
Menikah dengan Arga akan dengan mudah mengubah kehidupan dan status sosial seorang Eugi. Seorang pengusaha muda dan terlahir dari keluarga yang tajir melintir yang kekayaannya ga akan habis sampai 7 turunan. Tapi restu dari ibu Arga yang terlalu materialistis sangat sulit untuk menerima keadaan Eugi dan keluarga yang tergolong ekonomi sulit. Kehidupan glamour sang mama sudah membuat nyalinya ciut sebelum bertemu.
Masih berjuang untuk masa depannya sendiri. Merubah nasib dengan usahanya sendiri. Terlalu munafik memang, tapi itulah Eugi Natali dengan keras hatinya.
Ddrrtttt...
Suara getar disakunya mengalihkan fikirannya. Dan itu adalah sosok yang sedang ada difikirannya.
"Lagi apa sayang" suara Arga disebrang terasa ringan ditelinganya.
Pertanyaan yang sebenarnya dia sudah tau jawabannya. Karena jam itu sudah biasa Arga menelponnya.
"Baru selesai makan siang bang. Kamu udah makan?"
"Belum...barusan habis ada meeting"
Obrolan jauh dari hari-hari sebelumnya yang penuh tawa dan canda diwaktu bicara yang singkat. Kali ini Eugi seperti tidak bersemangat untuk cerita. Bahkan terkesan enggan untuk bicara.
"Sayang lagi sakit???" Ujar Arga sadar dengan sikap kekasihnya itu.
"Ga kok... telpon nanti aja ya, lagi ada kerjaan numpuk" Eugi beralasan untuk mengahiri pembicaraan.
Diluar kebiasaan Arga hanya mengiakan permintaannya.
Gadis itu mendesah berat. Hubungannya mulai berubah. Berat rasanya menjalaninya. Tak sadar air matanya datang tak diundang membasahi pipinya.
Suasana cafe yang cukup ramai lumayan meyita waktu dan mengalihkan fikirannya.
Dipintu masuk tampak Angga berjalan bersama seorang gadis yang sangat cantik. Kulitnya putih mulus terawat. Bahkan lalatpun bisa terpeleset jika berani menghinggapinya.
"Siapa perempuan itu? Paling kecengan baru" batin Eugi masih tetap fokus mengerjakan tugasnya.
"Dia bilang serius dengan kata-katanya kemarin tapi hari ini dia sudah menggandeng gadis lain bersamanya." Dasar Angga
"Gi... buatkan minum dan makanan kecil ya. Tolong bawakan keruanganku." Ucap Angga seraya berlalu dari hadapanku bersama gadis disampingnya.
Tanpa menunda aku menuju kitchen untuk menyiapkan yang diminta bosnya itu.
"Buat siapa tuh?" Selidik Cahya
"Buat bos loe dan tamunya"
"Tamu cewek apa cowok?"
"Kalo loe mau tau, nie loe aja yang bawain keruangan dia orang" Eugi menyodorkan nampan berisi ice coffe latte dan orange jus dan beberapa makanan ringan yang baru saja dibuatnya.
"Ogahhh gue, ntar malah di semprot sama tuh mahluk. Kan yang disuruh loe bukan gue..." Cahya menolak karena dia tau watak bosnya itu.
Eugi berlalu dari dapur menuju ruangan Angga yang tida terkunci rapat. Sehingga hanya degan dorongan satu kaki dia leluasa memasuki ruangan itu.
Meletakkan persis dihadapan masing-masing yang seketika diam saat menyadari kedatangan Eugi.
"Ada yang perlu lagi pak?" Eugi memastikan.
"Nggak Gi... makasi ya..."
__ADS_1
Kata-kata terimakasinya mengartikan Eugi harus keluar dari ruangan itu.
***
Larut dalam kesibukannya tak terasa jam sudah menunjukkan cafe harus tutup. Tapi masih ada satu mahluk yang masih betah disudut ruangan.
"Mohon maaf mengganggu, kita akan segera tutup" ucap Eugi sesopannya pada sosok yang masih berkutat dengan laptopnya.
Tanpa menjawab dia langsung menutup latopnya, memasukkan kedalam tas dan langsung meletakkan uang diatas meja dan beranjak pergi tanpa sepatah katapun.
"Isshhh sombong banget sieee jadi manusia..." gerutu Eugi sambil merapikan meja.
Mulutnya ga berenti mengumpat pelanggan yang tidak punya etika dan ga tau terimakasih itu meninggalkan ruangan cafe.
"Nasib jadi pekerja Gi, ga usah dimasukin dalam hati" suara Cahya mengingatkan melihat wajah sahabatnya itu berlipat tujuh.
