
Kelvin menghentikan langkah kakinya saat mendengar suara kegaduhan yang berasal dari dalam rumah gadis bernama Indah. Dia pun mengurungkan niatnya untuk pulang juga seketika menoleh ke arah Indah yang saat ini masih berdiri di tempat sama. Perasaan Kelvin tiba-tiba merasa tidak enak. Dia tidak kuasa untuk meninggalkan gadis itu sendirian di sana.
"Kenapa diam saja? Katanya buru-buru?" tanya Indah terlihat biasa saja seolah sudah terbiasa mendengar suara kegaduhan seperti itu.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Kelvin merasa heran.
"Tentu saja aku baik-baik saja. Memangnya aku kenapa?"
"Di rumah kamu--"
"Aku udah biasa mendengar hal yang seperti itu, Vin. Kedua orang tua aku memang selalu kayak gitu setiap harinya." Indah masih terlihat santai mencoba untuk menyembunyikan kegundahan di dalam hatinya kini.
"Kamu yakin?"
Indah menganggukkan kepalanya seraya tersenyum getir. Senyuman yang menyiratkan banyak kesedihan. Senyuman yang menyembunyikan rasa khawatir juga senyuman yang dipaksakan tentu saja.
"Apa kamu ingin kita pergi ke suatu tempat?" Kelvin menawarkan.
"Apa boleh? Katanya kamu lagi buru-buru tadi?"
"Gak masalah. Saya akan antar kemanapun kamu ingin pergi, saya tahu kalau kamu tidak ingin masuk ke rumah 'kan?"
Indah terdiam menundukkan kepalanya kini. Ya ... Dia memang merasa enggan untuk masuk ke dalam rumahnya sendiri. Rumah yang seharunya menjadi surga baginya. Rumah yang seharunya menjadi tempat yang paling nyaman untungnya berlindung. Namun, terasa bagai sebuah neraka yang begitu panas menyiksa.
"Bawa aku kemanapun kamu pergi, Vin. Aku tidak ingin pulang. Bawa aku pergi jauh dari sini," lembut Indah, akhirnya mengutarakan keinginannya.
Kelvin pun berjalan menghampiri lalu kembali membuka pintu mobil untuk gadis bernamakan lengkap Indah Permata. Dia akan membawanya pergi jauh dari sini. Kelvin sama sekali tidak peduli meskipun sang ayah marah kepada dirinya karena pulang terlambat bahkan tidak pulang sama sekali seperti waktu itu.
Ceklek!
Blug!
Pintu mobil pun di buka dan segera di tutup setelah Indah masuk kedalamnya. Kelvin berlari ke arah samping lalu kembali duduk di kursi kemudi dan siap untuk menyetir. Namun, dia akan bertanya terlebih dahulu kemana Indah ingin pergi bersamanya malam ini.
"Apa ada tempat yang ingin kamu kunjungi, Indah?" tanya Kelvin kemudian.
__ADS_1
"Aku ingin pergi ke tempat dimana kita ketemu pertama kali. Di sanalah biasanya aku menghibur diri."
"Ke hotel?"
"Hah?"
"Eu ... Maaf, maksud saya ke Klub malam yang waktu itu?" Kelvin menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak terasa gatal sama sekali.
'Astaga, kenapa saya bisa salah ngomong segala si?' (batin Kelvin.)
"Iya ke Klub malam, bukan ke hotel. Waktu itu kita ke sana karena terpaksa, mana mungkin kita ke sana untuk kedua kalinya?"
"Hehehe ... Maaf, saya salah bicara tadi." Tawa Kelvin seketika merasa salah tingkah.
Indah hanya tersenyum menanggapi ucapan pemuda yang entah mengapa membuat hatinya merasa berdebar. Kelvin benar-benar telah mengobrak-abrik perasaan seorang Indah. Gadis berusia 25 tahun itu pun akhirnya menyadari bahwa ada yang tidak beres dengan perasaan juga dengan hatinya kini.
''Oke, kita pergi ke sana sekarang juga,'' ucap Kelvin seketika membuyarkan lamunan Indah kini.
''Hah? Eu ... Iya, kita ke sana sekarang. Aku benar-benar udah gak sabar ingin meminum segelas anggur,'' jawab Indah kemudian.
Perlahan, mobil pun mulai melaju meninggalkan tempat tersebut menuju tempat tujuan. Keduanya akan menghabiskan malam ini dengan bersenang-senang. Tidak peduli meskipun masalah besar sedang menantinya di depan.
