Hasrat Cinta Putra Sang Penguasa

Hasrat Cinta Putra Sang Penguasa
Tidak Merasa Bangga


__ADS_3

Kelvin berdiri tepat di depan calon ayah mertuanya. Entah mengapa perasaanya tiba-tiba saja merasa tidak enak. Apakah ayah dari kekasihnya itu tidak akan merestui hubungan mereka? Perasaan Kelvin benar-benar merasa khawatir akan hal itu.


"Kamu serius mencintai Indah putri saya?" tanya sang calon ayah mertua menatap wajah Kelvin dengan tatapan tajam.


"Tentu saja, Om. Saya mencintai Indah lebih dari apapun di dunia ini. Dia adalah satu-satunya wanita yang mampu membuat hidup saya merasa bahagia,'' jawab Kelvin penuh percaya diri.


"Tapi status sosial kalian berbeda. Kamu berasal dari kalangan pejabat, ayah kamu salah satu penguasa negeri ini, sedangkan Indah putri kami hanyalah gadis biasa."


"Tidak masalah, Om. Menjadi putra dari seorang penguasa tidak membuat saya merasa bangga. Menjadi putra dari seorang Mentri tidak membuat saya tinggi hati. Saya justru ingin sekali menjadi rakyat biasa yang bukan dilahirkan dari keluarga kaya raya atau orang tua yang memiliki status sosial tinggi seperti yang om sebutkan tadi.''


"Sejak kecil, Indah tidak pernah hidup bahagia. Kami orang tuanya hampir setiap hari bertengkar, andai saja bukan demi dia mungkin kamu sudah lama bercerai. Kami masih menjadi keluarga yang utuh demi Indah, kami tidak ingin dia kekurangan kasih sayang. Ya ... Meskipun selama ini kami tidak pernah memberikan apa yang dia inginkan."


Kelvin diam seraya tersenyum kecil. Dia memang pernah mendengar hal tersebut dari Indah. Namun, dia sama sekali tidak menyangka bahwa dirinya akan mendengarnya langsung dari sang calon ayah mertua. Apakah dirinya benar-benar telah di terima sebagai calon menantunya? Seketika perasaan Kelvin merasa senang tentu saja.


''Om hanya ingim berpesan, jaga Indah dengan baik. Jangan sekali-kali kamu menyakiti dia.''


''Pasti Om, saya berjanji akan membahagiakan Indah.'' Kelvin penuh percaya diri.


Perbincangan mereka pun akhirnya terhenti saat Indah tiba-tiba saja menghampiri. Kelvin dengan perasaan lega segara berlari ke arahnya.


Grep!


Dia pun memeluk tubuh gadis itu, mengabaikan laki-laki paruh baya yang saat ini menatap keduanya. Namun, Kelvin pun segera mengurai pelukan lalu kembali menoleh dan menatap wajah sang calon ayah mertua dengan wajah memerah merasa malu tentu saja.


"Maaf, Om. Saya hanya--"


"Tak apa-apa, Om mengerti ko. Om juga pernah merasakannya dulu. Kalian teruskan pertemuan yang mengharukan ini, Om masuk dulu," jawabnya lalu berjalan meninggalkan mereka berdua.


Sepeninggal sang ayah, Indah segera memeluk erat tubuh Kelvin setelah mencoba menahan diri. Dia mendekap erat kekasihnya itu tanpa jarak sedikitpun. Rasanya seperti mereka telah di pisahkan untuk waktu yang lama padahal keduanya hanya tidak bertemu selama beberapa hari saja.


"Kamu baik-baik saja? Kemana saja kamu seharian ini? Apa kamu tahu betapa khawatirnya saya, Ndah," lirih Kelvin membenamkan kepalanya di leher Indah sang kekasih.

__ADS_1


"Hmm ... Nanti saja aku ceritakan detailnya. Sekarang biarkan aku memeluk kamu dulu seperti ini," jawab Indah memejamkan kedua matanya, merasakan betapa tenangnya berada di dalam dekapan Kelvin Alamsyah.


"Baiklah, kamu bisa memeluk saya sebanyak yang kamu inginkan."


Indah tersenyum kecil. Mencoba melupakan kejadian nahas yang baru saja dialaminya beberapa waktu yang lalu. Jika saja tidak ada Evelyn yang menyelamatkan dirinya juga kedua orang tuanya, mungkin saja hidupnya sudah benar-benar berakhir sekarang.


* * * *


Sementara itu. Melani merasa kelabakan setelah mendapatkan kabar dari para preman yang menjaga Vila yang dia gunakan untuk menyekap Indah bahwa gadis itu dan juga keluarganya berhasil kabur. Wanita itu pun seketika melemparkan ponsel canggih miliknya yang semula dia genggam. Tentu saja, hal itu membuat Tuan Alamsyah yang saat ini berada di ruangan yang sama dengannya merasa heran.


"Ada apa sebenarnya? Kenapa ponselnya kamu lemparkan seperti itu?" tanya Tuan Alamsyah kemudian.


"Sialan, si Indah itu berhasil kabur. Dasar brengsek!'' teriak Melani merasa kesal.


"Apa? Mereka kabur?"


Melani menganggukkan kepalanya dengan wajah masam.


"Kalau sampai mereka melapor polisi bagaimana? Awas aja ya, jangan sampai kamu menyebutkan nama Mas nantinya."


"Ya untuk berjaga-jaga saja. Tidak ada salahnya 'kan kalau kita waspada?"


"Hmm ... Terserah Mas saja deh. Aku lelah mau pulang dulu," ucap Melani bangkit dan hendak pergi.


"Menginap saja di sini, sayang."


"Apa boleh aku menginap di sini? Biasanya Mas selalu melarang ku tiap aku merengek meminta menginap di sini?"


"Sekarang kamu bebas, Kelvin juga gak bakalan pulang, dia 'kan sudah Mas usir dari sini?"


"Bukannya masih ada si Jerry, putra sulung Mas itu?"

__ADS_1


"Dia jarang pulang. Jadi, kamu bebas sekarang.''


Melani pun tersenyum senang tentu saja. Bagai mimpi baginya bisa tinggal di rumah mewah dan megah itu meskipun hanya menginap selama satu hari. Dia pun kembali duduk lalu menyandarkan kepalanya di pundak Tuan Alamsyah sang pujaan hati.


Ting Tong ...


Suara bel rumah tiba-tiba saja berbunyi, sontak Melani pun menarik kepalanya dengan perasaan kesal.


"Siapa tuh yang datang? Jangan-jangan Wartawan yang tadi lagi?" tanya Melani merasa khawatir.


"Gak mungkin. Biarkan saja, nanti juga di buka sama si mbok.''


Melani kembali menyandarkan kepalanya di pundak Tuan Alamsyah, bergelayutan manja kepadanya layaknya sepasang anak muda yang sedang berpacaran mesra.


"Permisi Tuan," tiba-tiba si Mbok datang dan berdiri tidak jauh dari mereka berdua.


"Ada apa?''


"Di depan ada tamu, Tuan."


"Siapa?"


"Eu .. Anu, Tuan."


"Anu-anu! Kalau ngomong itu yang jelas dong."


"Ada Polisi yang mencari Nona Melani, Tuan.''


BERSAMBUNG


...****************...

__ADS_1


PROMOSI NOVEL



__ADS_2