Hati Pengganti

Hati Pengganti
Part 29


__ADS_3

Setelah beberapa hari terahir disibukkan dengan segala persiapan yang cukup menguras tenaga dan fikiran, hari ini Eugi duduk memandang pantulan dirinya dicermin yang sudah siap untuk mengikat janji sehidup semati dengan Arga laki-laki yang sudah mengikat hatinya.


"Polesan terahir" ucap sang MUA sambil menyemprotkan sentuhan terahir diwajahnya.


"Perfect!!! Look so beautiful baby. Pak Arga akan klepek-klepek melihat calon istrinya kayak Cinderella gini"


"Mbak bisa aja"


"Beneran cantik sayang. Tanpa perlu dempulan tebal, wajah kamu memang sudah cantik dari Sononya."


Eugi hanya tersenyum menanggapi ucapan sang MUA.


"Euigiiii..."


Teriakan yang sangat tidak asing ditelinga Eugi.


"Kamu cantik bangettt..." Cahya


"Ahirnya loe datang." Ucap Eugi sambil merentangkan tangannya menyambut sang sahabat yang sudah seperti saudara baginya.


"Gue gugup Ca..." ucap Eugi dengan beningan Cristal yang ada disudut matanya


"Eittthhh... no no no. make up luntur non!"


"Gue bahagia tapi ada sedikit kesedihan. Seandainya nyokap bokap gue masih ada. Seandainya ada mama dan papa Bang Arga"


"Sayangku, bersyukur adalah salah satu cara melegakan hati loe. Jalani yang ada didepan mata loe saat ini. Kasih sayang dan cinta Arga begitu besar buat loe. Jangan terlalu Maruk loe mau semuanya. Anggap saja Tuhan lagi menguji kesabaran loe."


"Makasi Ca... Loe selalu ada buat gue. Tapi tumben loe bijak hari ini?" Tawa Eugi keluar membuat Cahya manyun.


.


.


.


"Eugi, apa kamu sudah siap nak?"


Suara pak Santo, ayah Cahya yang sudah seperti ayahnya yang akan menjadi walinya datang untuk menjemputnya dan membawanya ke altar yang akan menjadi tempat mereka untuk diberkati.


Eugi menarik nafas dan membuangnya dengan perlahan.


"Siap pak"


Dengan rasa tegang menyelimuti dirinya menggandeng lengan pak Santo menuju ruangan yang penuh dengan mawar yang mendominasi sebagai hiasan. Wanginya semerbak memenuhi ruangan itu.


Arga tampak sumringah menunggu sang mempelai yang sedang menuju kearahnya. Lantunan lagu "A Thousand Years by Christina Perri" mengiringi langkah Eugi dengan perlahan.


...Heart beats fast...


...Colors and promises...

__ADS_1


...How to be brave?...


...How can I love when I'm afraid to fall?...


...But watching you stand alone...


...All of my doubt suddenly goes away somehow...


...One step closer...


...I have died every day waiting for you...


...Darling, don't be afraid...


...I have loved you for a thousand years...


...I'll love you for a thousand more...


...Time stands still...


...Beauty in all she is...


...I will be brave...


...I will not let anything take away...


...What's standing in front of me...


...Every breath...


...One step closer...


...I have died every day waiting for you...


...Darling, don't be afraid...


...I have loved you for a thousand years...


...I'll love you for a thousand more...


...And all along I believed I would find you...


...Time has brought your heart to me...


...I have loved you for a thousand years...


...I'll love you for a thousand more...


...One step closer...


...One step closer...

__ADS_1


...I have died every day waiting for you...


...Darling don't be afraid...


...I have loved you for a thousand years...


...I'll love you for a thousand more...


...And all along I believed I would find you...


...Time has brought your heart to me...


...I have loved you for a thousand years...


...I'll love you for a thousand more......


Arga menyambut tangan Eugi dengan wajah yang penuh cinta setelah Pak Santo menyerahkannya.


Suasana romantis, semua mata begitu kagum memandang kecantikan alami yang terpancar dari wajah sang pengantin.


Pernikahan yang tertutup, hanya dihadiri teman, sahabat dari kedua mempelai dan beberapa rekan bisnis Arga yang dekat dengannya. Tapi tidak mengurangi makna sakral dari pernikahan.


Angga yang hadir bersama Sarah tampak termangu memandang penghuni hatinya yang sekarang akan mengikat janji. Benar-benar dia harus iklas merelakan hatinya.


"Cantiknya Eugi alami banget ya Ngga, Arga benar-benar beruntung." celoteh Sarah


"Dan hatinya sangat baik" Sambung Angga tanpa melihat ke arah Sarah.


Dari awal Sarah sebenarnya sudah curiga dengan Angga. Sikapnya yang terkesan sangat peduli pada Eugi yang notabennya hanyalah sebagai karyawan biasa dicafenya. Beberapa kali jika sedang membicarakan soal Eugi selalu dengan sikap yang berbeda. Beberapa kali tampak kekeuatiran jika sedang membahas soal Eugi. Tapi Sarah mencoba tidak mempermasalahkan itu.


"Loe baik-baik aja Ngga?"


Angga hanya diam tanpa menjawab pertanyaan Sarah.


"Ngga, cerita sama gue kalo ada yang mengganjal dihati"


"Gue sudah iklas Sarah. Cinta ga bisa dipaksakan"


Dughhh...


Dugaan Sarah tidak meleset dengan sikap Angga. Perubahan yang sangat drastis dalam beberapa Minggu terahir. Bukan sosok Angga yang ceria, yang kocak. Angga lebih pendiam bahkan keputusannya mengelola perusahaan keluarganya merupakan satu keputusan yang luar biasa. Dan itu hanya untuk menutupi perasaannya yang tak terbalaskan dari seorang karyawannya sendiri.


***


Acara sakral cukup khikmat. Tampak Arga memberikan ciuman lembut dikening Eugi yang saat ini sudah SAH menjadi nyonya Arga Winata. Air mata kebahagiaan mengalir di pipi mulusnya, tapi senyum kebahagiaan tak luput menghiasi wajahnya.


Acara pemberkatan yang cukup menguras perasaan dilanjutkan dengan acara kebersamaan. Meski tidak acara yang besar tapi Eugi dan Arga cukup bahagia. Ucapan selamat dari para tamu undangan yang tidak begitu banyak cukup membuat wajah keduanya pegal karena harus menyambut ucapan demi ucapan dengan senyum diwajah keduanya.


"Selamat ya Gi" Ucap Angga berusaha mengkondisikan hatinya


"Pak Angga. Terimakasih sudah mau hadir ya pak. Maaf bukan acara yang besar" Eugi

__ADS_1


"Yang penting sudah SAH" balas Arga turut menyambut ucapan selamat Angga.


Ketiganya tersenyum bersama, bahagia, tapi bukan untuk Angga.


__ADS_2