
Guyuran air yang cukup dingin mampu mengembalikan mood Eugi. Badannya terasa segar setelah ritual mandinya selesai.
Sambil merebahkan tubuhnya yang lumayan lelah Eugi meraih ponselnya dari dalam tas. Ada beberapa pesan dan panggilan tak terjawab dari Arga. Baru saja akan menelpon, Arga sudah menelponnya terlebih dahulu.
"Iya sayang...maaf tadi Eugi baru pulang, langsung mandi, jadi ga dengar suara telpon"
"Iya ga papa sayang. Udah makan?"
"Belum. Sebentar lagi, masih capek banget. Pengen rebahan bentar. Abang lagi dimana?"
"Ini baru pulang juga, tadi Abang langsung kekantor. Abang mau mandi dulu. Eugi makan dulu gih, sebentar Abang VC ya."
"Ya udah, Abang juga langsung makan malam dulu ya"
"Iya sayang, bye"
"Bye..."
Bahagianya tak bisa disembunyikan dari wajah Eugi. Lelah dan laparnya seakan hilang setelah mendengar suara kekasihnya. Harapan mereka sedang on the way. Eugi memejamkan mata, dalam bayangannya semua hal yang bahagia bersama Arga terpampang membuatnya tersenyum dalam mata tertutup.
***
Arga langsung turun setelah menyelesaikan ritual mandinya. Perjalanan panjang dan langsung menyelesaikan urusan kantor.
"Kapan nyampenya sayang?" tanya Laura sang mama
"Siang tadi ma. Arga langsung ke kantor"
"Gimana hasilnya, apa pertemuannya lancar?"
"Semua lancar ma. Oh iya papa kemana?"
"Papa ada pertemuan sama rekan bisnisnya"
"Loh, mama kok ga ikut. Biasanya nempel terus kayak perangko" canda Arga
"Mama tadi ada acara sama teman-teman arisan mama, makanya papa berangkat sendiri."
"Ohh..."
Hanya kata itu yang keluar, Arga mulai makan sembari memikirkan cara mengatakan niatnya akan menikahi kekasihnya Eugi. Karena dia yakin mamanya pasti menolak mentah-mentah niatnya itu. Mama Laura yang sangat matre dan sangat memilih untuk dijadikannya menantu. Selama ini mama Laura sangat menentang hubungan anaknya dengan Eugi yang notabennya hanya seorang yatim piatu dari kalangan bawah. Dia selalu mempermasalahkan bibit bobot tanpa memikirkan perasaan anaknya.
"Ma, sebenarnya ada yang ingin Arga sampaikan pada mama dan papa"
__ADS_1
"Soal apa?"
"Arga mau bukan kantor cabang di Bandung, itu yang pertama"
"Emang ada yang kedua?" selidik Laura melihat ada keraguan diwajah anaknya
"Arga mau menikah?"
"Apa? Menikah?" Raut wajah mamanya berubah
"Iya ma, Arga mau menikah dengan Eugi"
"Eugi lagi Eugi lagi, apa ga ada perempuan lain selain Eugi. Pelet apa yang sudah diberinya sampai kamu hanya ingin gadis itu"
"Arga cinta, Arga sayang sama Eugi ma. Sudah cukup Arga mengikuti segala kemauan mama, kali ini biarkan Arga dengan keputusan Arga sendiri"
"Ga bisa Arga, apa kata orang nanti?"
"Bodo amat dengan omongan orang ma. Keputusan Arga sudah bulat,Arga akan menikah dengan Eugi dengan atau tanpa restu mama dan papa."
"Ga bisa gitu dong Arga"
"Ma, selama ini sudah cukup Arga mengikuti maunya mama. Kenalan dengan si A Kenalan dengan si B, tapi apa? Tidak ada yang tulus ma. Semua mau sama Arga hanya karena melihat status sosial, semua hanya melihat harta. Dan Eugi bukan gadis seperti mereka. Dia itu tulus ga melihat hanya ada apanya pada Arga. Tapi dia mencintai Arga dengan apa adanya." Jelas Arga sedikit meninggi.
