
"Wanita ini--'' Tuan Alamsyah tidak meneruskan ucapannya, dia menatap tubuh Indah dari ujung kaki hingga ujung rambut membuat Indah semakin merasa gugup.
"Ada apa lagi, Dad? Kasian pacar saya sudah kelelahan dia. Saya akan segera turun lagi setelah mengantarkan dia ke dalam kamarnya. Lagipula saya masih punya otak, saya gak mungkin berani melakukan hal yang tak senonoh di saat suasana masih berduka seperti ini,'' ucap Jerry masih berusaha untuk bersikap tenang.
"Ya sudah, Daddy pusing melihat kelakukan kamu,'' sang ayah pun pergi begitu saja tanpa merasa curiga sedikitpun.
Keduanya pun segera melanjutkan langkah kaki mereka sebelum Tuan Alamsyah berubah pikiran. Dengan tubuh yang gemetar, Indah menaiki satu-persatu anak tangga. Rasa syukur pun dia panjatkan di dalam hatinya karena ayah dari kekasihnya itu benar-benar tidak mengenali dirinya. Sampai akhirnya, mereka berdua sampai di depan sebuah kamar dengan pintu yang tertutup rapat tentu saja.
Tok ... Tok ... Tok ...
"Vin, ini Abang. Boleh abang masuk?'' tanya Jerry diiringi dengan ketukan di pintu, tapi sama sekali tidak mendapatkan jawaban apapun dari dalam sana.
Ceklek!
Pintu pun terpaksa di buka oleh pemuda itu. Dia masuk ke dalam kamar, sementara Indah masih berdiri di depan pintu. Dia tidak ingin jika Kelvin merasa terkejut dengan kehadirannya yang secara tiba-tiba.
"Buat apa Abang masuk ke sini? Biarkan saya sendiri,'' lirih Kelvin, duduk di lantai dengan memeluk kedua lututnya sendiri terlihat begitu terpukul.
"Abang tahu kamu masih syok dengan kepergian Mommy, Abang juga sama syoknya seperti kamu.''
Kelvin diam seribu bahasa. Dia semakin merekatkan lingkaran tangannya. Kedua matanya pun nampak memerah lengkap dengan lingkaran hitam di bawah matanya kini.
"Apa jika kamu bertemu dengan seseorang, itu akan sedikit mengobati rasa sakit di hati kamu?'' tanya Jerry kemudian.
"Seseorang?'' Kelvin mengangkat kepalanya, menatap wajah sang Kaka dengan tatapan sayu.
"Masuk, Indah.''
__ADS_1
Dengan langkah kaki gontai. Indah pun masuk ke dalam kamar, dia menatap wajah Kelvin sang kekasih dengan tatapan sayu penuh kesedihan. Tatapan mata keduanya pun saling bertemu kini. Kelvin benar-benar merasa tidak percaya dengan apa yang saat ini dilihatnya.
"Indah?" gumam Kelvin, dia hendak bangkit, tapi tubuhnya kembali ambruk karena tidak kuasa menahan beban di dalam jiwanya kini.
"Iya, Vin. Aku ada di sini.''
Perlahan, Indah pun berjongkok tepat di depan kekasihnya itu. Dia segera memeluk tubuh Kelvin karena hanya itu yang bisa dia lakukan untuk saat ini. Tidak ada kata-kata yang mampu mengobati rasa sakitnya kehilangan orang yang paling berharga di dunia ini, terlebih itu adalah ibu kandung sendiri.
"Mommy, Ndah. Mommy udah gak ada, hiks hiks hiks!'' tangis Kelvin pecah seketika di dalam pelukan Indah.
"Iya, Vin. Kamu harus sabar, kamu pasti kuat. Tante sudah tenang di alam sana,'' lirih Indah semakin merekatkan lingkaran tangannya.
''Tapi, bagaimana kamu bisa ada di sini, Ndah?'' Kelvin mulai mengurai pelukan.
"Semuanya berkat Abang Jerry. Aku bisa selamat sampai ke sini karena dia.''
"Kamu seharusnya berterima kasih sama Abang. Jika bukan karena Abang, pacar kamu ini sudah tersesat di rumah kita yang besar ini. Kamu tahu, kami hampir saja ketahuan sama Daddy tadi,'' jelas Jerry kemudian.
"Kamu benar-benar nekat, Indah. Kalau Daddy sampai mengenali kamu gimana? Kalau sampai itu terjadi, kamu bisa dalam bahaya nanti.''
"Maafkan aku, Vin. Aku gak ada pilihan lain lagi, aku ingin ada di sisi kamu. Aku tahu kamu sedang terpukul saat ini, aku--''
"Tidak apa-apa sayang. Saya juga senang kamu ada di sini sekarang. Saya memang sedang membutuhkan kamu, hanya kamu yang bisa membuat hati saya merasa tenang.''
"Tunggu, apa Daddy mengancam keselamatan Indah juga?'' tanya Jerry mengerutkan kening.
"Begitulah, Daddy. Dia mengancam akan menghancurkan hidup Indah jika saya tidak mengakhiri hubungan kami,'' jawab Kelvin, bangkit lalu duduk tepat di tepi ranjang.
__ADS_1
"Daddy gak pernah berubah. Dari dulu selalu seperti itu. Gak cukup dia membuat Mommy koma waktu itu,'' celetuk Jerry tentu saja membuat Kelvin merasa terkejut.
"Apa maksud Abang?''
"Maaf karena Abang menyembunyikan semua ini dari kamu, Vin. Sudah saatnya kamu tahu yang sebenarnya, kalau Mommy kita koma karena--'' Jerry tidak meneruskan ucapannya.
"Karena apa, Bang? KATAKAAAAN!'' teriak Kelvin mulai terlihat emosi.
"Sebenarnya Mommy mengetahui tentang perselingkuhan Daddy dengan sekertaris-nya, Mommy syok berat waktu itu, lalu--''
"Kenapa Abang baru mengatakan semua ini sekarang?"
"Maafkan, Abang.''
"Saya yakin meninggalnya Mommy pasti karena ulah si Melani. Saya akan menyelidiki semua ini sampai tuntas. Saya bersumpah demi nyawa saya sendiri, kalau sampai meninggalnya Mommy ada hubungannya sama Daddy, saya akan menjebloskan Daddy ke dalam penjara dengan kedua tangan saya sendiri.''
Tok ... Tok ... Tok ...
''Kelvin, kamu di dalam? Daddy ingin bicara sama kamu,'' tiba-tiba terdengar suara sang ayah mengetuk pintu.
BERSAMBUNG
Follow Ig @renitriansyah
fb @Reni
...****************...
__ADS_1