
Indah seketika menghentikan langkah kakinya. Tubuhnya terasa gemetar saat terdengar suara seorang pria menyapa dirinya. Dia pun memejamkan kedua mata kemudian, sebelum akhirnya berbalik dengan menutup separuh wajahnya.
"I-iya," jawab Indah dengan nada suara terbata-bata seraya menundukkan kepalanya.
"Kamu salah satu pelayat di sini?"
Indah hanya menganggukkan kepalanya tanpa berani menatap wajah laki-laki tersebut. Jelas sekali kalau laki-laki itu bukanlah Kelvin orang yang sedang dia cari, karena dia bisa mengenali suara kekasihnya meskipun tanpa melihat wajahnya sekalipun. Sementara laki-laki yang berada tepat dihadapannya itu suaranya sangat berbeda dengan suara Kelvin.
"Seharusnya pelayat berada di depan. Sedang apa kamu di sini?" tanya laki-laki itu lagi seketika membuyarkan lamunan Indah juga membuatnya semakin merasa gugup tentu saja.
"Eu ...! Saya mau ke toilet, Mas."
"Di sana gak ada toilet."
Indah semakin gugup.
''Tunggu, bisa saya lihat wajah kamu? Saya takut ada penyusup yang masuk ke rumah saya ini.''
"Hah? Saya bukan penyusup ko, saya berani bersumpah.''
Tiba-tiba saja laki-laki tersebut menarik menutup yang menutupi separuh wajah Indah. Tentu saja, wajah gadis itu terpampang sangat jelas kini. Indah masih berusaha menutup wajahnya menggunakan telapak tangannya.
"Sepertinya saya mengenali kamu. Saya pernah melihat kamu di suatu tempat, tapi saya lupa dimana." Laki-laki tersebut menatap lekat wajah Indah seolah dia memang mengenalinya
"Tidak, kita sama sekali tidak pernah bertemu. Maaf, saya harus pergi," jawab Indah hendak pergi.
__ADS_1
"Tunggu, kamu pacar adik saya, Kelvin?"
Indah seketika menghentikan langkah kakinya. Adik? Apakah laki-laki ini adalah kakak kandung Kelvin? Tapi, darimana dia bisa mengenali wajahnya sementara Kelvin sama sekali belum pernah mengenalkan dirinya dengan sang Kakak? Berbagai pertanyaan pun memenuhi otak kecilnya kini. Indah pun berbalik lalu memberanikan diri menatap wajahnya.
"Benar, kamu Indah 'kan?''
"Stt! Saya mohon jangan sebut nama saya di sini, jangan sampai Pak Mentri tahu saya berada di sini," bisik Indah seraya menatap sekeliling.
"Saya tahu. Ikut saya sekarang juga." Laki-laki yang belum diketahui namanya itu menarik pergelangan tangan Indah dan membawanya ke tempat yang lebih sepi.
"Kamu ke sini untuk mencari adik saya 'kan? Perkenalkan saya, Jerry Alamsyah kakaknya Kelvin.''
"Apa anda benar-benar kakaknya Kelvin?''
"Kamu tidak percaya sama saya? Bukankah wajah kami mirip?"
"Dimana Kelvin? Saya ingin bertemu dengan dia," tanya Indah kemudian.
"Dia ada di kamarnya, saya akan antarkan kamu ke sana. Kamar Kelvin ada di lantai dua."
"Tapi, kalau nanti ketemu dengan Pak Mentri bagaimana?"
"Memangnya dia tahu wajah kamu? Kalian pernah bertemu sebelumnya?''
Indah menggelengkan kepalanya. Dia memang belum pernah bertemu secara langsung dengan Tuan Alamsyah. Selama ini, dia hanya melihat wajahnya dari layar televisi, media online ataupun media cetak.
__ADS_1
'Dasar bodoh, kenapa aku bisa ketakutan kayak gini? Jelas-jelas aku gak pernah ketemu sama Pak Mentri,' (batin Indah.)
"Antarkan saya ke kamar Kelvin. Saya ingin sekali bertemu dengan dia," pinta Indah kemudian.
Tanpa basa-basi lagi, Jerry meraih pergelangan tangan Indah dan membawanya masuk ke dalam rumah lalu berjalan ke arah tangga. Baru saja keduanya hendak menaiki anak tangga pertama, tiba-tiba saja Tuan Alamsyah memanggil nama putra sulungnya tersebut. Sontak, keduanya pun menghentikan langkah kaki mereka seketika merasa gugup tentu saja.
"Mau ke mana? Di sini masih banyak pelayat,'' tanya Tuan Alamsyah.
"Saya mau ke lantai dua sebentar, Dad,'' jawab Jerry masih berusaha untuk bersikap tenang.
"Siapa wanita ini? Kamu ini benar-benar tidak tahu sopan santuni, Jerry. Suasana masih berduka seperti ini, malah bawah seorang wanita ke rumah," ketus Tuan Alamsyah sama sekali tidak mengenali wajah Indah.
Akan tetapi, jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, Tuan Alamsyah merasa jika dia pernah bertemu dengan gadis ini di suatu tempat. Namun, dia tidak terlalu memikirkan hal itu dan lebih memilih untuk berlalu begitu saja dari hadapan putra sulungnya tersebut. Jerry dan Indah pun hendak melanjutkan langkah kakinya juga bisa bernapas lega akhirnya. Namun, tiba-tiba saja Tuan Alamsyah kembali memutar badan juga kembali memanggil nama Jerry kemudian.
"Tunggu, Jerry," pinta Tuan Alamsyah seraya menatap wajah Indah yang saat ini menundukkan kepalanya, terlihat gugup.
'Ya Tuhan, jangan sampai Pak Mentri mengenali aku,' (batin Indah.)
"Wanita ini--"
BERSAMBUNG
Follow : Ig @Renitriansyah
FB @Reni
__ADS_1
...****************...