Hati Pengganti

Hati Pengganti
Part 34


__ADS_3

Langkah keduanya perlahan terhenti dengan tatapan sinis wanita didepan pintu apartemen mereka.


Arga menggenggam erat tangan Eugi yang mulai terasa dingin. Dia tau sang istri sangat tidak siap menghadapi yang ada didepan matanya.


"Oww... Jadi ini yang dibilang menantu keluarga Winata yang katanya punya akhlak yang luar biasa baik?" sinis Laura menatap Eugi dengan tajam.


"Untuk apa mama kemari?" Arga masih berusaha tenang


"Ini apertemen anak mama, salah kalo mama berkunjung"


"Bukankah kalian sudah menganggap saya bukan bagian dari keluarga Winata sejak malam itu?"


"Bang Arga ga boleh bicara seperti itu" lirih Eugi pelan


"Sekarang juga tinggalkan tempat ini sebelum saya memanggil sekurity nyonya Winata" ucap Arga cukup keras


"Jangan seperti itu bang. Gimana pun dia mama kamu" ujar Eugi.


Tanpa menghiraukan Laura sang mama yang sudah memasang wajah murka, Arga menarik Eugi memasuki apartemen tanpa menghiraukan teriakan mamanya yang memaksa untuk masuk.


"Bang, tolong kasi mama kamu masuk. Dia datang dari jauh loh. Kasian dia" Eugi masih Keukeh membujuk Arga.


"Kamu bilang kasian??? Jangan pedulikan dia"


"Tolong jangan seperti itu. Jangan membuat keluargamu semakin membenciku bang."


"Kenapa kamu masih bisa bersikap seperti itu sementara mereka tak pernah menghargai kamu? hah?" Arga sedikit frustasi dengan hati sang istri


"Demi Eugi, tolong buka pintunya dan ijinkan mama kamu masuk. Bicara baik-baik dengannya."


Sejenak memejamkan mata dan menghembuskan nafas berat Arga menuruti ucapan Eugi dan membuka pintu untuk mamanya. Sedikit kaget, karna mamanya tidak sendiri lagi. Ada sosok Melisa, sang adik yang tampak sedang bicara dengan mamanya.


"Bang Arga?"

__ADS_1


"Silahkan masuk dan saya mohon untuk tidak melakukan kekacauan dirumah saya" ujarnya dingin tanpa menjawab sapaan sang adik.


Melisa menarik tangan sang mama yang masih dengan kekesalan diwajahnya.


"Apa tujuan mama kemari?" tanya Arga to the point setelah ketiganya duduk.


"Bang Arga, kok keras gitu sama mama?" ujar Melisa yang tak tau persis detail permasalahan yang sedang dialami sang Abang.


"Kamu ga tau apa-apa Mel. Jangan ikut campur urusan Abang."


"Mama, apa maksudnya ini? Bang Arga sehat-sehat aja"


Wajah mamanya mulai tampak gusar. Dia sengaja menghubungi Melisa untuk pulang dengan alasan kondisi Arga yang sedang sakit keras. Hal itu berhasil membuat Melisa pulang.


Berhubung beberapa hari terahir ponsel Arga ga bisa dihubungi maka rasa kuatir terhadap sang Abang mematahkan egonya untuk pulang.


"Justru Memel kesini karena mama bilang kondisi Abang sedang tidak baik. Dan siapa perempuan itu? Kenapa mama sangat tidak menyukainya?" Pertanyaan Melisa yang biasa dipanggil dengan Memel.


Satu tahun dia bekerja fulltime, tahun kedua dia memutuskan bekerja sambil kuliah. Sampai ahirnya Melisa berhasil membuktikan jika dia bukan anak orang kaya yang hanya manja dengan segala fasilitas yang dimiliki orangtuanya.


Hampir 5 tahun dia meninggalkan kota kelahirannya. Dalam waktu itu juga pertentangan demi pertentangan yang Arga alami dalam keluarganya. Demi rasa hormat dan tidak mau dikatakan pembangkang Arga masih berusaha berfikiran positif dengan mengikuti segala kemauan orang tuanya selagi masih dalam batas dirasa tidak merugikan pihak mana pun.


