
Kelvin mengepalkan kedua tangannya saat mendengar ancaman sang ayah yang mengatakan bahwa, dia akan mencabut alat bantu yang selama ini digunakan oleh ibu kandungnya yang tidak lain dan tidak bukan adalah istri ayahnya sendiri. Dia sama sekali tidak habis pikir, kenapa Tuan Alamsyah tega mengatakan hal itu? Jika bukan demi keselamatan ibunya sendiri, mungkin sudah dari dulu Kelvin berontak dan melawan Tuan Alamsyah.
"Ingat kata-kata Daddy ini, nyawa Mommymu itu ada di tangan kamu, Kelvin," tegas Ayahnya lagi penuh penekanan.
"Daddy mengancam saya?"
"Anggap saja begitu."
Kelvin mengusap wajahnya kasar. Hatinya benar-benar merasa hancur, juga tidak mampu mengatakan apapun ataupun berbuat apapun. Semua ini dia lakukan demi keselamatan sang ibu. Ibu yang sangat dia cintai melebihi apapun di dunia ini.
Apa yang harus dia lakukan sekarang? Apakah dirinya harus menyerah akan hidupnya sendiri? Apakah dia harus menjadi boneka selamanya? Entahlah, dada pemuda berusia 29 tahun itu pun seketika merasa sesak hanya dengan memikirkirkannya saja.
"Berhenti di depan, Pak,'' pinta Kelvin kepada sang supir.
"Mau ke mana kamu?'' tanya sang ayah kemudian.
"Ke Rumah Sakit. Saya ingin menemui Mommy, sudah lama sekali saya tidak berkunjung ke sana."
Ckiiit!
Mobil pun melipir dan berhenti tepat di pinggir jalan. Tanpa basa-basi lagi Kelvin membuka pintu mobil dan keluar dari dalamnya kemudian. Kelvin benar-benar merasa kesal.
Ceklek!
Blug!
Pintu mobil pun di buka dan kembali di tutup rapat dengan sedikit bertenanga. Tuan Alamsyah hanya tersenyum menyeringai menatap kepergian sang putra. Dia pun meminta sang supir untuk meneruskan perjalanannya.
__ADS_1
'Pokoknya kamu harus menikah dengan Evelyn apapun yang terjadi. Daddy akan melakukan segala cara agar kamu mau melakukannya. Tidak peduli meskipun Daddy harus menempuh cara kotor sekalipun,' (batin Tuan Alamsyah.)
***
Kelvin berjalan menyusuri trotoar dengan langkah kaki gontai. Dia berharap bahwa Indah masih berada di halte bis. Karena merasa tidak sabar, akhirnya dia pun memutuskan untuk berlari agar bisa segera sampai di tempat di mana Indah berada.
Akan tetapi, harapan sama sekali tidak sesuai dengan kenyataan. Gadis itu sudah tidak berada lagi di sana membuat Kelvin merasa kesal. Dia pun mengusap wajahnya kasar lalu duduk di hatle tersebut dengan napas yang tersengal-sengal.
"Kamu kemana, Ndah? Padahal saya ingin sekali bertemu dengan kamu," gumamnya menundukkan kepala, menahan rasa getir.
Tiba-tiba saja, sepasang kaki mungil berdiri tepat di depannya kini. Kelvin yang semula menunduk pun seketika langsung mengangkat kepalnya, juga menatap dari ujung kaki hingga wajah wanita tersebut terlihat jelas dan nyata di depan mata. Dia pun tersenyum senang kemudian, karena Indah benar-benar berada di hadapannya sekarang.
''Indah?'' gumam Kelvin tersenyum lebar, dia pun bangkit lalu memeluk tubuh gadis itu erat.
Grep!
Kelvin benar-benar mendekap erat tubuh Indah membuat gadis itu seketika merasa sesak. Namun, Indah yang juga sedang berharap akan bertemu dengan pemuda bernama Kelvin itu balas memeluk tubuhnya kini. Indah merasa senang karena dia bisa bertemu kembali dengan Kelvin.
"Dari mana kamu tahu kalau aku ada di sini?" tanya Indah mulai mengurai pelukan.
"Eu ... Saya gak sengaja lewat tadi. Kamu lagi apa di sini sendirian? Apa kamu hendak pergi ke suatu tempat?"
"Nggak ko, aku iseng saja duduk di sini. Gak nyangka juga bisa ketemu sama kamu."
"Hmm ... Begitu rupanya. Apa kamu mau menemani saya ke suatu tempat?" tanya Kelvin.
"Ke mana?"
__ADS_1
"Ke Rumah Sakit. Saya ingin mengunjungi Mommy di sana."
"Mommy kamu sakit?"
"Saya akan ceritakan nanti, sekarang kita pergi dulu dari sini."
Indah menganggukan kepalanya seraya tersenyum senang. Dia akan ikut kemanpun pemuda ini membawanya sekarang. Dirinya menatap lekat wajah pemuda itu dengan tatapan sayu, betapa Indah sangat mencintai pemuda itu lebih dari apapun.
Ckiiit!
Taksi berhenti tepat dihadapan mereka kini. Kelvin pun membukakan pintu mobil dan Indah pun masuk ke dalamnya di susul oleh Kelvin kemudian. Mobil Taksi itu pun mulai melaju di jalanan, siap mengantarkan penumpangnya ke tempat tujuan.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Indah, duduk dengan tangan yang saling bertautan erat.
"Saya baik-baik saja, kenapa memang? Apa wajah saya terlihat tidak baik-baik saja?" jawab Kelvin balas menatap wajah Indah.
"Begitulah, wajah kamu seperti memendam sesuatu. Apa kamu sedang ada masalah? Kamu bisa cerita apapun sama aku."
"Hmm! Nggak ko, saya tidak ada masalah sama sekali. Saya beneran baik-baik saja, sayang."
Cup!
Satu kec*pan pun mendarat di pucuk kepala Indah pelan dan lembut juga penuh kasih sayang. Tenang dan damai itulah yang Kelvin rasakan saat ini, hanya dengan mengecup juga menggenggam erat jemari harus itu mampu membuat rasa gundah di hatinya benar-benar tergantikan dengan rasa damai.
Ckiiit!
Taksi tersebut akhirnya sampai di tempat tujuan. Rumah Sakit besar dimana sang ibu di rawat saat ini. Kelvin dan juga indah berjalan dengan bergandengan tangan mesra lengkap dengan senyuman yang mengembang di kedua sisi bibirnya kini. Tanpa mereka sadari, sepasang mata sedang memperhatikan keduanya dari dalam mobil yang di parkir tepat di belakang Taksi tersebut.
__ADS_1
"Jadi seperti ini kelakukan kamu yang sebenarnya?"
...****************...