
"Apa yang ingin kamu katakan, Vin?" tanya Indah menatap wajah Kelvin dengan perasaan heran karena wajah kekasihnya itu seketika berubah serius.
Kelvin diam tidak mampu mengatakan apapun lagi. Sesungguhnya, dia sama sekali tidak ingin mengakhiri hubungannya dengan Indah. Bibirnya terasa berat hanya untuk mengatakan sepatah katapun. Otaknya benar-benar berfikir keras sekarang.
Apakah dia sanggup hidup tanpa wanita yang dia cintai ini? Apakah dia siap untuk menjalani hari-harinya seperti dulu, dimana setiap harinya selalu dia jalani dengan kehampaan? Indah adalah wanita yang mampu membuat hidupnya berubah dan membuatnya merasa jadi diri sendiri bahkan membuat hari-harinya menjadi lebih berwarna.
"Vin, kenapa kamu diam? Apa yang ingin kamu katakan? Apa kamu ingin mengakhiri hubungan kita?" Seperti sebuah pirasat baginya, tiba-tiba saja dia ingin menanyakan hal itu.
"Hah? Nggak ko, Ndah. Saya--" Kelvin tidak meneruskan ucapannya.
"Ada apa sebenarnya? Apa kamu sedang ada masalah besar? Katakan saja, Vin."
Kelvin menarik napas panjang lalu menghembuskannya secara perlahan. Dia pun memejamkan kedua matanya seraya mengusap wajahnya kasar. Kelvin akhirnya membuat keputusan, jalan apa yang akan dia ambil sekarang.
"Indah, kamu tahu saya cinta sama kamu?"
Indah menganggukkan kepalanya.
"Kamu percaya dengan kesungguhan cinta saya?"
Indah kembali menganggukkan kepalanya dengan kening yang dikerutkan.
"Saya akan jujur sama kamu tentang siapa saya sebenarnya, tapi sebelumnya saya ingin meminta maaf terlebih dahulu sama kamu karena saya sempat membohongi kamu selama ini. Saya sungguh tidak ada maksud apapun melakukan hal itu."
"Katakan saja ada apa yang sebenarnya. Jangan bertele-tele seperti ini." Indah mulai merasa kesal.
__ADS_1
"Sebenarnya, saya adalah putra dari seorang pejabat. Maaf karena baru mengatakan hal ini sekarang. Saya menyesal karena telah menyembunyikan identitas saya selama ini,'' lirih Kelvin menundukkan kepalanya penuh penyesalan.
"Apa? Jadi tebakan aku selama ini benar? Selama ini kamu selalu mengelak dan mengatakan bahwa kamu hanyalah pegawai sipil biasa. Keterlaluan kamu, Vin."
"Saya minta maaf, Ndah. Saya gak bermaksud untuk membohongi kamu, sayang."
"Gak bermaksud gimana? Jelas-jelas sebelum kita pergi tadi aja, aku sempat bertanya tentang pekerjaan kamu, tapi apa? Jawaban kamu sama, kamu bilang bahwa kamu hanyalah pegawai biasa. Apa itu namanya, kalau bukan berniat membohongi aku?''
"Saya minta maaf, Ndah. Ada masalah lain yang lebih penting dari itu sekarang. Saya harap kamu mau mendengarkan masalah yang akan saya katakan ini.'' Kelvin meraih pergelangan tangan Indah lalu menggengam erat jemarinya.
Indah menundukkan kepalanya. Dirinya tidak tahu apa yang akan dia lakukan sekarang. Apakah gadis biasa saja seperti dia pantas menjadi kekasih apalagi menjadi istri dari putra seorang pejabat? Apakah orang tua Kelvin akan menerima dia sebagai menantunya?
'Tidak, rasanya hal itu mustahil terjadi,' (batin Indah.)
"Indah, saya cinta sama kamu."
"Memang, Daddy memang tidak menyetujui jika saya menikah dengan kamu, tapi--"
"Nah 'kan? Jelas sekarang, hubungan kita gak akan berhasil kedepannya."
"Dengarkan dulu apa yang akan saya ceritakan sama kamu.''
Indah memalingkan wajahnya. Rasa kecewa memenuhi relung hatinya kini. Namun, rasa cintanya kepada pemuda ini lebih besar di bandingkan dengan rasa kecewa yang baru saja dia terima. Dia pun menyadari hal itu akhirnya.
"Katakan, aku akan mendengarkannya. Aku harap tidak ada lagi kebohongan di antara kita kedepannya. Untuk kali ini, aku memaafkan kamu, Vin, tapi tidak untuk lain kali," jawab Indah menoleh dan kembali menatap wajah Kelvin.
__ADS_1
Kelvin menceritakan semua kisah hidupnya. Dari A sampai Z tidak ada satupun yang terlewatkan. Bahkan, mengenai dirinya yang dijidojohkan dengan putri Presiden pun dia katakan jujur tidak di tutup-tutupi sedikitpun.
Indah menundukkan kepalanya merasa dilema. Apakah dia sanggup bersaing dengan Evelyn yang merupakan putri seorang Presiden? Rasa rendah diri kembali menyelimuti hatinya kini. Rasa ragu pun seketika mengusik hati seorang Indah.
"Apa yang akan kamu lakukan sekarang? Apa kamu akan menerima perjodohan itu? Lalu, bagaimana dengan aku? Bagaimana dengan janji manis kamu yang katanya akan bertangungjawab dan menikahi aku, Vin?'' Indah mulai terisak.
"Saya gak tau, Ndah. Saya bingung, saya gak ingin hubungan kita berakhir, tapi saya juga tidak mau kamu dan Mommy celaka. Daddy gak pernah main-main dengan ancamannya. Dia itu laki-laki jahat, saya heran kenapa manusia jahat seperti dia bisa menjadi abdi negara,'' jawab Kelvin yang juga merasa dilema.
Keheningan pun seketika tercipta. Malam yang semula terasa indah berubah mencekam. Perasaan yang semula bahagia kini dipenuhi rasa dilema. Baik Indah maupun Kelvin larut dalam pikiran masing-masing kini. Keduanya tidak tahu harus mengambil keputusan apa sekarang.
Untuk mengobati rasa gundah di dalam hatinya. Kelvin lebih memilih untuk memeluk tubuh Indah kemudian. Dia mendekap erat tubuh gadis itu dan berharap bisa mendapatkan ketenangan.
Indah pun balas memeluk tubuh kekar itu. Air matanya tidak berhenti bergulir merasakan sesak di dadanya. Apakah ini adalah akhir dari perjalanan cintanya dengan pemuda bernama Kelvin Alamsyah?
'Aku cinta sama kamu, Vin. Tapi, perjalanan cinta kita gak akan pernah berhasil kedepannya. Pada akhirnya aku akan tetap kehilangan kamu juga nantinya. Bukankah lebih baik jika kita mengakhiri hubungan kita sekarang?' (batin Indah.)
"Kelvin, aku cinta sama kamu. Sangat, aku sangat-sangat mencintai kamu. Tapi--"
"Tapi apa, Ndah? Kamu gak berniat untuk mengakhiri hubungan kita 'kan?" Kelvin mulai mengurai pelukan.
"Maafkan aku,'' lirih Indah menundukan kepalanya penuh penyesalan.
BERSAMBUNG
...****************...
__ADS_1
PROMOSI NOVEL