"Sangat yakin ma. Eugi bukan perempuan matre yang hanya melihat apa yang Arga miliki. Selama ini dia selalu menolak apa yang Arga berikan untuk menopang kehidupannya. Uang, fasilitas, semua tidak pernah dia terima."
"Itu kan salah satu cara menarik simpati kamu. Lihat saja kalo dia sudah mendapatkan kamu sepenuhnya, semua akan berubah" cibir Laura
"Jangan selalu menilai orang seperti itu ma. Apa orang-orang yang mama kenalkan pada Arga sudah cukup baik?" balas Arga masih berusaha tenang
"Jangan membandingkan mereka Arga. Mereka itu tidak selevel dengan Eugimu itu"
"Hhaahh..."
Senyum Arga cukup membuat mamanya kesal. Wanita itu semakin menunjukkan ketidaksukaannya dengan segala ocehan yang benar-benar menjatuhkan seorang Eugi.
Ditengah perdebatan ibu dan anak itu, sosok yang dipanggil papa oleh Arga muncul diantara mereka.
"Ada perdebatan apa ini!" Tanya papa mencari tau
"Arga ingin menikahi gadis bulukan itu pa"
"Arga?" papa masih menunggu penjelasan
__ADS_1
"Namanya Eugi Natali ma, bukan gadis bulukan" protes Arga
"Apa benar apa yang dikatakan oleh mamamu Ga?"
"Benar pa. Arga ingin melamar Eugi dan menikahinya"
"Apa kamu sadar dengan apa yang kamu katakan?" Papa Arga masih tampak santai.
"Ga bisa dong pa, mama tetap ga akan merestui"
"Arga sudah bilang ma, Arga sudah capek mengikuti mau kalian. Plis biarkan Arga dengan pilihan Arga sendiri."
"Ga akan. Sampai matipun mama ga akan merestui gadis bulukan itu"
"Sudah ku duga. Kalian seegois itu"
Arga melangkahkan kakinya menaiki tangga menuju kamarnya. Langkahnya terhenti dengan kalimat yang dilontarkan papanya.
"Boleh kamu menikahinya, tapi jangan harap mendapatkan bagian sepeserpun dari harta papa. Perusahaan, dan semua aset papa tidak akan berikan padamu. Bila perlu sekalian tanggalkan nama Winata yang melekat pada namamu"
Arga tau itu bukan hanya ancaman, papanya serius dengan ucapannya. Itulah seorang Bagas, berharap hal itu akan menciutkan niat anaknya.
Dengan senyuman yang mantab Arga menatap papanya.
"Bukan hal yang sulit. Terimakasih papa"
Arga memantapkan langkahnya menaiki anak tangga menuju kamarnya.
Sambil tersenyum simpul, dia membereskan barang yang akan dibawanya. Malam itu juga Arga ingin meninggalkan segala yang berbau Bagas Winata.
Tidak butuh waktu lama untuk Arga beberes. Dengan dua koper berisikan barang-barangnya menuju pintu keluar setelah menelpon asistennya untuk membawanya keluar dari rumah yang selalu memberikan tekanan padanya.
"Arga mau kemana?" cegat Laura
"Meninggalkan segala yang berbau Bagas Winata, Arga tidak bisa hidup dibawah kekangan kalian ma. Maafkan Arga sudah menjadi durhaka."
"Demi perempuan buluk itu kamu tega menentang orang tuamu Ga?" mama Laura mulai mewek
"Arga tidak menentang ma, cuma sudah cukup Arga mengikuti semua mau kalian. Untuk kali ini biarkan Arga memutuskan apa dan siapa yang terbaik buat menemani masa tua Arga nantinya."
"Biarkan dia pergi ma. Tidak perlu dihalangi. Palingan juga seminggu dua Minggu" ucap papa masih tenang
"Arga pergi ma, pa..."
__ADS_1
Tanpa memperdulikan panggilan sang mama, Arga keluar menuju mobil yang sudah menunggunya.