
"Astaga, kenapa saya bisa melupakan hal itu. Gimana caranya agar kamu bisa keluar dengan selamat dari rumah ini tanpa ketahuan Daddy?" ucap Kelvin akhirnya tersadar.
"Nah 'kan? Makannya jangan sibuk pacaran terus, jadi lupa 'kan sama keselamatan pacar sendiri?" Ledek Jerry tersenyum cengengesan.
"Daripada Abang udah tua gak punya pacar. Jadi perjaka tua 'kan akhirnya."
"Eit, siapa bilang Abang gak punya pacar? Gini-gini Abang juga punya pacar lho. Belum sempat Abang kenalin sama kamu karena Abang ada di luar negeri selama ini. Nanti deh, kalau ada waktu Abang bakal kenalin kamu sama pacar Abang itu.''
"Bagus deh. Saya gak sabar ingin segera ketemu sama wanita yang telah berhasil menaklukan hati Abang saya yang tampan ini.''
"Tumben bilang tampan segala, pasti ada maunya. Iya 'kan?"
"Hehehe! Abang memang kaka yang paling pengertian deh."
"Apa, apa? Katakan kamu ingin Abang melakukan apa? Bilang aja.''
"Bantu saya ngalihin perhatian Daddy, biar saya sama Indah bisa keluar dari sini dengan selamat,'' reneng Kelvin dengan nada suara manja.
"Hmm ... Sepertinya akan sulit Vin.''
"Abang! Abang 'kan banyak akal, buktinya Abang bisa bawa Indah ke sini tanpa ketahuan sama Daddy."
"Siapa bilang, kami beberapa kali kepergok sama Daddy. Iya 'kan Indah?''
Indah yang bediri tepat di samping Kelvin pun menganggukkan kepalanya.
"O ya? Apa Daddy sama sekali tidak mengenali kamu, sayang?" tanya Kelvin mengalihkan pandangannya kepada Indah sang kekasih.
"Mana mungkin Tuan Mentri ngenalin aku, kami sama sekali belum pernah ketemu sekalipun ko," jawab Indah.
__ADS_1
"Mana mungkin Daddy gak ngenalin kamu. Jelas-jelas Daddy pernah menyuruh orang untuk mengikuti saya dan sempat memotret kebersamaan kita. Dia juga pernah melihat kamu dari dalam mobil waktu itu."
Jerry dan juga Indah seketika saling menatap satu sama lain. Keduanya nampak heran, karena jelas-jelas Tuan Alamsyah sama sekali tidak mengenali Indah saat mereka berpapasan tadi. Apa mungkin Tuan Alamsyah hanya berpura-pura tidak mengenali Indah?
Berbagai pertanyaan pun menyelimuti hati mereka bertiga. Indah seketika merekatkan lingkaran tangannya di pergelangan tangan Kelvin merasa ketakutan. Tentu saja Kelvin segera menggegam erat jemari Indah mencoba untuk menenangkan.
"Tenang, sayang. Tidak ada yang akan berani menyakiti kamu. Ada saya di sini,'' lembut Kelvin berusaha untuk menenangkan.
Ceklek!
Pintu pun di buka secara tiba-tiba, tentu saja hal itu membuat ketiganya merasa heran karena setau mereka, pintu tersebut sudah di kunci. Bagaimana caranya pintu bisa di buka begitu saja? Tiga orang pria berpakaian hitam masuk ke dalam kamar dan berdiri tepat di samping Indah kini.
"Nona Indah, Tuan besar ingin bertemu dengan Nona di ruangannya," ucap salah satu pria bertubuh besar.
"Apa yang kalian lakukan?" Kelvin tentu saja berdiri tepat di depan Indah kini.
"Maaf Tuan Muda. Tuan besar berpesan agar anda jangan berani-berani keluar dari dalam kamar ini. Beliau juga berjanji kalau beliau tidak akan menyakiti Nona Indah.''
"Tenang, Vin. Tenang! Kendalikan emosi kamu, ingat kita masih dalam keadaan berduka," Jerry mencoba untuk menenangkan.
"Gimana saya bisa tenang? mereka mau bawa Indah. Kalau Indah sampai kenapa-kenapa gimana?''
"Kita ke sana sama-sama, Abang yang telah membantu Indah sampai ke sini, jadi Abang juga akan bertanggung jawab. Abang akan menemani kalian berdua, kita hadapi Daddy sama-sama, oke?" Jerry memasang badan untuk adik dan juga calon adik iparnya.
"Tapi, Bang. Saya takut kalau Daddy akan menyakiti Indah."
"Gak akan, Daddy sama sekali gak akan berani melakukan hal itu, apalagi kalau dia sampai mencelakai Indah. Kamu percaya sama Abang."
"Aku takut, Vin. Melihat wajah Pak Mentri saja membuat bulu kuduk aku merinding," rengek Indah, wajahnya terlihat pucat pasi juga keringat yang membasahi pelipis wajahnya kini.
__ADS_1
"Hahahaha! Meskipun dia seorang Mentri negara ini, tapi dia tetap manusia Indah. Kamu gak usah khawatir. Ada calon Kakak ipar kamu di sini," celetuk Jerry mencoba untuk menghibur.
"Gak usah, saya bisa melindungi pacar saya sendiri," gumam Kelvin masih saja merasa cemburu.
"Astaga! singkirin dulu rasa cemburu kamu itu, Kelvin Alamsyah.''
Ketiga laki-laki yang diutus oleh Tuan Alamsyah nampak mulai jengah dengan perdebatan mereka. Salah satu dari mereka pun tiba-tiba saja meraih pergelangan tangan Indah dan menariknya dengan sedikit kasar. Tentu saja hal itu membuat Kelvin merasa tidak terima.
"Silahkan ikut dengan saya Nona Indah." Pintanya kasar.
"Hey, jangan berani-berani menyentuh calon istri saya ya!" ketus Kelvin lalu menarik tubuh Indah dan menepis tangan kekar laki-laki itu dengan cara yang kasar pula.
"Tenanglah, kami akan ikut dengan kalian. Jangan kasar begitu dong," pinta Jerry membulatkan bola matanya.
"Silahkan kalian semua ke ruangan Tuan besar kalau begitu.''
Mereka bertiga akhirnya tidak punya pilihan lain selain mengikuti semua yang di perintahkan oleh sang ayah. Kelvin berjalan dengan bergandeng tangan bahkan sesekali mengusap punggung tangan kekasihnya itu yang mulai terasa dingin.
'Mari kita hadapi masalah ini bersama-sama, saya akan melindungi kamu dengan segenap jiwa raga saya, Indah.' (batin Kelvin.)
Ceklek!
Pintu ruangan kerja sang ayah pun di buka, Kelvin dan juga Indah masuk ke dalam sana begitupun dengan Jerry sang Kaka.
Apa yang akan terjadi selanjutnya? Nantikan bab selajutnya.
bersambung
Promosi Novel
__ADS_1
...****************...