin, tapi Evelyn sama sekali tak menyangka bahwa sang ayah akan benar-benar mendatangi Vila itu secepatnya.
"Da-ddy? Sedang apa Daddy di sini?" tanya Evelyn tersenyum cengengesan.
"Om Presiden." Jerry salah tingkah.
"Om Presiden?" Kelvin cengengesan menertawakan.
"Hmm ... Kalian! Ikut saya sekarang juga," pinta Pak Presiden, berjalan keluar dari ruangan tersebut.
Evelyn dan Jerry pun menoleh dan menatap satu sama lain seraya mengerutkan kening. Sementara Kelvin, dia hanya bisa menertawakan karena eskpresi wajah kakaknya itu terlihat seperti maling yang tertangkap basah oleh warga.
"Udah buruan sana, jangan biarkan om Presiden nunggu lama-lama, hahahaha!" ledek Kelvin tertawa ringan.
"Awas kamu ya," decak Jerry terlihat kesal.
"Sudah cukup, kita temui Om Presiden sekarang," pinta Evelyn dengan nada meledek.
Evelyn menarik pergelangan tangan kekasihnya dan membawanya keluar untuk menemui sang ayah. Keduanya pun berjalan dengan tangan yang saling ditautkan erat seolah sedang saling menguatkan. Sampai akhirnya, mereka berdua berdiri tepat di depan Bapak Presiden kini.
"Daddy memanggil kami?"
"Sejak kapan kalian berpacaran? Kenapa kamu tidak bilang sama Daddy kalau sebenarnya kamu sudah punya pacar? Apalagi kamu berpacaran dengan kakaknya Kelvin, laki-laki yang mau dijodohkan dengan kamu," tanya sang Presiden menatap tajam wajah Evelyn sang putri.
"Aku minta maaf, Dad. Aku takut kalau Daddy tidak--"
__ADS_1
"Tidak merestui kalian maksudnya?"
Evelyn menganggukkan kepalanya lalu menunduk kemudian.
"Kamu pikir Daddy ini seorang ayah yang seperti apa? Apa selama ini Daddy selalu mempermasalahkan status sosial teman-teman kamu? Apa Daddy selalu melarang kamu bergaul dengan siapapun? Kamu bahkan bebas berteman dengan siapapun meskipun kamu adalah putri Daddy, putri dari Presiden negeri ini?"
"Tidak, Dad,'' jawab Evelyn singkat.
"Lalu kenapa kamu pacaran secara sembunyi-sembunyi?''
"Maaf, Om. Eh ... Maksud saya Pak Presiden. Semua ini bukan salah Evelyn, saya sendiri yang meminta dia untuk menyembunyikan hubungan kami, itu karena saya--"
"Saya belum bertanya sama kamu. Nanti ada saatnya kamu mendapatkan pertanyaan juga. Jadi, diam dulu untuk saat ini."
Jerry seketika menelan ludahnya kasar. Dia sama sekali tidak menyangka bahwa rasanya akan segugup ini berhadapan dengan kepala negara dan juga calon ayah mertuanya. Pemuda itu pun seketika merapatkan bibirnya lalu menundukkan kepalanya.
"Hmm ... Apa kamu serius dalam menjalin hubungan dengan putri saya? Siapa nama kamu? Seharunya kamu segera memperkenalkan diri secara resmi. Menantu macam apa kamu ini?" celetuk Pak Presiden membuat Jerry seketika mengangkat kepalanya dengan perasaan senang.
Apakah Pak Presiden benar-benar merestui hubungan mereka? Apakah tidak akan ada drama penolakan sepeti yang dilakukan ayahnya kepada Indah? Wah ... Jika benar seperti itu, dirinya akan segera menikahi Evelyn tanpa ada hambatan apapun. Batin Jerry merasa senang.
"Kenapa kamu diam saja? Kamu tidak mendengar apa yang baru saja saya katakan?" tanya Pak Presiden penuh penekanan.
"Hah? Maaf, Om, Pak .. Eh ... Eu ... Saya harus memanggil Anda apa? Saya bingung," tanya Jerry menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak terasa gatal sama sekali.
"Om Presiden boleh," celetuk Pak Presiden tersenyum lucu.
__ADS_1
"Ish, Daddy? Serius dong, masa manggilnya Om Presiden?''
"Evelyn, 'kan pacar kamu sendiri yang memanggil dengan sebutan itu tadi?''
"Hehehe ... Maaf, Pak. Tadi saya gugup, ini pertama kalinya saya berhadapan langsung dengan seorang Presiden soalnya,'' lirih Jerry lagi-lagi menggaruk kepalanya.
"Hmm ... Panggil dengan sebutan Om saja kalau begitu. Saya berdiri di sini sebagai calon mertua kamu, bukan sebagai kepala negara."
"Baik, Pak. Eh ... Om maksudnya, hehehehe ...''
"Jawab pertanyaan saya tadi, apa kamu serius mengencani putri saya?" Pak Presiden mengulangi pertanyannya.
"Tentu saja serius, Om. Evelyn adalah satu-satunya wanita yang saya cintai. Dia juga wanita yang mampu meluluhkan hati saya. Jika boleh berkata jujur, saya tidak pernah berpacaran selain dengan putri Anda yang luar biasa ini," jawab Jerry penuh percaya diri.
"Tapi, kamu tahu 'kan apa yang menimpa ayah kamu si Alamsyah itu? Beritanya viral dimana-mana."
Jerry seketika menudukan kepalanya. Apa karena masalah yang ditimbulkan oleh sang ayah akan menjadi batu sandungan untuk hubungannya dengan Evelyn? Seketika, rasa cemas pun mendera hatinya kini.
"Apa hanya gara-gara ayahnya seorang Mentri yang baru saja Daddy pecat, Daddy tidak merestui hubungan kami?" Evelyn merasa kecewa.
"Ish, kapan Daddy bilang seperti itu? Kamu ini ..."
"Terus?"
''Tunggu sampai berita tentang ayahnya pacar kamu ini mereda dulu. Tunggu sampai masyarakat melupakan masalah tentang Mentri keuangan. Baru kalian boleh menikah. Satu tahun sepertinya cukup.''
__ADS_1
BERSAMBUNG
...****************...