"Perlu kamu tau Mel, kamu terlalu menikmati kehidupan kamu di Amerika sampai kamu benar-benar tidak paham bagaimana sifat orang tua kita yang terlalu egois ini"


"Apa ini maksud mama mengarang cerita agar aku pulang hah?" Melisa tampak marah pada sang mama


"Sayang, mama hanya ingin yang terbaik buat anak-anak mama. Mama ga ingin kalian salah mengambil keputusan dalam hidup. Cinta ga selamanya akan membuat kalian bahagia"


"Tidak usah berdrama ma, Aku kira mama sudah berubah, ternyata masih mama yang egois, mama yang ga peduli dengan hati"


" Yahhh, mama memang egois, mama memang bukan mama yang mengerti kalian, mama memang bukan mama yang baik, mama orang yang buruk dimata kalian, tapi apa pernah kalian berfikir apa yang mama rasakan, hah???" Laura tak kalah histeris dari Melisa


"Tapi bukan berarti mengorbankan anak-anak mama"

__ADS_1


dr"Oke, kalian selalu menganggap mama salah dan egois. Pernah nggak sekali saja kalian bertanya kenapa mama melakukan ini semua? Pernah ga???" wajah Laura yang memerah menunjukkan marah.


Kedua kakak beradik itu terdiam, melihat perubahan raut wajah sang mama. Termasuk Eugi yang duduk disamping Arga dengan perasaan tak menentu menyaksikan pertengkaran.


"Yahhh, mungkin mama egois kesannya memaksa kalian, mama ga punya hati tidak mau mengerti apa mau kalian. Mungkin karna..." ucapan Laura berhenti dan tampak ragu-ragu.


"Mungkin kalian harus tau kebenarannya."


"Kebenaran apa maksud mama?"


"Kalian memang anak-anak mama. Tapi kalian bukan darah daging mama"


Duggghhh...


Laura ahirnya mwngeluarkan fakta yang selama ini dia tutupi.


Untuk menutupi kenyataan pahit sebagai seorang istri sah yang 2x dihianati oleh sang suami sampai melahirkan dua orang anak.


Miris sekali nasib seorang Laura yang dulunya adalah gadis lugu dari keluarga sederhana. Keadaan merubah segalanya hingga dia benar-benar jengah dengan kehidupannya sendiri yang hidup dalam kepura-puraan.


"Mama dulu dari keluarga sederhana, menikah muda dengan papa kalian. Menikah tanpa cinta. Bisa dibilang dijodohkan demi membayar hutang keluarga. Mama tidak bisa memberikan keturunan hingga Oma Opa kalian sebegitu bencinya pada mama. Ahirnya satu waktu papa kalian membawa pulang seorang bayi laki-lagi dan itu cukup membuat mama terluka. Karena anak laki-laki itu adalah hasil perselingkuhan papa kalian. Sang ibu meninggal saat melahirkan. Mama berusaha iklas dan menerima karna kehadiran seorang anak adalah hal yang mama rindukan."


Isakan tangis dari Laura terdengar begitu memilukan. Hanya isakan itu yang terdengar. Eugi menggenggam tangan sang suami dengan erat. Ada getaran dalam dirinya yang tak terlepaskan.


Sama halnya dengan Melisa sangat terkejut dengan kenyataan yang barusan didengarnya. Masih ada ganjalan siapa dirinya karena dari penjelasan tadi, sang mama tidak bisa memiliki anak. Yang jadi pertanyaan, apakah hal yang sama terjadi padanya?


"Terlalu pahit untuk mama ceritakan semua kenyataan ini Arga. Semua yang mama perbuat, sikap mama, semua bertolak belakang dengan hati mama. Alasannya cuma satu, agar keluarga kita utuh. Mama melakukan semua perintah dan kemauan papa kamu. Semua demi kalian"


Tangis Laura semakin memilukan.


Eugi memberanikan diri mendekati wanita itu. Memeluknya dan memberikan kekuatan. Tanpa penolakan wanita separuh baya itu menumpahkan tangisnya.


Marah sedih bingung kecewa semuanya bercampur sampai kedua kakak beradik itu tak bisa berkata apapun. Diam dalam begitu banyak pertanyaan.

__ADS_1


__ADS_2