
Semenjak penculikan yang sempat dilakukan Angga yang membuka kembali trauma gadis itu benar-benar merubah suasana. Kekakuan diantara mereka seolah-olah dibentengi oleh tembok yang tinggi. Eugi hanya berusaha profesional yang berencana hanya menghabiskan sisa hari kerja setelah jauh sebelumnya dia sudah mengajukan surat pengunduran diri.
Pertemuan dicafe memberikan kecanggungan diantara keduanya.
"Selamat siang pak Angga" sapa Eugi yang berpapasan saat Angga akan memasuki cafe.
Untung Nesya tiba-tiba datang mencairkan kekakuan diantara mereka. Nesya langsung sok ramah menyambut kedatangan sang bos dengan alasan menjelaskan keadaan cafe. Kesempatan itu tak disia-siakan oleh Eugi untuk menghindar dari Angga.
***
Huugghhh...
Eugi menyandarkan tubuhnya disofa ruangan karyawan beristirahat setelah mendapatkan jatah istirahatnya. Rasa lelah lumayan membuat badannya terasa sakit.
Getaran ponsel di saku apronnya auto membuat tangannya bergerak meraih benda pipih itu. Bibirnya melengkungkan senyum setelah melihat si pemanggil.
"Iya sayang..." sapanya lembut
"Sudah jam istirahat kan?"
"Udah diangkat telponnya berarti lagi duduk diruang karyawan dan sedang meregangkan otot-otot yang kaku" Jelas Eugi membuat suara tawa terdengar disebrang sana.
"Udah makan?"
"Belum lapar bang, pengen istirahat aja dulu. Hari ini lumayan rame."
"Makan jangan ditunda-tunda. Nanti perutnya marah loh"
__ADS_1
"Sebentar lagi, habis telponan Eugi makan. Abang udah makan siang?"
"Udah, tadi ada meeting sama client sekalian makan siang."
"Ohh..."
"Kok ohh doang?"
"Ihh Abang ada-ada aja. Maksudnya apa coba?"
"Tuh kan ihh lagi..." canda Arga
Eugi hanya memanyunkan bibirnya sendiri.
"Kok diam?" tanya Arga yang tau kekasihnya lagi manyun.
"Iya maaf, Abang cuma becanda."
"Iya sayang, Eugi tau..."
"Sayang, kalo ga ada halangan dan urusannya sesuai jadwal kelarnya, lusa Abang akan ke Bandung. Kita akan selalu sama-sama." ucap Arga tiba-tiba serius
Dughhh
Jantung Eugi terasa bergetar. Yagh, rasa bahagianya mendengar apa yang Arga katakan membuatnya senang sampai-sampai detak jantung terpacu.
"Kok diam lagi? Eugi ga senang?"
__ADS_1
"Terlalu senang bang. Eugi ga bisa berkata-kata. Tapi..? Eugi tidak melanjutkan kalimatnya
"Tapi kenapa? "
"Apa keluarga Abang sudah setuju dengan semua rencana kita?"
"Jangan fikirkan itu. Yang terpenting kita menjalani dengan bahagia"
"Tapi restu orang tua itu penting sayang."
"Sayang, jika mereka peduli dengan kebahagiaan Abang, mereka akan mendukung apa yang menjadi pilihan hidup Abang. Selama ini Abang sudah mengikuti semua perintah dan kemauan mereka tapi bukan untuk urusan teman hidup Abang. Abang berhak menentukan siapa yang pantas mendampingi hidup Abang. Seharusnya mereka paham status sosial tidak akan memberikan kebahagian jika tidak ada cinta didalamnya. Eugi paham itu? Abang harap jangan meragukan keputusan yang sudah Abang buat." ucap Arga cukup panjang
"Maafkan Eugi bang. Eugi bukan meragukan Abang, tapi ingin rasanya mendapatkan restu dari orang tua Abang. Dimana Eugi tidak memiliki lagi orang yang akan memberikan restu pada Eugi"
"Sayang, kita akan bahagia. Jangan pernah berfikir sendiri. Abang janji akan menjaga Eugi sampai kematian memisahkan kita."
"Makasi bang, Eugi percaya sama kamu. Love you banyak-banyak"
Disebrang sana Arga tersenyum bahagia mendengar kalimat Eugi. Sama seperti yang dirasakannya bahagia tidak sabar menunggu hari pertemuan mereka.
"Ya sudah, Eugi makan siang dulu. Abang mau lanjutin kerja dulu. Nanti kita telponan lagi ya. Bye sayang"
"Iya sayang. Bye..."
Panggilan terputus dan Eugi masih tersenyum sendiri. Hatinya begitu bahagia. Tapi tidak dengan hati Angga yang sedari tadi memperhatikan dan mendengar segala obrolan Eugi dan Arga barusan.
Tidak sengaja menguping obrolan Eugi ditelpon yang cukup serius disaat dia baru keluar dari toilet tak sengaja melihat Eugi di dalam ruangan dari pintu yang tidak terlalu tertutup. Hatinya cukup bergetar mendengar ucapan-ucapan Eugi yang begitu mencintai Arga. Dan dengan berat hati kembali dia menelan pil pahit dengan kenyataan yang ada kalo Eugi bukan takdirnya
__ADS_1