***
Minuman anggur merah pun sudah lebih dari beberapa gelas penuh mereka habiskan. Mereka berdua dalam keadaan mabuk berat sekarang. Tentu saja pikiran keduanya pun dikuasai oleh minuman beralkohol itu.
"Kita pulaaaaang yaaaa, Daddy pasti nyariiiin aku sekarang," lirih Kelvin layaknya seorang yang sedang mabuk.
"Sebentar lagi deeeeeh ... Aku malas pulaaaaang, Viiiin!" jawab Indah dengan suara yang sama juga kepala yang menunduk terasa berat.
"Hmmm ... Gimana kalau kita ke hotel yang waktu ituuuuuu ... Akuuuu janji gak akan ngapa-ngapain kamu kooo.''
"Boleh juga, tapi gendoooooong. Kepala aku berat benget rasanya," pinta Indah dengan anda suara manja.
"Ish ... Dasar manjaaaaa," jawab Kelvin sedikit terkekeh lalu berjongkok juga akhirnya.
__ADS_1
"Wah ... Punggung kamu lebar juga ya,'' celetuk Indah tersenyum cengengesan.
Grep!
Dia pun naik ke punggung lebar Kelvin seraya melingkarkan tangannya di leher pemuda itu. Indah bahkan meletakan kepalanya di pundak Kelvin mesra layaknya sepasang kekasih yang sedang dimabuk asmara. Perlahan Kelvin pun mulai berdiri tegak setelah memastikan bahwa gadis itu merasa nyaman berada di punggungnya kini.
"Kita berangkaaaat," celetuk Kelvin sebelum dia mulai melangkahkan kedua kakinya.
Kelvin berjalan melintasi kerumunan orang yang sedang berjingkrak bersenang-senang di bawah sinar lampu remang-remang diiringi music yang memekikkan telinga. Indah yang saat ini berada di punggung pemuda itu tidak berhenti tersenyum senang. Sampai akhirnya, mereka berdua pun benar-benar keluar dari dalam Klub malam dengan tubuh Kelvin yang sedikit sempoyongan.
"Akhirnya kita selamat sampai di luar," ucap Kelvin bernapas lega.
"Kamu benar-benar hebat, Vin. Kamu persis seperti Superman yang bisa terbang melintasi orang-orang yang sebegitu banyaknya itu."
"Ish, dasar aneh. Saya memang Superman ko."
Keduanya pun sama-sama terkekeh kemudian.
"Saya benar-benar merasa bahagia, Indah. Bersama kamu akhirnya saya bisa merasakan kebebasan dan menjadi diri saya sendiri. Kamu tahu, selama ini saya hidup seperti boneka dan hanya melakukan apa yang di perintahkan oleh Daddy. Namun, berkat kamu saya pun akhirnya merasakan yang namanya kebebasan, dan kehidupan yang seperti inilah yang memang saya inginkan selama ini.''
"Terima kasih, Indah. Dengan kamu saya merasa sangat bahagia. Benar-benar merasa bahagia. Saya cinta kamu, Indah," ucap Kelvin panjang lebar.
Kelvin sama sekali tidak mendapatkan jawaban apapun. Setelah dia mengutarakan isi hatinya, Indah tidak memberikan merespon sedikitpun. Dia pun akhirnya menoleh dan melirik wajah gadis itu yang saat ini berada di atas pundaknya.
"Astaga, setelah saya bicara panjang kali lebar kamu malah tidur? Indah-indah, kamu benar-benar telah mengobrak-abrik hati dan juga perasaan saya,'' lembut Kelvin tertawa ringan.
***
Keesokan harinya.
Kelvin merentangkan kedua tangannya. Dia pun mengusap kepalanya kemudian yang entah mengapa terasa pusing. Setelah itu, dirinya mulai membuka mata secara sempurna lalu mengusapnya pelan.
"Jam berapa ini?" gumamnya menatap sekeliling mencari keberadaan jam dinding.
Akan tetapi, dia sama sekali tidak menemukan apa yang dia cari. Matanya menangkap sosok Indah yang saat ini tertidur lelap di ranjang yang sama dengan dirinya. Kelvin seketika membulatkan bola matanya saat menyadari bahwa wanita itu dalam keadaan polos tanpa sehelai benangpun.
__ADS_1
"Apa yang telah saya lakukan semalam?"
...****************...