
Kelvin menatap wajah sang Presiden. Orang nomor satu di negaranya, juga ayah dari wanita bernama Evelyn, kekasih dari kakaknya. Kelvin pun sedikit membungkukan tubuhnya memberi hormat.
"Ada apa gerangan Bapak sampai jauh-jauh datang kemari?" tanya Kelvin merasa gugup sebenarnya.
"Apa kamu lupa ini Vila siapa?"
"Hah? O iya saya lupa. Ini adalah Vila Anda sendiri. Maaf, Pak. Silakan masuk kebetulan putri Anda sedang tidak ada di sini sekarang," jawab Kelvin tersenyum cengengesan merasa malu sebenarnya.
"Hmm ... Saya tahu. Lagi pula, saya ke sini memang ingin bertemu dengan kamu ko," jawab sang Presiden masuk ke dalam Vila kemudian.
"O ya? Anda mau ketemu sama saya?" tanya Kelvin mengerutkan kening.
"Betul sekali. Kita bicara sambil duduk. Ada hal penting yang ingin saya katakan sama kamu, Kelvin."
"Ba-baik, Pak," jawab Kelvin terbata-bata lalu duduk di kursi yang berbeda dengan Pak Presiden.
"Bagaimana kabar kamu, Kelvin? Apa kamu baik-baik saja setelah mendengar kabar tentang ayah kamu itu?'' tanya Pak Presiden duduk dengan bersilang kaki.
"Saya baik-baik saja, Pak,'' jawab Kelvin tersenyum kecil.
"Kamu yakin?"
Kelvin hanya tersenyum kecil lalu menundukkan kepalanya kemudian.
__ADS_1
"Sebenarnya saya tidak baik-baik saja, Pak. Walau bagaimanapun beliau adalah ayah saya sendiri. Seburuk-buruknya beliau, beliau tetaplah ayah yang telah membesarkan saya, menyekolahkan saya, mendidik saya. Ya ... Meskipun saya sama sekali tidak suka dengan didikan beliau selama ini. Namun, melihat beliau terpuruk seperti ini tetap saja membuat hati saya merasa terluka.''
"Saya hanya bisa berharap dengan adanya kejadian ini, Daddy saya itu akan berubah menjadi lebih baik lagi dan menyesali semua perbuatannya. Saya mewakili ayah saya meminta maaf karena beliau telah membuat Anda malu sebagai salah satu bawahan Anda. Saya harap Anda bersedia memaafkan beliau," jawab Kelvin panjang lebar.
Kelvin Alamsyah seketika berdiri tegak lalu membungkukkan tubuhnya dalam-dalam. Hal itu dia lakukan sebagai tanda permintaan maafnya kepada Pak Presiden mewakili sang ayah. Apa yang saat ini dilakukan oleh Kelvin itu membuat Pak Presiden merasa kagum tentu saja.
Ternyata pepatah yang mengatakan bahwa buah jatuh tidak juah dari pohonnya sama sekali tidak berlaku untuk Kelvin Alamsyah. Sikapnya sangat jauh berbeda dengan ayahnya. Sungguh, Pak Presiden benar-benar merasa kagum kepada pemuda tersebut.
"Kamu benar-benar pemuda yang luar biasa, Kelvin. Tidak salah saya memilih kamu ternyata," ujar sang Presiden kemudian.
"Hah? Maksud Anda? Saya sama Evelyn sudah sepakat akan membatalkan perjodohan kita, Pak." Kelvin mengerutkan kening.
"Tidak, bukan itu maksud saya. Apa kamu bersedia menggantikan posisi ayah kamu? Saya lihat kamu sangat berpotensi menjadi Mentri yang akan menjadi panutan bagi rakyatnya. Meskipun kamu masih muda, tapi saya yakin kamu akan mampu menjalankan tugas kamu dengan baik nantinya. Saya harap kamu bersedia menerima tawaran saya ini.''
"Kenapa kamu diam saja, Kelvin? Apa kamu tidak bersedia menerima tawaran saya?" tanya sang Presiden membuat Kelvin seketika menyudahi lamunan panjangnya kini.
"Hah? Eu ... Bukan begitu maksud saya, Pak."
"Lalu?"
"Beri saya waktu untuk berfikir. Saya tidak mungkin langsung menerima tawaran Bapak begitu saja. Saya harus berkaca terlebih dahulu, apakah saya pantas atau tidak berada di posisi itu. Terlebih lagi, Daddy juga baru saja turun. Jadi mana mungkin saya langsung naik ke posisi itu begitu saja. Apa kata masyarakat nantinya?" jawab Kelvin panjang lebar.
"Hahahaha! Kamu benar-benar bijak, saya sangat suka jalan pikiran kamu ini. Walau bagaimanapun, saya sangat berharap kalau kamu akan menerima tawaran saya ini. Saya akan memberikan waktu sebanyak yang kamu inginkan, tapi jangan terlalu lama juga, saya tidak ingin posisi Mentri keuangan kosong terlalu lama.''
__ADS_1
"Baik, Pak. Terima kasih atas pengertiannya."
"O iya, apa kamu yakin akan membatalkan perjodohan kamu dengan putri saya? Padahal saya sangat berharap memiliki menantu seperti kami lho."
"Apa Evelyn belum mengenalkan pacarnya sama Anda?"
"Apa maksud kamu? Putri saya punya pacar? Tidak, dia sama sekali belum mengenalkan pacarnya sama saya. Apa kamu kenal dengan pacarnya Evelyn?"
"Tentu saja, Pak. Pacar dari putri bapak adalah Kakak saya sendiri."
"Hah?" Pak Presiden merasa terlejut tentu saja.
"Bapak benar-benar tidak tahu?"
"Saya sama sekali tidak tahu. Astaga, anak itu benar-benar menyebalkan, masa punya pacar sama sekali tidak bilang sama saya bapaknya." Pak Presiden terlihat kecewa.
Seiringan itu, orang yang sedang dibicarakan pun akhirnya datang. Evelyn dan Jerry masuk ke dalam Vila dengan bergandengan tangan. Mereka berdua tentu saja merasa terkejut dan segera melepaskan tautan tangan masing-masing.
"Daddy? Se-dang a-pa Da-ddy di sini?" tanya Evelyn wajahnya terlihat pucat pasi.
BERSAMBUNG
...****************...
__ADS_1