"Kebangetan... meski orang kaya ga harus gitu kaleee..." umpatnya menggerutu masih dengan kekesalan.
Dua gadis itu masih dengan sabar menunggu angkutan umum yang akan membawa mereka ketujuan masing-masing. Satu tempat menunggu tapi yang mereka tunggu adalah dua angkot dengan tujuan yang berbeda dengan arah yang sama.
"Gue duluan Gi..." gadis itu langsung meloncat naik ke angkot yang sudah berhenti disisi kiri jalan.
"Dagghhh...sampai besok ya" Eugi melambaikan tangannya sambil setengah berteriak.
Ga lama angkot yang diantunggu pun menghampiri dan dia bergegas naik.
Ddrrtttt...
Eugi meraih ponselnya yang bergetar.
"Lagi dijalan bang, nanti aku telpon balik ya..." Dan itu adalah Arga
***
"Udah sampai kosan sayang..." suara disebrang menyapanya setelah panggilan terhubung.
"Iya bang..."
"Gimana harimu?"
"Sama aja kayak hari-hari biasanya. Nothing special untuk hari ini..."
"Hhhmm..."
"Gi... gimana soal pembahasan kita sebelumnya?" Ucap Arga hati-hati
Pertanyaan itu begitu sensitif ditelinga Eugi yang masih bergumul dengan perasaannya sendiri. Air matanya seketika menggenang dikelopak matanya dan jatuh dengan bebas dipipinya.
"Aku mundur bang..." suara Eugi parau menahan isaknya.
"Maaf aku belum bisa menjadi pacar yang baik buat kamu, aku masih ingin melanjutkan kuliah dulu. Ini adalah mimpiku bang."
"Hanya karena kuliah kamu korbankan hubungan yang sudah kita jalani selama ini. Abang kan sudah bilang, kamu bisa kuliah disini, dekat dengan abang, ga harus dikota berjauhan seperti ini. Emang disini ga ada universitas sebagus disana??? Atau ada penyebab lain kenapa Eugi ga bisa meninggalkan kota itu???" Suara Arga mulai terdengar putus asa dengan kecurigaannya.
"Mungkin memang abang aja yang punya keinginan hubungan ini serius sampai kejenjang pernikahan..." suara Arga melemah terdengar semburat kekecewaan yang sangat dalam.
__ADS_1
"Eugi sayang dan cinta sama abang. Eugi ga pernah main-main sama hubungan ini. Eugi ha..."
"Ga usah dilanjutin Gi, abang paham..." Angga menghentikan kalimat yang belum terlontar sepenuhnya.
"Maafin Eugi..." lirihnya menahan isak
Air mata semakin deras membasahi pipi Eugi. Matanya yang sudah membengkak menunjukkan rasa hatinya yang sedang tak menentu.
Tinggg...
Tinggg...
Tinggg...
Beberapa pesan masuk tak membuat Eugi segera beranjak dari dudunya...
Ddrrrtttt...drrrttt...
Getar yang menandakan panggilan masuk dan ternyata itu Angga
"Kamu dimana?"
"Dikosan..."
"Aku ada didepan, cepat keluar..."
Dengan langkah malas Eugi beranjak membersihkan wajahnya yang sangat kusut sehabis menangis dan menemui Angga.
"Ada apa malam-malam kesini mas?" Menyapa sosok Angga yang sedang bersandar disamping mobilnya.
"Dari tadi belum mandi juga?" Ucapnya menyadari pakaian Eugi yang masih sama dengan pakaian sewaktu kecafe.
"Cewek kok malas..." Angga menyentil jidat Eugi yang tertutup poni.
"Aauuugghhh... Sakit mas..."
"Biar ingat, kalo pulang kerja kudu langsung mandi dulu baru ngerjain yang lain..."
"Resee...ngapain kesini" Eugi mulai kesal dengan basa basi Angga.
"Dirumah bete, pengen main aja..."
"Duhhh...gue capek mau istirahat" ketus Eugi ingin berbalik meninggalkan Angga
"Eittthhh..." Angga langsung sigap menahan tangan Eugi
"Temenin mas dulu..."
"Kok ada ya jomblo akut yang nyebelin gini..." Eugi mulai melotot
"Ada yang mau ketemu kamu Gi... dia lagi otw ke tempat janjian
"Siapa...?"
"Hayoo ikut aja. Ini soal pekerjaan freelance buat kamu..."
__ADS_1
Mendengar kalimat terahir Angga membuat Eugi nurut meski Angga kesannya setengah memaksa untuk dia masuk kedalam mobil.
Dengan senyum sumbringah berhasil menculik Eugi, Angga memegang kemudi.