Hati Pengganti

Hati Pengganti
Part 1


__ADS_3

Dengan senyum penuh bangga dan puas "Eugina Natali" melihat namanya berada diurutan ke tiga pengumuman masuk perguruan tinggi melalui jalur khusus beasiswa. Masih senyum diwajahnya penuh dengan bahagianya menjadi salah satu mahasiswi kampus swasta yang terbilang punya nama dikota Bandung melalui jalur beasiswa. Perjuangan serta tekatnya untuk kuliah tidak membohongi hasil. Ahirnya dia pun diterima dengan beasiswa penuh.


Eugi menikmati kebahagiaan itu sendiri karena keberadaannya di kota itu hanya sebatang kara. Semenjak umur 5 tahun ayahnya meninggal karena kecelakaan mobil, semntara ibunya menyusul satu tahun kemudian karena sakit kanker darah yang dideritanya. Hidup sebatangkara, melanjutkan hidupnya dipanti asuhan.


Dua tahun sudah setelah kelulusannya dari jenjang SMA, Eugi memutuskan untuk keluar dari panti untuk hidup mandiri, selama itu juga dia berada dikota yang menjadi harapan masa depannya.


Cahya, sosok yang pertama mendengar kabar kelulusannya.


"Gue lulus diurutan ke 3 Ca..." ucapnya antusias melalui panggilan diponselnya.


"Wahhh selamat ya Gi. Artinya loe beasiswa penuh. Artinya lagi..."


"Loe kebanyakan arti Cahya" sambar Eugi sebelum sahabatnya itu melanjutkan kalimatnya.


"Gue otw nih. Cerita lengkapnya ntar aja ya" Eugi langsung mematikan telponnyaa. Kebiasaan yang sudah mendarah daging seenaknya matiin telpon.


Jam istirahat siang yang dia gunakan kabur untuk melihat pengumuman ga lama lagi akan berakhir. Artinya dia harus segera tiba di tempat kerjanya sebelum bosnya ceramah selancar jalan tol yang bebas hambatan.


Meski jam istirahat masih beberapa menit lagi, wajah bosnya yang dingin terkesan jutek sudah menyambutnya di pintu depan.


"Darimana kamu? Tumben jam istirahat keluar?" Cegatnya didepan pintu masuk


"Ada keperluan pak"


"Keperluan apa?" Tanya Anggara kepo.


"Kepo banget sihhh" lirih Egi yang meski pelan tapi sepintas didengar Angga


"Kamu bilang apa barusan?" Mata Angga mulai melotot.


Dengan wajah tak bersalah gadis itu malah cengengesan.


"Maaf pak, sedikit keperluan aja" Eugi masih menutupi memberi alasan.

__ADS_1


"Saya masuk dulu pak" pamit Eugi sebelum bosnya itu mengeluarkan berbagai pertanyaan lebih banyak lagi.


Anggara memang seorang yang tegas, disiplin soal waktu, tak ada toleransi baginya semasa masih dalam jam kerja. Tapi diluar urusan pekerjaan Anggara bisa berubah 360 derajat menjadi sosok yang ramah, dan sangat bersahabat. Pria 27 tahun itu benar-benar seperti bunglon yang berubah sesuai habitatnya.


Eugi disambut dengan Cahya yang masih penasaran berita kelulusannya.


"Wahhh keren loe Gi. Ga sia-sia usaha loe belajar disetiap ada kesempatan." Sambut Cahya turut bahagia.


"Iya Ca... tapi artinya gue harus mempersiapkan pengunduran diri"


"Coba loe omongin sama pak Angga, siapa tau bisa diatur. Loe kan pasti butuh buat biaya hidup Gi."


"Loe tenang aja Ca. Gua percaya pasti ada jalan kok" Eugi berusaha menjelaskan pada kekuatiran sahabatnya itu.


Lirikan mata Angga membubarkan obralan mereka. Eugi beranjak menuju meja kasir yang hari ini menjadi tanggung jawabnya.


***


Dikamar kosnya Eugi mulai memikirkan rencana sebelum perkuliahan dimulai dalam tiga bulan kedepan.


Pekerjaan freelance menjadi pilihan Eugi. Beberapa minggu yang lalu dia mendapatkan tawaran menjadi guru private, yang artinya waktu kerja bisa diatur. Mungkin mempunyai 4 atau 5 anak les private lumayanlah bisa membantu keuangannya.


Drrtttt...


Suara getar ponsel membuat Eugi beranjak dari depan laptop yang rencana membuat surat pengunduran diri. Meski hanya bekerja disebuah cafe, manajemen ditempatnya bekerja lumayan ketat.


"Iyaaa yank..." Eugi menyapa menggeser tombol hijau sambil senyum disudut bibirnya setelah melihat yang foto profile yang ada dilayar ponselnya.


"Gimana tesnya?" Suara disebrang yang ga lain adalah kekasihnya Arga yang masih dikota asalnya mengingat hari ini adalah pengumuman tesnya.


"Akuuu...aakuu...aku lulus yank..."


Diluar apa yang diharapkan Eugi, Arga malah terdiam tak membalas.

__ADS_1


"Sayanggg...kamu masih dengar aku kan?"


"Ya udah, selamat ya..." ucap Arga tak bersemangat


"Abang ga bahagia Eugi lulus?" Tanya Eugi hati-hati merasakan ketidaksenangan Arga


"Bukan ga bahagia, cuma abang berfikir bagaimana dengan hubungan kita jika kamu akan stay disana dalam waktu yang cukup lama. Apakah selamanya akan LDR seperti ini. Orang tua abang sudah mendesak, kalo Abang ga segera membawa calon mereka akan menentukan pilihan."


Eugi terdiam mendengar keluhan Arga yang secara tidak langsung menuntut padanya.


"Abang sudah menyiapkan segalanya buat kamu, bahkan setelah menikah abang sudah menyiapkan untuk kamu kuliah. Tapi disini bukan berjauhan seperti ini."


"Doa abang sebenarnya biar Eugi ga akan lulus, karena melarang untuk ikut tes sama aja membatasi privasi Eugi."


Eugi mulai gusar dengan kalimat-kalimat yang dilontarkan kekasihnya itu. Arga memang sudah cukup mapan meskipun dia tidak bekerja setelah menikah. Usia yang terpaut 6 tahun lebih tua darinya membuat Arga sudah dalam kemapanan, dan tuntutan dari orang tua sudah mulai sering didengarnya.


"Apa abang sudah menyerah dengan hubungan kita?"


"Bukan menyerah sayang, tapi semua keputusan ada di Eugi.


Kembali Arga membebankan keputusan ada ditangan Eugi.


Obrolan terputus karena memang belum menemukan titik tengah. Arga mengharapkan Eugi pulang dan menikah dengannya. Sedangkan mimpi-mimpinya baru saja mulai menunjukkan kecerahan.


"Apa aku terlalu egois mementingkan diri sendiri?" Batin Eugi


"Tapi kesempatan ga akan datang dua kali. Banyak orang mengiginkannya dan aku sudah mendapatkannya"


"Tapi bagaimana dengan Arga?"


"Apa yang akan terjadi dengan hubungan yang sudah bertahun-tahun mereka jalani?"


"Bukankah menikah adalah goal dari hubungan ini?"

__ADS_1


Berbagai macam pertanyaan muncul dibenaknya, membuat fikirannya kacau. Pria yang sangat dia cintai sudah mulai mempertanyakan nasib hubungan mereka.


Gadis itu mencoba memejamkan mata, berdoa dalam hatinya untuk keputusan yang terbaik buat semua.


__ADS_2