
Ceklek!
Pintu ruangan pun di buka, Kelvin masuk ke dalam ruangan sang ayah bersama Indah tentu saja. Dia bahkan menggenggam erat pergelangan tangan gadisnya itu. Hal yang sama pun dilakukan oleh Jerry kini, dia masuk ke dalam ruangan tersebut lalu berdiri tepat di depan meja dimana sang ayah duduk dengan bersilang kaki.
"Mereka tidak salah, Dad. Saya yang salah karena telah membiarkan Indah masuk dan membawanya ke kamar Kelvin," jelas Jerry menatap wajah sang ayah dengan tatapan tajam.
"Daddy gak butuh penjelasan kamu, Jerry. Lebih baik kamu keluar, jangan ikut campur,'' jawab Tuan Alamsyah dengan nada suara datar.
"Tapi, Dad?"
"CUKUP! KELUAR SEKARANG JUGA SEBELUM DADDY MEMINTA MEREKA MENYERET KAMU SECARA PAKSA," Tuan Alamsyah mulai menaikan suaranya.
"Daddy yang cukup. Mau sampai kapan Daddy menjadikan putra Daddy sendiri sebagai boneka demi ambisi Daddy sendiri? Apa yang Daddy inginkan akan tercapai tanpa perlu Daddy melakukan semua ini."
"JERRY!"
Jerry hanya bisa mengusap wajahnya kasar. Dia tidak tahu harus berkata apa lagi agar ayahnya itu bisa berhenti mengusik kebahagiaan adiknya yang sebentar lagi pasti akan dia rampas begitu saja. Jerry pun memutar badan dan hendak pergi. Namun, tiba-tiba saja dia menghentikan langkah kaki lalu menatap wajah ayahnya dengan tatapan tajam.
"Sebenarnya, saya bisa memberikan apa yang Daddy inginkan. Namun, saya ingin mewujudkan semua itu karena usaha saya sendiri, bukan karena saya putra dari seorang Mentri. Asal Daddy tahu saja, saya sama sekali tidak merasa bangga menjadi putra seorang pejabat,'' ketus Jerry lalu benar-benar keluar dari dalam ruangan tersebut.
"Apa maksud kamu, Jerry?'' teriak Tuan Alamsyah, namun diabaikan oleh putranya itu.
__ADS_1
Sementara itu, Indah terlihat sangat ketakutan. Aura yang dipancarkan oleh ayah dari kekasihnya itu benar-benar membuat bulu kuduknya benar-benar berdiri tegang. Suasana pun terasa horor baginya.
"Kelvin, Daddy minta kembali ke kamar kamu. Daddy akan bicara 4 mata dengan gadis ini," pinta Tuan Alamsyah kemudian.
"Tidak, saya gak akan pernah meninggalkan Indah sendirian di sini bersama Daddy," tegas Kelvin penuh penekanan.
"Daddy gak akan menyakiti gadis ini, kamu gak udah khawatir."
"Tidaaaak! Saya gak percaya dengan apa yang Daddy katakan," teriak Kelvin semakin menggenggam erat jemari kekasihnya.
"Jangan sampai Daddy melakukan kekerasan sama kamu, Kelvin. CEPAT KEMBALI KE KAMAR KAMU SEKARANG JUGA!" sang ayah balas berteriak.
"COBA SAJA KALAU BERANI.''
"Lepasin saya, Dad? LEPASIIIIN!" teriak Kelvin histeris. Wajahnya memerah terlihat begitu emosi.
Indah yang terpaksa harus melepaskan lingkaran tangannya pun merasa iba dan tidak terima kekasihnya diperlukan seperti itu oleh laki-laki yang notabenya adalah ayah dari Kelvin sendiri. Dia pun merubah ekspresi wajahnya yang semula terlihat ketakutan menjadi lebih tenang karena tidak ingin Kelvin sang kekasih merasa khawatir.
"Aku akan baik-baik saja, Vin. Pak Mentri gak akan berani menyakitiku. Lebih baik kamu kembali ke kamar sebelum kamu terluka. Aku gak mau kalau sampai kamu kenapa-napa,'' lirih Indah dengan kedua mata yang mulai berkaca-kaca tentu saja.
"Tidak, sayang. Saya gak akan ninggalin kamu sendirian di sini, gak akan," jawab Kelvin tatapan matanya nampak sayu menatap wajah Indah kekasihnya.
__ADS_1
"Aku mohon, aku janji akan baik-baik saja."
"Indah ..."
"Please ... Tinggalkan kami di sini, ada sesuatu juga yang ingin aku bicarakan sama ayah kamu ini."
"Tapi, Ndah?"
Tuan Alamsyah memberi isyarat kepada laki-laki yang saat ini memegangi kedua tangan Kelvin untuk membawa putranya itu keluar dari dalam ruangan tersebut. Tentu saja, mereka pun mengikuti perintah dan membawa Kelvin dengan cara di tarik secara paksa.
Persis seperti di dalam adegan film, dimana sepasang kekasih dipisahkan secara paksa. Tatapan mata keduanya pun seketika saling menatap satu sama lain, kedua mata mereka pun nampak memerah menyiratkan kesedihan yang sama. Sampai akhirnya, Kelvin benar-benar keluar dari dalam ruangan tersebut dan pintu pun di tutup rapat kemudian.
Ceklek!
Suara pintu yang di tutup pun terdengar begitu menakutkan bagi Indah. Dia menoleh dan menatap wajah Tuan Alamsyah kemudian. Tidak ada orang lain lagi di ruangan itu selain mereka berdua sekarang. Tatapan mata laki-laki berusia pertengahan 50-han itu nampak menatap tajam wajah Indah disertai dengan senyuman menyeringai.
BERSAMBUNG
...****************...
PROMOSI NOVEL
__ADS_1