
Kelvin berjalan dengan langkah kaki gontai. Hatinya di selimuti rasa khawatir karena sang kekasih tiba-tiba saja menghilang tanpa jejak. Bahkan, ponsel Indah pun sama sekali tidak aktif membuat Kelvin merasa ketakutan sesuatu yang buruk telah menimpa kekasihnya itu. Dirinya akan merasa sangat bersalah jika Tuan Alamsyah sang ayah benar-benar mencelakai Indah.
Dret ... Dret ... Dret ...
Ponsel miliknya seketika bergetar. Dia pun merogoh saku jas hitam yang dikenakannya lalu menatap layar ponsel dan mengangkat telpon kemudian.
📞 "Halo, Abang," sapa Kelvin dengan nada suara lemas.
📞 "Halo, Vin. Gimana, apa kamu udah ketemu sama Indah?"
📞 "Indah tidak ada di rumahnya, kedua orang tuanya pun tidak ada.''
📞"Apa ...? Kamu yakin? Coba ketuk pintunya lagi, siapa tahu mereka tidak mendengar ketukan kamu.''
📞 "Sudah, Bang. Kata tetangganya Indah dan keluarganya sudah pindah dari rumah ini. Apa yang harus saya lakukan sekarang? Bagaimana jika Indah celaka? Bagaimana jika Daddy benar-benar melakukan sesuatu yang buruk kepadanya?"
📞 "Kamu tenang dulu. Lebih baik kita cari keberadaan Indah, tapi Abang sarankan kamu jangan berbuat gegabah dulu dengan menuduh Daddy yang bukan-bukan.''
📞 "Menuduh gimana maksudnya? Jelas-jelas Daddy yang melakukan hal ini. Dia pasti menyembunyikan Indah dan keluarganya di suatu tempat, lebih buruknya lagi, bagaimana kalau Daddy sampai mencelakai mereka?''
📞 "Apa kamu lupa Daddy kita itu siapa? Dia seorang Mentri, tidak mungkin dia berani melakukan hal itu? Keluarga Indah pasti mengenali wajah Daddy. Kamu tenang dulu, Abang akan membantu kamu untuk mencari keberadaan Indah sekarang juga."
📞 "O iya, Bang. Ada sesuatu juga yang ingin saya katakan kepada Abang."
📞 "Apa? katakan saja.''
📞 "Saya dipecat dari kantor, Daddy juga mengusir saya dari rumah.''
__ADS_1
📞 " Kamu serius? Waaah ... Selamat ya, adikku. Akhirnya kamu bisa terbebas juga dari Daddy, kamu gak usah khawatir Abang akan mencarikan kamu tempat tinggal.''
📞 "Hmm ... Gak usah, saya bisa mengurus diri saya sendiri. Saya bukan akan kecil lagi, saya juga bisa tinggal dimanapun. Abang bantu saja saya mencari Indah."
📞 "Baiklah, Abang akan menghubungi kamu lagi kalau Abang sudah mendapatkan kabar tentang dia.''
Ucapan terakhir Jerry sebelum dia benar-benar menutup sambungan telpon.
* * *
"Hahahaha! Aku yakin putra mu si Kelvin pasti sedang mencari keberadaan si Indah itu, Mas." Tawa Melani, terdengar renyah duduk bersilang kaki masih berada di kediaman Tuan Alamsyah.
"Kamu memang hebat, Melani. Dimana kamu sembunyikan mereka? Tapi ingat jangan sekali-kali kamu membawa nama Mas kalau sampai perbuatan kamu ini diketahui oleh Polisi,'' pinta sang Mentri duduk tepat di sampingnya.
"Pasti dong, pokoknya Mas aman. Lagipula gak akan ketahuan juga ko. O iya, Mas apakah putra Mas yang kurang ajar itu sudah di beri pelajaran? Dasar gak sopan, seenaknya saja dia mengancam aku calon ibu tirinya, heuh ....''
"Mas masih saja membela dia setelah apa yang dia lakukan sama kita? Anak itu, anak kesayangan Mas itu telah mempermalukan kita, menginjak-injak harga diriku. Aku bahkan masih belum terima di sebut g*ndik sama para Wartawan itu.''
"Sabar, sayang. Sebentar lagi sebutan itu gak akan akan berlaku lagi buat kamu, karena kamu akan segera menjadi Nyonya Alamsyah. Ingat itu,'' lirih Tuan Alamsyah mencoba untuk menenangkan.
"Tapi tetap saja, kamu juga harus memberi dia pelajaran dong, Mas."
"Mas udah pecat dia dari kantor. Dia juga udah Mas usir dari rumah ini, kamu tenang saja. Tapi, Mas tetap gak tega melakukan hal itu sebenarnya, walau bagaimanapun dia itu putra Mas sendiri."
"Hmm ... Bagus deh, anak kurang ajar seperti dia memang harus di beri pelajaran."
"Sudahlah, jangan terlalu memikirkan hal itu. Lama-lama juga beritanya akan reda sendiri. Untuk mengobati stres, gimana kalau kita melenturkan otot-otot di tubuh kita ini dengan berolahraga,'' ujar Tuan Alamsyah tersenyum menggoda.
__ADS_1
"Olah raga? Nggak akh, malas ... Boro-boro olahraga, kepala aku saja masih pusing gara-gara telur busuk itu," ketus Melani memijit kepalanya sendiri seraya memejamkan kedua matanya.
"Ish, bukan olahraga seperti itu maksud Mas. Tapi--"
Melani tersenyum kecil, menoleh dan menatap wajah sang Mentri akhirnya mengerti olahraga apa yang di maksud oleh kekasih hatinya itu.
"Hahahaha! Dasar nakal, di situasi seperti ini memang olahraga itu adalah olahraga yang paling cocok untuk meredakan sakit kepala aku ini, tapi--''
"Tapi apa, sayang?"
"Gendong," pinta Melani dengan nada suara manja.
"Hmm, baiklah."
Tanpa basa-basi lagi, Tuan Alamsyah segara menggendong tubuh Melani lalu berjalan menuju kamar. Mereka berdua terlihat seperti sepasang anak muda yang sedang dimabuk asmara, terlihat romantis, tapi memuakkan bagi siapapun yang melihatnya.
''Kamu sekap dimana si Indah dan keluarganya?''
''Di gudang yang ada di Villa, Mas. Tempat itu aman ko, Mas tenang saja,'' jawab Melani tersenyum puas.
Tanpa mereka sadari, sorot kamera ponsel sedang mengabadikan kebersamaan mereka berdua. Merekam kelakuan keduanya dengan sangat jelas tidak ada satu pun yang terlewatkan.
BERSAMBUNG
...****************...
PROMOSI NOVEL
__ADS_1